Powered By Blogger

Jumat, 11 April 2014

Ida Moena Maulina: MENGINTIP PERKEMBANGAN GENERASI ACEH DI MASA DEPAN...

Ida Moena Maulina: MENGINTIP PERKEMBANGAN GENERASI ACEH DI MASA DEPAN...:       “ Aceh bumoe aulia, Aceh tanoh syuhada”. Mungkin itulah segelintir bait syair Aceh yang sering dilantunkan tetua Aceh dulu. Betapa...

MENGINTIP PERKEMBANGAN GENERASI ACEH DI MASA DEPAN


      “Aceh bumoe aulia, Aceh tanoh syuhada”. Mungkin itulah segelintir bait syair Aceh yang sering dilantunkan tetua Aceh dulu. Betapa tidak, Aceh adalah pusat perkembangan Islam pertama di Nusantara, dengan Kerajaan Pereulak dan Samudera Pasai nya. Aceh juga satu-satunya wilayah di Nusantara dengan peraturan daerah mengenai syariat Islamnya. Ini jelas membuktikan bahwa Islam tumbuh dengan baik di bumi Aulia ini.
Namun, seiring berkembangnya peradaban dan teknologi di dunia, Aceh ternyata juga kena getahnya. Generasi penerus Aceh semakin hari semakin memprihatikan. Akhlak dan moral sudah tidak lagi dikedepankan. Islam dianggap asing dan terpisah dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang tua berlomba-lomba bersaing menyekolahkan anaknya di sekolah ilmiah terhebat tanpa memperdulikan aspek spiritual yang seharusnya diajarkan sejak dini pada anak-anak penerus bangsa. Dewasa ini masih banyak diantara para orang tua yang khawatir dan tidak mempercayakan anaknya dengan lembaga pendidikan Islam seperti dayah atau pesantren-pesantren. Mereka beranggapan bahwa dayah/pesantren tidak akan memberikan masa depan yang cerah bagi anak-anak mereka. Mereka merasa malu jika anak mereka tidak bersekolah di sekolah-sekolah hebat atau tidak berprestasi di ilmu duniawi.
Kemudian, bicara pengaruh teknologi, salah satu contohnya adalah warnet atau warung internet yang kian hari kian menjamur di seluruh tempat di Aceh, dan konsumen terbesarnya adalah anak-anak yang seharusnya sedang giat menuntut ilmu pengetahuan dan agama. Warnet sudah layaknya rumah kedua bagi anak-anak tersebut, terutama bagi anak laki-laki, bahkan, ada yang rela bolos sekolah demi bermain PB atau poker istilahnya di Game online di warung internet tersebut.
Sebagaimana kita ketahui, Internet adalah pintu masuk ke seluruh informasi yang ada di dunia, semua hal yang kita ketahui dapat diakses dengan mudah melalui Internet, lalu tidakkah kita khawatir akan apa saja yang akan didapatkan anak-anak di Internet tersebut ? banyak hal yang seharusnya tidak boleh atau belum saatnya mereka ketahui, dapat dicari dengan mudah di internet terutama hal-hal yang berbau pornografi. Ini sangat merusak akhlak dan moral generasi bangsa ini, terutama Aceh. Maka, tidakkah kita khawatir dengan masa depan tanah ini ?
Bicara anak-anak penerus bangsa, berarti juga menyinggung peran keluarga dalam pola pengasuhan sang anak. Keluarga berperan penting dalam mengontrol kegiatan harian anak, apa yang anak lakukan, apa yang anak pelajari dan dengan siapa anak bergaul, sudah sepatutnya bagi orangtua untuk mengetahui hal tersebut. Jika keluarga terutama orang tua saja sudah tidak peduli dengan anak-anak mereka, lalu siapa lagi yang akan menjaga dan mengontrol perkembangan anak, lalu bagaimana nasib bangsa ini terutama Aceh jika para penerus masa depannya saja sudah tidak lagi layak untuk melanjutkan perjuangan pejuang-pejuang tanah air dulu ?
Maka, kenapa kita harus berpangku tangan saat banyak hal yang masih bisa kita lakukan ? it’s not too late untuk melakukan perubahan. Untuk para orangtua menjadi lebih dekatlah dengan anak-anak agar dapat mengontrol perkembangan yang terjadi, dan mengajarkan hal-hal yang berguna untuk anak karena keluarga adalah madrasah pertama bagi mereka. Dan untuk pemerintah, beberapa kebijakan seperti tidak menonton TV setelah magrib seperti yang sudah disosialisasikan mungkin akan membantu jika berjalan dengan efektif. Dan yang paling penting, untuk diri kita sendiri, berdayakan diri kita untuk melakukan perubahan pada ummat untuk masa depan generasi bumoe aulia ini.


Minggu, 07 April 2013

keseimbangan diet pada obesitas


A.     Keseimbangan diet pada Obesitas
1.      Pengertian
Obesitas tidak hanya berdampak pada medis, psikis dan sosial, tetapi juga erat hubungannya dengan kelangsungan hidup penderitanya. Menurut WHO, seseorang disebut obesitas bila BMI lebih dari normal atau diatas 25.0, BMI adalah suatu angka yang di dapat dari hasil berat badan dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam kuadrat. Menurut salah satu penelitian, tiap kenaikan berat badan atu unit BMI, dapat meningkatkan 4-5 % resiko mortalitas penyakit jantung koroner.
Walaupun berbagai factor berperan dalam timbulnya obesitas, yang paling perlu diperhatikan dalam timbulnya obesits lebih ditentukan oleh terlalu banyak makan, terlalu sedikitnya aktifitas atau latihan, berdasarkan hal tersebut diatas, setiap orang perlu memperhatikan banyaknya masukan makanan dan aktivitas fisik yang dilakukan.
Penelitian lain mengenai obesitas yyang dilakukan oleh Nature Medicine menunjukkan bahwa protein di dalam tubuh akan mempercepat metabolisme dan mencegah pertumbuhan bobot. Menurut peneliti dari universitas Florida di Gainesville, Amerika Serikat, makan akan mengaktifkan hipotalamus ( bagian otak yang member sinyal kenyang), 10 menit sesudahnya. Tetapi pada penderita obesittas, mekanisme ini tidak bekerja dengan baik sehingga mereka selalu makan dengan porsi yang jauh lebih banyak daripada orang yang tidak obesitas.
Manifestasi yang sering dijumpai pada obesitas antara lain hipertensi, penyakit arteria koroner, gagal jantung, diabetes melilitus, batu empedu, perlemakan hati dan keluhan sendi.
2.      Epidimiologi
Pada pria normal, rata-rata lemak tubuhnya adalah 12 %, sedangkan pada wanita muda sekitasr 26 %, pria yang memilki lemak tubuh lebih dari 20 % dari total beratnya akan dinyatakan obes. Sementara wanita akan dinyatakan obes bila lemak tubuhnya melebihi 30 % berat tubuhnya.
Di Indonesia, angka pasti penderita obes belum ada, secara epidimologis penderita obes lebih banyak dijumpai di daerah perkotaan.
Di Negara-negara maju, seperti Amerika serikat, dari survey yang dilakukan pada dewsa 20-74 tahun satu setengah daawarsa yang lalu didapatkan bahwa penderita obes dari kalangan wanita lebih banyak dari pria. Dan angka kejadian ada pria kulit putih lebih tinggi dibandingkan kulit negro.
3.      Faktor-faktor berperan dalam timbulnya obesitas
a.       Umur
Obesitas sering dianggap sebagai kelainan pada umur pertengahan. Anak-anak yang mengalami  obesitas cenderung menjadi orang dewasa yang obesitas
b.      Jenis kelamin
Obesitas lebih umum terjadi pada wanita terutama setelah kehamilan dan pada saat menopause. Pada saat kehamilan karena adanya peningkatan jaringan adipose sebagai simpanan yang akan diperlukan selama menyusui.
c.       Tingkat sosial
Di Negara-negara barat, obesitas banyak dijumpai pada golongan sosial ekonominya rendah, salah satu survey Manhattan menunjukkan bahwa obesitas dijumpai pada 30% pada kelas sosial ekonomi rendah, 17 % pada kelas menengah, dan 5 % pada kelas atas. Ini disebabkan krena keluarga yang tingkat sosial ekonomi rendah sulit membeli makanan yang mengandung kandungan protein tinggi. Obesitas yang dijumpai pada kalangan eksekutif atau usahawan, barangkali timbul karena makanan berlemak tinggi disetai penggunaan minuman beralkohol.
d.      Aktivitas fisik
Obesitas banyak dijumpai pada orang yang kurang melakukan aktivitas fisik dan banyak duduk. Di masa industry sekarang ini, dengan menigkatnya aktivitas mekanisasi dan kemudahan transportasi, orang cenderung kurang gerak atau menggunakan sedikit tenaga untuk aktivitas sehari-hari.
Dengan demikian, kurangnya pemanfaatan tenaga akan menyebabkan simpanan tenaga tidak banyak digunakan dan lambat laun akan semakin bertumpuk dan menyebabkan obesitas. Jadi memperbanyak aktivitas fisik sangat dianjurkan, diamping sudah disertai pengaturan diet.
e.       Kebiasaan makan
Obesitas sering dijumpa pada orang yang senang memaak dan bekerja di dapur, juga pada orang yang memilki kebiasaan makan malam.
f.       Factor psikologis
Factor stabilitas emosi dianggap berhubungan dengan obesitas, keadaan obesitas merupakan dampak dari pemecahan masalah emosi yang dalam, dan ini merupakan suatu pelindung penting bagi yang bersangkutan.
g.      Factor genetis
Bila salah satu orang tua obesitas, kira-kira 40-50 % anaknya akan menjadi obesitas, sedangkan bila kedua orang tuanya mengalami obesitas, 80 % anaknya akan beresiko mengalami obesitas. Ini ditentukan oleh kebiasaan makan dalam keluarga tersebut.   
4.      Factor-faktor penyebab obesitas
Sebab umum terjadinya obesitas adalah kelebihan intake kalori yang berlangsung lama, baik disertai atau tanpa disertai pengurangan penggunaan energy. Pertambahan intake kalorin ini bisa disebabkan :
a.       Patologik
Kegemukan yang dimulai sejak masa kanak-kanak akan mengakibatkan jumlah sel-sel lemak disamping penambahan isi sel lemak itu sendiri. Setelah masa pubertas, penambahan kalori yang tetap berlangsung akan mengakibatkan bertambahnya besar sel lemak. Oleh karena itu, penurunan berat badan pada golongan tersebut berbeda karena jumlah sel lemak tidak dapat diturunkan.
b.      Metabolic
1)      Resistensi insulin
Pada obesitas sering ditemukannya hiperinsulininemi disertai hiperglikemia, hal ini diduga karena resistensi insulin pada sel-sel target. Karena itu sering dijumpai adanya diabetes melilitus pada obesitas.
2)      Hiperlipoproteinimia
Total kolesterol tubuh meningkat akibat obesitas. Akibatnya, turnevor kolesterol juga meningkat menyebabkan eksresi kolesterol biliaris meningkat. Hal ini akan manaikkan angka kejadian pembentukan batu empedu.
c.       Pola makan
Orang-orang yang biasa makan pada waktu sore dan malam hari merupakan penyebab pertambahan intake kalori.
d.      Adanya gangguan regulasi di pusat hipotalamus
Pusat lapar terletak pada ventrolateral hipotalamus, sedangkan pusat kenyang terletak pada ventromedial hipotalamus. Dari pusat lapar akan dikirim isyarat ke korteks serebri. Dalam keadaan normal, isyarat ini akan dihambat oleh rangsangan yang berasal dari pusat kenyang karena pengaruh distensi lambung, plasma glukosa, dan insulin atau oleh pengaruh ketokolamin. Apabila terjadi gangguan pada rangsangan ini, maka akan terjadi makan yang berlebihan.
5.      Komplikasi
a.       Jantung dan pembuluh darah
-          Hipertensi
-          Penyakit arteri koroner
-          Kegagalan jantung
b.      Paru-paru
-          Sindrown pickwickian
-          Infeksi saluran pernafasan
c.       Endokrin dan metabolic
-          Diabetes melilitus
-          Perlemakan hati
-          Hipertrigliserida
d.      Saluran gastrointestinal
-          Kolelitiasis (batu kandung empedu)
-          Kolesistesis (radang kandung empedu)
e.       Tulang dan sendi
-          Osteoartitis
f.       Problem psikiatri dan sosial
6.      Panatalaksanaan
Prinsip pengobatan obesitas adalah mencegah komplikasi dan menurunkan gejala klinis yang timbul akibat obesitas. Yang kedua adalah pengobatan untuk menurunkan berat badannya.
a.       Diet
Diet bebas dengan kalori rata-rata 900-1700 kalori, ini biasanya pada penderita obesitas ringan.
b.      Diet rendah karbohidrat
Diet ini sangat efektif, karena dapat mencegah lipogenesis(pembentukan jaringan lemak), ini dapat diberikan pada penderita obesitas sedang.
c.       Olahraga
Tujuan latihan jasmani adalah untuk meningkatkan penggunaan kalori. Untuk aktivitas ringan dibutuhkan 1.5-2.0 kcal/menit, aktivitas sedang 3.5-7.0 kcal/menit, pada aktivitas berat 7.4 kcal/menit atau lebih.
d.      Pembedahan
Pembedahan dilakukan apabila indikasi jelas, misalnya pada morbid obesity atau malignant obesity.
7.      Cara-cara mengatasi obesitas
Cara memodifikasi prilaku makan dilakukan dengan dua prinsip :
-          Teknik control stimulus
-          Teknik control diri
a.       Teknik control system
Beberapa ahli berpendapat, teknik stimulus control terbukti efektif dalam mengontrol berat badan, langkah-langkah nya adalah :
1)      Batasi isyarat yang diasosiakan dengan makan
Usahakan tidak makan dambil menonton, membaca ataupun belajar.
2)      Batasi masukan makanan sebelumnya
Berbagai makanan yang disediakan di meja merupakan isyarat yang kuat untuk makan berlebihan.
Gunakan piring kecil sehingga porsinya kelihatan lebih banyak
3)      Hindari makan berlemak dan sediakan makanan yang tidak berlemak
Sediakan makanan rendah kalori, misalnya buah-buahan segar
4)      Gantilah proses makan
Makanlah dengan lambat sehingga porsi makanan yang dimakan berkurang
Telanlah sebelum mengambil suapan berikut
Kalau perlu, istirahat sebentar untuk merasakan kenyang
5)      Ubahlah isyarat fisiologis untuk makan
Banyak orang makan karena ada rasa kosong dan melilit, karena itu :
Makanlah makan rendah kalori sebanyak mungkin
Minumlah air putih sebanyak mungkin sebelum dan sesudah makan untuk menimbulkan rasa kenyang
Hindari nutrisi yang menimbulkan perubahan tingkatan gula darah, misalnya kopi, gula, roti ataupun mie.
6)      Susun isyarat sosial yang mendorong cara makan yang tepat
Usahakan makan bersama dengan seseorang yang membuat makan dengan porsi yang tepat
7)      Kembangkan respon yang tidak menggemukkan karena kekecewaan emosional
Banyak orang melaparkan dirinya makan berlebihan apabila sedang cemas, frustasi ataupun depresi
Minumlah air putih sebanyak mungkin
b.      Teknik control diri
1)      Teknik pemantauan diri
Individu diminta memantau prilakunya sendiri, misalnya meminta jumlah makanan yang dimakan dalam sehari untuk memudahkan seberapa banyak jumlah suapannya.
2)      Evaluasi diri
Evaluasi apakah makanan yang dimakannya sesuai dengan yang diinginkan
3)      Pengukuhan diri
Individu diminta memberikan pengukuhan apabila ia dapat mencapai apa yang diinginkannya.
c.       Mempromosikan penurunan berat badan sambil mempertahankan massa otot
1)      Diet
a)      Diet seimbang rendah kalori
Diet ini adalah pilihan terbaik pada individu dengan barat badan kurang dari 30% kelebihan berat dan diijinkan kehilangan sekitar 0-5 J kg/minggu. 1 kg lemak tubuh sama dengan sekitar 7000 kkal, jadi penurunan berat badan ini terwujud dengan mengkonsumsi kurang 500-1000 kalori dari kebutuhan total kalori yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energy sehari.
Untuk menghitung keperluan kalori :
1.      Tentukan berat badan ideal dalam kilogram
2.      Untuk memperkirakan kebutuhan kalori setiap hari untuk mempertahankan berat badan, kalikan berat badan ideal dalam kg dengan 20-25 kkal bila tidak ada aktivitas, atau kali dengan 30 kkal bila beraktivitas sedang, atau kali dengan 30-50 kali bila beraktivitas berat.
3.      Untuk menentukan kalori yang dibutuhkan untuk penurunan berat badan, kurangi 500-1000 kkal/hari dan kebutuhan kalori yang diperlukan untuk mempertahankan agar dapat hilang 0.5-1 kg/minggu secara berturut-turut, makan kurang dari 800 kkal/hari diangga diet sangat rendah kalori dan tidak harus digunakan, kecuali di bawah control dokter.
b)      Diet sangat rendah kalori
Diet sangat rendah kalori atau DSRK adalah menyiapkan hanya 400-800 kkal/hari. Aturan umum yaitu mengikuti diet sangat rendah kalori untuk 12-16 minggu, diikuti secara bertahap dengan makanan biasa lebih dari 3 minggu atau lebih lama. Pemasukan cairan nonkalori harus sedikitnya 2 liter/hari untuk mencegah dehidrasi. Diet ini dirancang untuk mencegah hilangnya massa otot, tetapi ada juga kehilangan massa otot selama periode ini. Karena itu penggunaan nya terbatas hanya pada orang yang sedikitnya kegemukan 30%. Obesitas yang berat tidak hanya mengandung lemak lebih banyak, tetapi juga massa otot lebih besar dibandingkan individu yang kurag gemuk. DRK ini baru bisa dijalankan setelah pasien mengalami pemeriksaan kesehatan termasuk elektrokardiogram, dan peserta diet ini juga harus mengikuti pemeriksaan elektrolit dengan dokter secara rutin. Diet tanpa supervise sering mengakibatkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, peningkatan asam urat, kelelahan hebat, pusing, dan sakit kepala.
c)      Mode diet
Diet yang menjanjikan kehilangan berat badan dengan cepat sangat popular. Sayangnya, diet ini cenderung bukan yang diinginkan karena hal-hal berikut : (1) makanan tidak cukup nilai gizinya, (2) mereka memerlukan makanan yang mahal atau persiapan makanan yang banyak memerlukan waktu, (3) biasanya makanan ini tidak aman untuk kesehatan, (4) cara ini tidak mengubah kebiasaan buruk makan seseorang, karena itu kehilangan berat berat akan segera kembali dengan cepat, (5) kebanyakan dari kehilangan berat ini adalah cairan atau massa otot di bandingkan lemak.

konsep stres adaptasi dan gangguan makan.doc



A.    Konsep Stress Adaptasi Menurut Stuart
Perawat psikiatri dapat bekerja lebih efektif bila tindakan yang dilakukan didasarkan pada suatu model yang mengenali keberadaan sehat atau sakit sebagai suatu hasil dari berbagai karakteristik individu yang berinteraksi dengan sejumlah faktor di lingkungan (Stuart, 2007, p.33)
Model stres adaptasi asuhan keperawatan psikiatrik pertama kali dikembangkan oleh Gail Stuart tahun 1983 yang kemudian dikembangkan lebih lanjut pada tahun 1995. Model ini mengintegrasikan komponen biologik, psikologik dan sosiobudaya dari asuhan keperawatan, yang dijabarkan seperti pada skema berikut.








FAKTOR PREDISPOSISI

Biologik                        Psikologik                   Sosiobudaya

                                                Stresos Presipitasi

Sifat                   Asal                                      Waktu                   Jumlah

                                       Penilaian Terhadap Stresor


Kognitif          Afektif                  Fisiologik                 Perilaku        Sosial
                                       Sumber – Sumber Koping


Kemampuan Personal        Dukungan Sosial      Aset Materi       Keyakinan Positif
                                               Mekanisme Koping
 

                                    Konstruktif             Destruktif
                                               Rentang Respon Koping

                     Respon Adaptif                        Respon Maladaptif
Skema 3.1 Komponen biopsikososial dari model stres Adaptasi
            Model yang utuh menggabungkan landasan teoritis, komponen-komponen bio-psiko-sosial, rentang respon koping, dan keperawatan yang dilandasi pada tahapan pengobatan pasien yang terdiri dari: peningkatan kesehatan, pemeliharaan, akut, atau kritis. (Stuart, 2007, p.33)
Stuart (2007) menyatakan bahwa, model ini terdiri dari komponen-komponen berikut:
1.      Faktor Predisposisi: faktor risiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibagkitkan oleh individu untuk mengatasi stres.
2.      Stresor Presipitasi: stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancaman, atau tuntutan dan yang memerlukan energi ekstra untuk koping.
3.      Penilaian terhadap stresor: suatu evaluasi tentang makna stresor bagi kesejahteraan seseorang dimana stresor mempunyai arti, intensitas dan kepentingannya.
4.      Sumber koping : suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang
5.      Mekanisme koping : tiap upaya yang diarahkan pada penatalaksanaan stres, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri.
6.      Rentang respon koping : suatu kisaran respon manusia yang adaptif ke maladaptif. Rentang respon koping merupakan subjek dari diagnose keperawatan yang juga mencakup masalah kesehatan actual yang mengarah pada diagnosa medis.
7.      Aktivitas tahap pengobatan : kisaran fungsi keperawatan yang berhubungan dengan tujuan pengobatan, pengkajian keperawatan, intervensi keperawatan dan hasil yang diharapkan.
B.     Konsep dan penanganan pada eating disorder (Gangguan Makan)
Pada kasus gangguan makan, gangguan makan biasanya mencakup anoreksia nervosa, bulimia nervosa, obesitas, dan muntah psikogenik.
The American Psychiatric Association (APA, 2000) Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition, Text Revision (DSM-IV-TR) mengidentifikasi ganggguan makan sebagai karakteristik dari masalah tingkat sedang pada perilaku makan. Dua gangguan yang teridentifikasi oleh DSM-IV-TR, seperti anoreksia nervosa dan bulimia nervosa.ds
1.      Rentang Respon Pengaturan Makan
Respon pengaturan makan berada dalam rentang positif hingga negatif,  mencakup respon yang adaptif hingga respon yang maladaptif, seperti yang disajikan dalam skema berikut:

Respon Adaptif                                                                               Respon Maladaptif


Pola makan            Kadang-                Makan                   Sering                 Anoreksia
seimbang,              kadang                  berlebihan              berpuasa             Bulimia
masukan                makan                    atau makan            dan sangat          Makan
kalori sesuai           berlebihan              cepat                      membatasi          sangat
berat badan           atau tidak              selama                   diit                      berlebihan
tubuh sehat            makan                    stres

Skema 2.2 Rentang respon pengaturan makan
a.       Pola makan seimbang, masukan kalori sesuai berat badan dan tubuh sehat, merupakan rentang respon positif dan adaptif dari respon pengaturan makan individu.
b.      Individu yang kadang-kadang makan berlebihan atau tidak makan, masih tergolong ke dalam respon makan yang adaptif.
c.       Makan berlebihan atau makan cepat selama stres, individu dengan kondisi seperti ini berada dalam rentang respon makan antara adaptif dan maladaptif.
d.      Sering berpuasa dan sangat membatasi diit, individu yang anorektik seringkali tidak makan lebih dari 500 sampai 700 kalori dalam sehari dan mungkin mencerna sebanyak 200 kalori, namun mereka merasa sudah memadai untuk kebutuhan energinya.
e.       Makan sangat berlebihan adalah menghabiskan makanan dengan jumlah yang besar dan dalam waktu singkat pada tenggang waktu tertentu, walaupun tidak ada suatu kesepakatan tentang berapa jumlah kalori yang masuk.
2.   Etiologi gangguan makan multifaktoral
a.    Faktor predisposisi
1)   Genetik
a)         Pravelensi (6-10%) pada saudara kandung
b)      Kembar monozigotik identik 50-60%
2)   Individual
a)      Masalah dengan seksualitas atau onset pubertas
b)      Harga diri yang rendah
3)   Keluarga
a)      Kelekatan
b)      Sikap protektif berlebih
c)      Kekakuan
d)     Kurangnya penyelesaian konflik
4)      Sosiokultural
a)      Peningkatan prevalensi gangguan makan sesuai dengan norma budaya perihal berat badan yang ‘ideal’ atau menarik berupa tubuh yang kurus
b)      Peningkatan prevalensi pada pekerjaan yang terkait dengan bentuk & berat badan seperti penari balet&peragawati
c)      Prevalensi lebih tinggi pada lingkungan dengan tekanan rekan, mis : sekolah asrama
5)      Neurotransmitter
a)      Terdapat abnormalitas noradrenalin, dopamin
b.   Faktor yang memperlama
1)   Fisiologis
a)      Keterlambatan pengosongan lambung menambah rasa kenyang
b)      Gangguan aksis hipotalamus-hipofisis
2)   Individual
a)      Penarikan diri secara sosial semakin menambah konsentrasi pada makanan dan berat badan
b)      Berat badan yang rendah memperkuat preokupasi pada makanan sehingga meningkatkan sensasi penguasaan diri saat membatasi makanan
c)      Keterkaitan antara prilaku makan berlebih dan muntah, masing-masing dengan rasa nyaman dan lega
3)   Keluarga
a)      Gangguan menyebabkan peran sentral yang kuat di keluarga
b)      Preokupasi pada gangguan dapat menjaga keutuhan keluarga
4)   Sosiokultural
a)      Lihat fakor predisposisi
c.    Faktor prespitasi
1)      Individual
a)Biasanya berawal dengan diet
2)   Pasangan/rekan sebaya
a)      Dapat berkomentar buruk mengenai penampilan
3)   Umum
a)      Dapat terjadi setelah peristiwa hidup yang sedih (Puri, Basant K. 2011.p.352)

3.      Penanganan pada gangguan makan
a.          Terapi individual
1)         Konseling suportif
2)         Psikoterapi analitik
3)         Terapi non-verbalm, mis : terapi seni, drama
4)         Terapi kognitif
5)         Terapi meningkatkan motivasi
6)         Terapi antarpersonal
b.         Terapi rawat inap
        Diindikasikan bila terdapat, :
1)   Berat badan menurun cepat
2)   Resiko bunuh diri
3)   Adanya bukti gangguan fisik yang membahayakan
   (hipotensi, disritmia)
c.          Farmakoterapi
1)      Pada bulimia nervosa, inhibitor ambilan ulan 5-HT fluoksetin digunakan untuk mengendalikan prilaku makan berlebih
2)      Antidepresan digunakan pada anoreksia nervosa bila depresi masih ditemukan setelah berat badan normal tercapai

d.         Penanganan cemas
1)      Membantu mengatasi panik yang terkait dengan makan &
     peningkatan berat badan
e.          Terapi prilaku
1)      Berikan penghargaan sesuai dengan penambahan berat badan
2)      Sering digunakan untuk rawat inap
3)      Dikritik karena bersifat memaksa
4)      Dapat merusak hubungan baik dengan pasien
5)      Mahal dan manfaatnya dalam jangka panjang diragukan
f.          Pendekatan edukasi
1)      Fokuskan perhatian pada tekanan sosiokultural yang menyebabkan gangguan makan
g.         Kelompok swadaya
1)      Berikan otonomi dan dukungan
2)      Berguna bagi kerabat
3)      Sumber rujukan edukasi yang berguna
h.         Psikoterapi kelompok
1)      Berguna untuk anoreksia dan terutama untuk bulimia nervosa
2)      Dapat bervariasi dan format yang lebih terstruktur
&langsung pada pendekatan analitik yang kurang terstruktur
i.           Upaya keluarga
1)      Lebih  baik daripada terapi suportif individual pada individu yang berusia lebih muda dengan gangguan lebih singkat
2)      Secara perkembangan, lebih singkat untuk pasien yang berusia lebih muda
4.      Anoreksia nervosa
a.       Pengertian
Anoreksia nervosa adalah suatu sindrom klinis dimana seseorang telah mengalami ketakutan untuk kegendutan yang abnormal. Ditandai dengan penyimpangan berat badan, keasyikan dengan makanan, dan penolakan untuk makan. Gangguan ini biasanya terjadi untuk wanita 12-30 tahun, jika tanpa intervensi apapun, kematian bisa terjadi. (Townsend, Mary C..2011.p.218)
Anoreksia nervosa Merupakan gangguan makan yang mengancam jiwa yang ditandai dengan penolakan atau ketidakmampuan klien untuk mempertahankan berat badan normal yang minimal, sangat takut berat badan akan bertambah atau menjadi gemuk, gangguan persepsi yang bermakna tentang bentuk atau ukuran tubuh, dan tetap tidak mampu atau menolak untuk mengakui keseriusan masalah atau bahkan untuk mengakui bahwa adanya masalah (DSM-IV-TR, 2000 dalam Videbeck, 2008, p. 615)
b.    Epidemiologi
Studi catatan kasus dan rekam medis rumah sakit di Inggris dan Amerika Serikat menunjukkan insidens untuk anoreksia nervosa antara 0.4 dan 4 per 100.000 per tahun. suatu survey penyaring dua tahap menunjukkan prevalensi anoreksia nervosa antara 0.2 dan 0.8% dengan pprevelansi yang lebih tinggi pada kelas sosial yang lebih tinggi. Suatu studi di Inggris tentang remaja putri menunjukkan prevalensi sebesar 1-2% dengan prevalensi yang lebih tinggi pada rremaja yang bersekolah di sekolah swasta. Selain mereka dengan diagnosis penuh,tambahan anga sebesar 5% pada survey ini menunjukkan gambaran anoreksia nervosa.
Rasio laki-laki : perempuan untuk anoreksia nervosa adalah 1:10, walaupun terdapat kesan bahwa insidens anoreksia nervosa pada pria sedang meningkat. Pada pasien prapubertas, rasio jenis kelamin, walaupun masih dominan pada perempuan,tidak terlalu banyak berbeda.
Anoreksia dilaporkan terjadi pada semua kelompok etnis,tetapi masih relative jarang peda kelompok non-Kaukasia. Anoreksia dianggap meningkat pada budaya seperti Jepang, yang semakin kebarat-baratan.
c.       Etiologi umum gangguan makan
1)   Faktor Biologi
Studi tentang anoreksia nervosa dan bulimia nervosa menunjukkan bahwa gangguan tersebut cenderung terjadi dalam keluarga. Oleh karena itu, kerentanan genetik mungkin muncul yang dipicu oleh diet yang tidak tepat atau stres emosional. Kerentanan genetik ini bisa dikarenakan tipe kepribadian tertentu atau kerentanan umum terhadap gangguan jiwa, atau kerentanan genetik yang mungkin secara langsung mencakup disfungsi hipotalamus (Halmi, 2000, dalam Videbeck, 2008, p. 619)
2)   Faktor Perkembangan
Awitan anoreksia nervosa biasanya terjadi selama masa remaja atau dewasa muda, dan diyakini bahwa beberapa penyebabnya berhubungan dengan masalah perkembangan pada tahap kehidupan ini. Perjuangan untuk mengembangkan otonomi dan pembentukan identitas yang unik adalah dua tugas yang penting pada masa ini. Sedangkan awitan bulimia nervosa adalah pada masa remaja akhir atau dewasa awal, dimana saat ini sering bertepatan dengan masa kuliah, mendapat perkerjaan baru, dan berpisah dengan keluarga inti baik secara fisik maupun emosional. Saat berpisah ini, perasaan ansietas dapat berkembang dengan mudah, sehingga cara untuk mengatasinya bisa dengan makan berlebihan, dan perilaku pengurasan dilakukan untuk menghindari kegemukan (White, 1993 dalam Videbeck, 2008, p. 621)
3)   Pengaruh Keluarga
Struktur keluarga klien yang mengalami anoreksia nervosa sering kali kaku dalam hal nilai dan perilaku, dan orang tua sering kali overprotektif terhadap anak. Kekakuan dan overprotektif ini dapat melumpuhkan usaha remaja untuk mencapai otonomi dan mengembangkan identitas sendiri. Sehingga, melakukan diet dan mengontrol berat badan dapat menjadi respon terhadap situasi tersebut di dalam keluarga (White, 1993 dalam Videbeck, 2008, p. 621)
Sedangkan keluarga klien dengan bulimia biasanya merupakan keluarga yang kacau, tidak memiliki batasan yang jelas di antara anggota keluarga, dan berorientasi pada pencapaian. Klien akan mengalami kesulitan dalam menentukan peran yang tepat, sehingga klien menenangkan dirinya dengan makan berlebihan dan diikuti oleh perasaan bersalah dan malu, karena kurangnya kendali, sehingga perilaku pengurasan dirasakan perlu untuk mengatasi perasaan bersalah dan mengeluarkan makanan yang tidak diinginkan (Videbeck, 2008, p. 621-622)
4)         Faktor Sosiokultural
Di Amerika Serikat dan negara Barat lainnya, media terus memunculkan gambaran “wanita ideal” sebagai orang yang langsing. Cantik, diinginkan dan sangat bahagia disamakan dengan langsing, suara bagus dan tubuh yang sehat, sehingga setiap individu akan berusaha menjadi seperti itu, khususnya wanita. Selain itu, tekanan dari orang lain juga dapat berpengaruh dalam perkembangan gangguan makan (Videbeck, 2008, p. 622)
5)      Pertimbangan Budaya
Baik anoreksia nervosa maupun bulimia nervosa tampak jauh lebih sering terjadi pada masyarakat industri, yang terdapat banyak makanan dan kecantikan dihubungkan dengan kelangsingan (Patel et al, 1998 dalam Videbeck, 2008, p. 622)
d.         Tanda dan gejala
1)      Takut gendut yang abnormal
2)      Menolak untuk makan mangatakan “aku tidak lapar”
3)      Preokupasi terhadap makanan
4)      Amenore
5)      Gangguan perkembangan seksual
6)      Perilaku yang berulang, seperti mencuci tangan berulang
7)      Perasaan depresi dan ansietas. (Townsend, Mary C..2011.p.218)
e.          Gambaran fisik
1)      Kejang
2)      Anemia
3)      Rambut lanugo di wajah dan badan
4)      Dehidrasi
5)      Abnormalitaskardiovaskuler aritmia,bradikardia,hipotensi, edema
6)      Amenore
7)      Pertumbuhan terhambat dan resiko osteoporosis dan fraktur
8)      Sirkulasi perifer yang buruk (Puri, Basant K. 2011.p.352)
f.             Awitan dan Proses Klinis
Anoreksia nervosa biasanya dimulai antara usia 14-18 tahun. Pada tahap awal, klien sering kali menyangkal mengalami ansietas yang terkait dengan penampilannya dan menyangkal bahwa ia mempunyai citra tubuh yang negatif. Klien merasa puas dengan kemampuannya mengontrol berat badan (Videbeck, 2008, p. 616)\
Ketika penyakit semakin parah, depresi dan kelabilan mood menjadi lebih jelas. Ketika perilaku diet dan kompulsif klien meningkat, klien mengisolasi dirinya dari orang lain. Isolasi sosial ini dapat menimbulkan ketidakpercayaan yang mendasar pada orang lain dan bahkan paranoia. Klien mungkin yakin bahwa teman sebayanya iri dengan penurunan berat badannya dan mungkin memandang keluarga dan profesional perawatan kesehatan mencoba membuatnya “jelek dan gendut” (Videbeck, 2008, p. 616)
Dalam hasil studi jangka panjang, tentang klien yang mengalami anoreksia nervosa, Zipfel, et all (2000) dalam Videbeck (2008) menemukan bahwa setelah usia 21 tahun, 50% klien benar-benar sembuh, 25% sembuh sebagian, 10% masih memenuhi semua kriteria anoreksia nervosa, dan 15% meninggal karena penyebab yang berhubungan dengan anoreksia. Klien dengan berat badan yang sangat rendah dan waktu sakit yang lebih lama cenderung lebih sering relaps dan mempunyai hasil terapi yang lebih buruk (Herzog et all, 1999, dalam Vedbeck, 2008, p. 616-617). Klien yang menyalahgunakan laksatif beresiko lenih tinggi mengalami komplikasi medis (Turner et al, 2000 dalam Videbeck, 2008)
g.         Penatalaksanaan
1)         Terapi
Klien dengan anoreksia nervosa biasanya sangat sulit diterapi karena mereka sering kali menentang dan tampak tidak tertarik dengan terapi disebabkan oleh penyangkalan mereka terhadap masalah yang mereka alami. Pilihan tempat terapi bergantung pada keparahan penyakit, seperti berat badan, gejala fisik, lamanya perilakumakan berlebihan dan pengurasan, dorongan untuk langsing, ketidakpuasan terhadap tubuh (White & Litivitz, 1998 dalam Videbeck, 2008, p. 623)
2)         Penatalaksanaan medis
Penatalaksanaan medis berfokus pada perbaikan berat badan, rehabilitasi nutrisi, rehidrasi, dan koreksi ketidakseimbangan elektrolit. Penambahan berat badan dan asupan makan yang adekuat paling sering menjadi kriteria untuk menentukan keefektifan terapi (Videbeck, 2008, p. 623)
3)         Psikofarmakologi
Beberapa kelas obat-obatan telah diteliti,tetapi sedikit yang menunjukkan keberhasilan secara klinis. Amitriptilin (Elavil) dan siproheptadin antihistamin (Periacitin) dalam dosis tinggi (sampai 28mg/ hari) dapat meningkatkan penambahan berat badan pada pasien rawat inap dengan anoreksia nervosa (Halmi, 2000; Peterson & Mitchell, 1999 dalam Videbeck, 2008, p. 623)
4)         Psikoterapi
        Terapi keluarga dapat bermanfaat bagi keluarga dari klien yang berusia kurang dari 18 tahun. Terapi keluarga juga berguna untuk membantu anggota keluarga menjadi partisipan yang efektif dalam terapi klien. Studi menunjukkan bahwa keluarga yang disfungsional dapat memerlukan waktu dua tahun untuk menunjukkan perbaikan fungsi (Gowers & North, 1999; North et al, 1997 dalam Videbeck, 2008, p. 623)
Terapi individual untuk klien anoreksia nervosa dapat diindikasikan pada beberapa keadaan, seperti jika keluarga tidak dapat berpartisipasi dalam terapi keluarga, jika klien lebih tua atau terpisah dari keluarga inti, atau jika klien memiliki masalah individual yang membutuhkan psikoterapi (Videbeck, 2008, p. 623)
5.      Bulimia Nervosa
a.    Pengertian
Sering juga disebut secara singkat sebagai bulimia, merupakan gangguan makan yang ditandai dengan episode makan yang sangat berlebihan yang berulang (minimal dua kali dalam seminggu selama tiga bulan) yang diikuti dengan perilaku kompensasi yang tidak tepat untuk meghindari penambahan berat badan (Videbeck, 2008, p. 617)
Bulimia Nervosa adalah suatu gangguan makan yang sering disebut “binge-and-purge sindromyang ditandai dengan makan yang terlalu berlebihan, kemudian memuntahkannya kembali dan juga penyalahgunaan obat laksatif dan diuretic. Gangguan ini biasanya terjadi pada wanita dan dimulai dari masa remaja atau pada awal kedewasaan. (Townsend, Mary C..2011.p.218)
b.   Epidemiologi
Bulimia Nervosa lebih sering terjadi dengan perkiraan antara 2% dan 4% serta dengan prevalensi 4% hingga 15% pada wanita yang berada pada usia 16 hingga 18 tahun, dan perbandingan wanita dengan pria adalah 9:1 (Stuart, 2006, p. 423).
c.    Tanda dan gejala
1)      Episode makan berlebihan yang berulang
2)      Perilaku kompensasi seperti membuat diri sendiri muntah,
penyalahgunaan laksatif, diuretik, enema, atau obat-obatan lain, serta olahraga yang berlebihan.
3)      Evaluasi diri sangat dipengaruhi oleh bentuk tubuh dan berat
badan
4)      Biasanya dalam rentang berat badan normal, kemungkinan kelebihan berat badan atau kekurangan berat badan
5)      Gejala depresi dan ansietas
6)      Kemungkinan penggunaan zat termasuk alkohol atau stimulan
7)      Kehilangan email gigi
8)      Gigi gumpil, gerigis, atau keropos
9)      Peningkatan karies gigi
10)  Menstruasi yang tidak teratur
11)  Ketergantungan terhadap laksatif
12)  Esofagus robek
13)  Abnormalitas cairan dan elektrolit
14)  Alkalosis metabolik (dari muntah) dan asidosis metabolik (dari diare)
15)  Kadar amilase serum meningkat (Videbeck, 2008, p. 617
618)
Menurut Mary .Townsend, 2011, tanda dan gejalanya sebagai berikut :
1)      Makan berlebihan biasanya bersifat tersendiri dan rahasia, seorang individu bisa jadi mengkonsumsi lebih seribu kalori per episode makannya
2)      Setelah makan berlebihan itu dimulai, seseorang tersebut akan merasa kehilangan control diri dan ketidakmampuan untuk berhenti makan.
3)      Selama prosesnya, seseorang tersebut mengkompensasi ukuran tubuh/berat badannya dengan menyalahgunakan laksatif, diuretic, puasa, atau latihan yang ekstrim.
4)      Makan berlebihan ini menyebabkan gangguan depresi(mood) pada individu tersebut
5)      Seseorang dengan bulimia biasanya memilki berat badan yang normal
6)      Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
7)      Erosi pada gastritis
d.      Awitan dan Proses Klinis
   Bulimia Nervosa biasanya terjadi pada masa remaja akhir atau dewasa awal, usia awitan yang khas adalah 18 atau 19 tahun. Makan berlebihan sering terjadi selama atau setelah periode diet. Antara episode makan berlebihan dan pengurasan, individu mungkin makan dengan ketat, dengan memilih selada dan makanan rendah kalori lainnya. Cara makan yang ketat ini efektif dalam membuat individu melangkah ke episode makan berlebihan dan pengurasan, hingga siklusnya terus berlanjut (Videbeck, 2008, p. 618)
Klien yang mengalami bulimia menyadari bahwa perilaku makannya patologis dan berusaha menyembunyikannya dari orang lain. Klien bisa saja menyimpan makanannya di dalam meja, mobil, atau lokasi tersembunyi di sekitar rumah. Klien mungkin mampir dari satu restoran cepat saji ke restoran cepat saji lainnya, dengan memesan makanan dengan jumlah yang biasa pada setiap restoran, tetapi mampir di enam tempat dalam waktu satu atau dua jam. Tipe pola makan ini mungkin terjadi selama beberapa tahun hingga keluarga atau teman mengetahui perilaku klien, atau terjadi komplikasi medis yang menyebabkan klien mencari terapi (Videbeck, 2008, p. 618).
Sekitar 50% klien bulimia benar-benar sembuh, 20% tetap memenuhi semua kriteria penyakit ini, dan 30% mengalami serangan episodik bulimia. Sepertiga klien yang benar-benar sembuh mengalami relaps. Angka kematian bulimia diperkirakan 0% hingga 3 % (Halmi, 2000 dalam Videbeck, 2008, p. 619)
e.       Penatalaksanaan pada pasien dengan Bulimia Nervosa
1)      Terapi Kognitif-Perilaku
Terapi ini diyakini sebagai terapi yang paling efektif untuk bulimia. Strategi yang dirancang untuk mengubah pemikiran (kognisi) dan tindakan (perilaku) klien tentang makanan berfokus pada tindakan menghentikan siklus diet, makan berlebihan dan pengurasan, serta mengubah pemikiran dan keyakinan disfungsional klien tentang makan, berat badan, citra tubuh, dan seluruh konsep diri (Halmi, 2000, dalam Videbeck, 2008, p. 624)
2)      Psikofarmakologi
Sejak tahun 1980-an, beberapa studi yang terkontrol dilakukan untuk mengevaluasi keefektifan obat antidepresan untuk mengobati bulimia. Obat-obatan seperti desipramin (Norpramin), imipramin (Tofranil), amitriptilin (Elavii), dll. Obat juga memperbaiki mood dan mengurangi preokupasi dengan bentuk dan berat badan. (Halmi,2000; Peterson & Mitchell, 1999, dalam Videbeck, 2008). Akan tetapi, hanya 22% hingga 25% klien yang mengalami abstinensi total dari makan yang berlebihan dan pengurasan di akhir terapi (Agras, 1997; Halmi, 2000 dalam Videbeck, 2000, p. 624)