A. Keseimbangan diet pada Obesitas
1. Pengertian
Obesitas
tidak hanya berdampak pada medis, psikis dan sosial, tetapi juga erat
hubungannya dengan kelangsungan hidup penderitanya. Menurut WHO, seseorang
disebut obesitas bila BMI lebih dari normal atau diatas 25.0, BMI adalah suatu
angka yang di dapat dari hasil berat badan dalam kilogram dibagi tinggi badan
dalam kuadrat. Menurut salah satu penelitian, tiap kenaikan berat badan atu
unit BMI, dapat meningkatkan 4-5 % resiko mortalitas penyakit jantung koroner.
Walaupun
berbagai factor berperan dalam timbulnya obesitas, yang paling perlu
diperhatikan dalam timbulnya obesits lebih ditentukan oleh terlalu banyak
makan, terlalu sedikitnya aktifitas atau latihan, berdasarkan hal tersebut
diatas, setiap orang perlu memperhatikan banyaknya masukan makanan dan
aktivitas fisik yang dilakukan.
Penelitian
lain mengenai obesitas yyang dilakukan oleh Nature Medicine menunjukkan bahwa
protein di dalam tubuh akan mempercepat metabolisme dan mencegah pertumbuhan
bobot. Menurut peneliti dari universitas Florida di Gainesville, Amerika
Serikat, makan akan mengaktifkan hipotalamus ( bagian otak yang member sinyal
kenyang), 10 menit sesudahnya. Tetapi pada penderita obesittas, mekanisme ini
tidak bekerja dengan baik sehingga mereka selalu makan dengan porsi yang jauh
lebih banyak daripada orang yang tidak obesitas.
Manifestasi
yang sering dijumpai pada obesitas antara lain hipertensi, penyakit arteria koroner,
gagal jantung, diabetes melilitus, batu empedu, perlemakan hati dan keluhan
sendi.
2. Epidimiologi
Pada
pria normal, rata-rata lemak tubuhnya adalah 12 %, sedangkan pada wanita muda
sekitasr 26 %, pria yang memilki lemak tubuh lebih dari 20 % dari total
beratnya akan dinyatakan obes. Sementara wanita akan dinyatakan obes bila lemak
tubuhnya melebihi 30 % berat tubuhnya.
Di
Indonesia, angka pasti penderita obes belum ada, secara epidimologis penderita
obes lebih banyak dijumpai di daerah perkotaan.
Di
Negara-negara maju, seperti Amerika serikat, dari survey yang dilakukan pada
dewsa 20-74 tahun satu setengah daawarsa yang lalu didapatkan bahwa penderita
obes dari kalangan wanita lebih banyak dari pria. Dan angka kejadian ada pria
kulit putih lebih tinggi dibandingkan kulit negro.
3. Faktor-faktor
berperan dalam timbulnya obesitas
a. Umur
Obesitas
sering dianggap sebagai kelainan pada umur pertengahan. Anak-anak yang
mengalami obesitas cenderung menjadi
orang dewasa yang obesitas
b. Jenis
kelamin
Obesitas
lebih umum terjadi pada wanita terutama setelah kehamilan dan pada saat
menopause. Pada saat kehamilan karena adanya peningkatan jaringan adipose
sebagai simpanan yang akan diperlukan selama menyusui.
c. Tingkat
sosial
Di
Negara-negara barat, obesitas banyak dijumpai pada golongan sosial ekonominya
rendah, salah satu survey Manhattan menunjukkan bahwa obesitas dijumpai pada
30% pada kelas sosial ekonomi rendah, 17 % pada kelas menengah, dan 5 % pada
kelas atas. Ini disebabkan krena keluarga yang tingkat sosial ekonomi rendah
sulit membeli makanan yang mengandung kandungan protein tinggi. Obesitas yang
dijumpai pada kalangan eksekutif atau usahawan, barangkali timbul karena
makanan berlemak tinggi disetai penggunaan minuman beralkohol.
d. Aktivitas
fisik
Obesitas
banyak dijumpai pada orang yang kurang melakukan aktivitas fisik dan banyak
duduk. Di masa industry sekarang ini, dengan menigkatnya aktivitas mekanisasi
dan kemudahan transportasi, orang cenderung kurang gerak atau menggunakan
sedikit tenaga untuk aktivitas sehari-hari.
Dengan
demikian, kurangnya pemanfaatan tenaga akan menyebabkan simpanan tenaga tidak
banyak digunakan dan lambat laun akan semakin bertumpuk dan menyebabkan
obesitas. Jadi memperbanyak aktivitas fisik sangat dianjurkan, diamping sudah
disertai pengaturan diet.
e. Kebiasaan
makan
Obesitas
sering dijumpa pada orang yang senang memaak dan bekerja di dapur, juga pada
orang yang memilki kebiasaan makan malam.
f. Factor
psikologis
Factor
stabilitas emosi dianggap berhubungan dengan obesitas, keadaan obesitas
merupakan dampak dari pemecahan masalah emosi yang dalam, dan ini merupakan
suatu pelindung penting bagi yang bersangkutan.
g. Factor
genetis
Bila
salah satu orang tua obesitas, kira-kira 40-50 % anaknya akan menjadi obesitas,
sedangkan bila kedua orang tuanya mengalami obesitas, 80 % anaknya akan
beresiko mengalami obesitas. Ini ditentukan oleh kebiasaan makan dalam keluarga
tersebut.
4. Factor-faktor
penyebab obesitas
Sebab umum terjadinya
obesitas adalah kelebihan intake kalori yang berlangsung lama, baik disertai
atau tanpa disertai pengurangan penggunaan energy. Pertambahan intake kalorin
ini bisa disebabkan :
a. Patologik
Kegemukan yang dimulai
sejak masa kanak-kanak akan mengakibatkan jumlah sel-sel lemak disamping
penambahan isi sel lemak itu sendiri. Setelah masa pubertas, penambahan kalori
yang tetap berlangsung akan mengakibatkan bertambahnya besar sel lemak. Oleh
karena itu, penurunan berat badan pada golongan tersebut berbeda karena jumlah
sel lemak tidak dapat diturunkan.
b. Metabolic
1) Resistensi
insulin
Pada obesitas sering
ditemukannya hiperinsulininemi disertai hiperglikemia, hal ini diduga karena
resistensi insulin pada sel-sel target. Karena itu sering dijumpai adanya
diabetes melilitus pada obesitas.
2) Hiperlipoproteinimia
Total kolesterol tubuh
meningkat akibat obesitas. Akibatnya, turnevor kolesterol juga meningkat
menyebabkan eksresi kolesterol biliaris meningkat. Hal ini akan manaikkan angka
kejadian pembentukan batu empedu.
c. Pola
makan
Orang-orang yang biasa
makan pada waktu sore dan malam hari merupakan penyebab pertambahan intake
kalori.
d. Adanya
gangguan regulasi di pusat hipotalamus
Pusat lapar terletak
pada ventrolateral hipotalamus, sedangkan pusat kenyang terletak pada
ventromedial hipotalamus. Dari pusat lapar akan dikirim isyarat ke korteks
serebri. Dalam keadaan normal, isyarat ini akan dihambat oleh rangsangan yang
berasal dari pusat kenyang karena pengaruh distensi lambung, plasma glukosa,
dan insulin atau oleh pengaruh ketokolamin. Apabila terjadi gangguan pada
rangsangan ini, maka akan terjadi makan yang berlebihan.
5. Komplikasi
a. Jantung
dan pembuluh darah
-
Hipertensi
-
Penyakit arteri
koroner
-
Kegagalan
jantung
b. Paru-paru
-
Sindrown
pickwickian
-
Infeksi saluran
pernafasan
c. Endokrin
dan metabolic
-
Diabetes
melilitus
-
Perlemakan hati
-
Hipertrigliserida
d. Saluran
gastrointestinal
-
Kolelitiasis
(batu kandung empedu)
-
Kolesistesis
(radang kandung empedu)
e. Tulang
dan sendi
-
Osteoartitis
f. Problem
psikiatri dan sosial
6. Panatalaksanaan
Prinsip pengobatan
obesitas adalah mencegah komplikasi dan menurunkan gejala klinis yang timbul
akibat obesitas. Yang kedua adalah pengobatan untuk menurunkan berat badannya.
a. Diet
Diet bebas dengan
kalori rata-rata 900-1700 kalori, ini biasanya pada penderita obesitas ringan.
b. Diet
rendah karbohidrat
Diet ini sangat
efektif, karena dapat mencegah lipogenesis(pembentukan jaringan lemak), ini
dapat diberikan pada penderita obesitas sedang.
c. Olahraga
Tujuan latihan jasmani
adalah untuk meningkatkan penggunaan kalori. Untuk aktivitas ringan dibutuhkan
1.5-2.0 kcal/menit, aktivitas sedang 3.5-7.0 kcal/menit, pada aktivitas berat
7.4 kcal/menit atau lebih.
d. Pembedahan
Pembedahan dilakukan
apabila indikasi jelas, misalnya pada morbid obesity atau malignant obesity.
7. Cara-cara
mengatasi obesitas
Cara memodifikasi
prilaku makan dilakukan dengan dua prinsip :
-
Teknik control
stimulus
-
Teknik control
diri
a. Teknik
control system
Beberapa ahli
berpendapat, teknik stimulus control terbukti efektif dalam mengontrol berat
badan, langkah-langkah nya adalah :
1) Batasi
isyarat yang diasosiakan dengan makan
Usahakan
tidak makan dambil menonton, membaca ataupun belajar.
2) Batasi
masukan makanan sebelumnya
Berbagai makanan yang
disediakan di meja merupakan isyarat yang kuat untuk makan berlebihan.
Gunakan
piring kecil sehingga porsinya kelihatan lebih banyak
3) Hindari
makan berlemak dan sediakan makanan yang tidak berlemak
Sediakan
makanan rendah kalori, misalnya buah-buahan segar
4) Gantilah
proses makan
Makanlah dengan lambat
sehingga porsi makanan yang dimakan berkurang
Telanlah sebelum
mengambil suapan berikut
Kalau
perlu, istirahat sebentar untuk merasakan kenyang
5) Ubahlah
isyarat fisiologis untuk makan
Banyak orang makan
karena ada rasa kosong dan melilit, karena itu :
Makanlah makan rendah
kalori sebanyak mungkin
Minumlah air putih
sebanyak mungkin sebelum dan sesudah makan untuk menimbulkan rasa kenyang
Hindari
nutrisi yang menimbulkan perubahan tingkatan gula darah, misalnya kopi, gula,
roti ataupun mie.
6) Susun
isyarat sosial yang mendorong cara makan yang tepat
Usahakan makan bersama
dengan seseorang yang membuat makan dengan porsi yang tepat
7) Kembangkan
respon yang tidak menggemukkan karena kekecewaan emosional
Banyak orang melaparkan
dirinya makan berlebihan apabila sedang cemas, frustasi ataupun depresi
Minumlah
air putih sebanyak mungkin
b. Teknik
control diri
1) Teknik
pemantauan diri
Individu diminta
memantau prilakunya sendiri, misalnya meminta jumlah makanan yang dimakan dalam
sehari untuk memudahkan seberapa banyak jumlah suapannya.
2) Evaluasi
diri
Evaluasi apakah makanan
yang dimakannya sesuai dengan yang diinginkan
3) Pengukuhan
diri
Individu diminta
memberikan pengukuhan apabila ia dapat mencapai apa yang diinginkannya.
c. Mempromosikan
penurunan berat badan sambil mempertahankan massa otot
1) Diet
a) Diet
seimbang rendah kalori
Diet
ini adalah pilihan terbaik pada individu dengan barat badan kurang dari 30%
kelebihan berat dan diijinkan kehilangan sekitar 0-5 J kg/minggu. 1 kg lemak
tubuh sama dengan sekitar 7000 kkal, jadi penurunan berat badan ini terwujud
dengan mengkonsumsi kurang 500-1000 kalori dari kebutuhan total kalori yang
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energy sehari.
Untuk
menghitung keperluan kalori :
1. Tentukan
berat badan ideal dalam kilogram
2. Untuk
memperkirakan kebutuhan kalori setiap hari untuk mempertahankan berat badan,
kalikan berat badan ideal dalam kg dengan 20-25 kkal bila tidak ada aktivitas,
atau kali dengan 30 kkal bila beraktivitas sedang, atau kali dengan 30-50 kali
bila beraktivitas berat.
3. Untuk
menentukan kalori yang dibutuhkan untuk penurunan berat badan, kurangi 500-1000
kkal/hari dan kebutuhan kalori yang diperlukan untuk mempertahankan agar dapat
hilang 0.5-1 kg/minggu secara berturut-turut, makan kurang dari 800 kkal/hari
diangga diet sangat rendah kalori dan tidak harus digunakan, kecuali di bawah
control dokter.
b) Diet
sangat rendah kalori
Diet sangat rendah
kalori atau DSRK adalah menyiapkan hanya 400-800 kkal/hari. Aturan umum yaitu
mengikuti diet sangat rendah kalori untuk 12-16 minggu, diikuti secara bertahap
dengan makanan biasa lebih dari 3 minggu atau lebih lama. Pemasukan cairan
nonkalori harus sedikitnya 2 liter/hari untuk mencegah dehidrasi. Diet ini
dirancang untuk mencegah hilangnya massa otot, tetapi ada juga kehilangan massa
otot selama periode ini. Karena itu penggunaan nya terbatas hanya pada orang
yang sedikitnya kegemukan 30%. Obesitas yang berat tidak hanya mengandung lemak
lebih banyak, tetapi juga massa otot lebih besar dibandingkan individu yang
kurag gemuk. DRK ini baru bisa dijalankan setelah pasien mengalami pemeriksaan kesehatan
termasuk elektrokardiogram, dan peserta diet ini juga harus mengikuti
pemeriksaan elektrolit dengan dokter secara rutin. Diet tanpa supervise sering
mengakibatkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, peningkatan asam urat,
kelelahan hebat, pusing, dan sakit kepala.
c) Mode
diet
Diet yang menjanjikan kehilangan
berat badan dengan cepat sangat popular. Sayangnya, diet ini cenderung bukan
yang diinginkan karena hal-hal berikut : (1) makanan tidak cukup nilai gizinya,
(2) mereka memerlukan makanan yang mahal atau persiapan makanan yang banyak
memerlukan waktu, (3) biasanya makanan ini tidak aman untuk kesehatan, (4) cara
ini tidak mengubah kebiasaan buruk makan seseorang, karena itu kehilangan berat
berat akan segera kembali dengan cepat, (5) kebanyakan dari kehilangan berat
ini adalah cairan atau massa otot di bandingkan lemak.
