Powered By Blogger

Rabu, 30 Mei 2012

Mei Berdarah


Ada banyak hal yang terjadi di dunia ini sebenarnya tanpa kita sadari, dedaunan yang berguguran, pergerakan awan, dan tumbuhya benih-benih kehidupan. Namun, kita adalah nyata, semua ciptaan-Nya yang terlihat itu nyata.  Apa yang telah di takdirkan, itulah yang dituliskan untuk kita di monitor raksasa yang disebut Lawh Mahfuz, dan apa yang terjadi sekarang kepada ku juga telah di tetapkan sejak zaman Azali, negeriku, Indonesia, negeriku, tanah kelahiranku. Indonesia adalah negeri yang subur dengan SDA yang melimpah, tak terkecuali negeri Serambi Mekkah, negeri warisan Ulama.  Berbagai nikmat tanpa henti datang dari Zat yang Maha memberikan nikmat bagi siapa saja yang mensyukurinya. Dan dalam keadaan apapun, tetaplah menambah syukur, tongkat kayu yang telah 13 tahun menemaniku juga tidak pernah berhenti bersyukur karena telah berguna menopang hidupku.
 Aceh , 2 Mei 1999
”Mak, anteuk malam long jak bak dakwah beuh ?1  aku merengek meminta izin kepada wanita paling tulus dan teduh hatinya itu, ”Jeut, beu get-get neuk, I jak ngen abang beuh ! anteuk ie sitot sajan ayah beuh !”2  jawabnya dengan gurat sedikit khawatir kepadaku. Senang hati tak terkira diizinkan keluar untuk pertama kalinya, iya, sejak manusia berpakaian loreng-loreng hijau itu berkeliaran di tanah pusakaku,  Aceh, Ibu memang tidak pernah mengizinkanku keluar rumah.   
Masyarakat di daerahku yang masih kental dan fanatic terhadap agama, menganggap dakwah adalah kegiatan yang menyenangkan, dengan penceramah yang kocak membuat mereka sanggup bergadang dan berdesak-desakan untuk dapat mengahadiri acara tersebut, seperti persyaratan yang telah diajukan ibuku tadi, aku ditemanai kakak laki-lakiku, aih, malam itu semua ketakutan dan kegundahan yang biasanya di sepanjang hari menyerang kami, seakan hilang tak berbekas, gurat wajah bahagia karena kekocakan sang penceramah manghiasi seluruh wajah warga yang hadir pada acara tersebut. aih, bahagianya.
Bagaikan urutan anak tasbih yang terlepas dari ikatannya, berjatuhan begitu cepat, guratan bahagia itu telah berubah menjadi siaga dan ketakutan,  mereka datang kembali, mengawasi jalannya kegiatan kami, aku bergegas memeluk kakakku dan menangis karena ketakutan. Kemudian, aku melihat seseorang yang sangat dekat dengan fikiranku, sosok itu begitu kukenali walaupun dalam keadaan remang – remang , Ayah. Apa yang sedang ayah lakukan ? kenapa ayah menghampiri mereka ? kemudian, aku melihat  ayah mengerak-gerakkan tangannya seakan memberikan penjelasan, dan kemudian sepasang tangan kekar dari lawan bicaranya berhamburan ke tubuh sang penyelamat jiwaku itu, “Ayah !!!”  teriakku. Ayah terhempas karena pukulannya, Biadab ! segera aku berlari ke arah ayahku, tiba-tiba tangan ku di kepal kuat oleh tangan kekar itu, ternyata kakakku, nanti kalau mereka udah pergi, kita langsung gendong ayah ke rumah. Seperti di komando, aku mengikuti perintah kakakku, kemudian aku melihat punggung-pungung yang membelakangiku, mereka pergi. Tanpa menunggu komando selanjutnya, aku langsung berlari menghampiri ayah, “ayah!!!!” Teriakku lagi. Bulir bening di ujung kelopak mata ku menetes dengan derasnya, berbagai cacian, umpatan, dan kebencian yang memuncak memenuhi dadaku sehingga ia penuh dan membuatku sesak. kami kembali ke rumah. Malam 1 Muharram itu mengawali kejadian tragis hari-hari selanjutnya.
Mulai malam nyo, mak, adek, abang, han jeut tubit saho, na deungo ?3  ayahku dengan merintih sakit di bagian dekat bibirnya yang membengkak karena pukulan dari tangan ganas itu menasehati kami. Air mata ibuku sudah kering, ia sudah lelah menangis, selama beberapa tahun terakhir ini negeriku ditimpa ujian oleh Allah berupa ketakutan yang mencekam, disana-sini terdengar suara-suara yang menggelega “sip bos !”, jawabku manja . Setidaknya, malam ini aku hanya mendengar  dua kali suara suara yang biasanya mengalun indah sepenjang malam. Aku bersyukur, dalam keadaan mencekam seperti ini, aku masih di temani keluargaku, lengkap. Aku membayangkan apa yang akan terjadi jika aku mengalami nasib seperti Meutia, teman sekelasku. Mereka menghabisi keluarganya malam itu juga, tanpa menunggu mentari yang hangat yang akan menyinari keluarga itu untuk terakhir kalinya, oh tidak, aku tidak pernah membayangkan harus hidup sendiri saat saat seperti itu.
Pagi itu, irama nyanyian burung masih sama seperti hari-hari kemarin, siang hari adalah waktunya melihat wajah-ajah yang lebih meneduhkan daripada malam hari, sudah lama aku merindukan sekolahku,  namun, teringat janji yang aku ucapkan pada ayah semalam, akhirnya aku membantu ibuku menjahit beberapa pasang pakaian untuk menopang hidup keluargaku semenjak ayah pensiunan. Semua terasa normal kembali jika matahari itu telah mengintip dari ufuk timur. Pagi hingga sore hari mereka jarang mengunjungi rumah-rumah seperti yang dilakukan pada malam hari. Namun, tidak untuk pagi itu.
“Tok..tok..tok..buka pintunya !!” woi, Shalahuddin ! buka pintunya !” kaget setengah mati, aku membuka pintu karena aku takut gedoran yang kuat itu akan membuat pintu rumah kami yang sudah lapuk itu hancur, dari jendela aku meghitung jumlah mereka, 3 orang, kulitnya yang gelap membuat aku bergidik ngeri.  “cari siapa ?” tanyaku ketus.  “Dek, ayahmu mana ?” tanya salah satu dari mereka yang memiliki wajah lebih beringas dari apapun,  tanpa mendengar jawabanku, mereka menerobos masuk, ”kurang ajar “,fikirku,  “memangnya mereka gak diajarkan pelajaran akidah akhlak apa di sekolah ?” “Shalahuddin, keluar !” aku bingung, kemana ayah ? kenapa ayah harus lari ? kemudian aku melihat wajah ayah di balik ruang shalat, ternyata ayah baru saja selesai shalat Dhuha, ibuku yang sedang menyelesaikan jahitannya langsung mendatangi kami yang bengong mengenai kedatangan mereka
“Hei pak, kamu mantan kepala desa, kamu pasti kenal dengan yang namanya Burhan ? “bentaknya di depan wajah ayahku, geram dengan tingkah mereka, aku meludahi mereka tepat di sepatunya, melihat aksiku yang tidak sopan, ayah segera memelukku, dan meminta maaf karena kalekuanku, “pak tentara, saya memang kenal dengan yang namanya Burhan, dia juga warga desa ini, dia dulu tingggal di dekat krueng4 di sebelah jalan raya itu, tapi sejak beberapa hari yang lalu, saya sudah tidak pernah melihat dia lagi, biasanya dia sering nampak di mesjid pak “! merasa tidak puas dengan jawaban sang pendekarku, benda berbentuk  runcing di bagian ujungnya itu tiba-tiba mengenai dada pahlawanku, cairan segar muncrat di seluruh tubuhku, jelas saja saat itu aku berada di pelukannya, ibuku yang schok  dan jantungan dengan keadaan tiba tiba jatuh tersungkur, “tidak !!!” teriak ku,” apa yang kalian lakukan pada ayahku  biadab ?” ayah, bangun !! mak, bangun mak !! mendengar suara tembakan dari dalam rumah, kakakku yang sedang berada di ladang dekat rumah, dalam sekejap telah tiba di pintu rumah, melihat noda merah bersimbah dimana-mana, parang5 yang memang sedang ia pegang, menghantam ke salah satu dari mereka, tidak terima dengan temannya yang terluka, timah panas itu kembali dilayangkan ke kepala satu-satunya saudara yang ku milki itu,sungguh murah harga peluru saat itu, dengan mudahnya mereka melayangkannya kepada siapa saja yang dijumpainya, dan dalam keadaan tidak berdosa, mereka meninggalkan mayat-mayat hasil keganasan mereka dan aku yang menjadi setengah mayat, aku bingung, kenapa mereka membiarkan aku hidup ? kenapa aku tidak bisa ikut dengan keluargaku kembali kepada Tuhanku bersama-sama ? ayah ! mak ! abang ! jangan tinggalin adek, adek takut sendiri mak, ayah, bangun, ku dekap dan ku cium semua wajah yang telah menyatu dengan cairan yang ada dalam tubuh mereka, air mataku seolah telah habis, suaraku hilang karena jeritan, sekarang apa ? ayah ! bangun yah, siapa lagi yang nganterin adek ke sikula6 kalau bukan ayah ! siapa yang akan lindungin adek kalau gelap datang, mak, jangan tinggalin adek mak ! mak gak sayang sama adek ya ? siapa yang sisirin rambut adek lagi mak ? siapa yang akan menyiapkan adek makan kalau bukan mak, bukannya mak udah janji mau dampingin adek waktu wisuda sekolah nanti ? abang, siapa yang akan  kawanin adek beli es gogo7  siapa yang bakal ajarin adek pelajaran IPS bang !  tanpa menunggu lama, rumah ku berubah menjadi laut merah dalam sekejap, orang-orang kampung berdatangan, jerit tangis mereka terdengar jelas di telingaku ? yang paling menyedihkan adalah “kasihan anak ini, siapa yang akan membiayai hidupnya sekarang ini ?” itulah kata-kata yang membuat aku masih sering menumpahkan butiran bening itu jika teringat kembali kejadian Mei 1999 itu, dalam hitungan menit, aku menjadi yatim piatu, aku menjadi papa, aku menjadi sebatang  kara.
Matahari semakin memerah, semakin menyengat keadaan siang itu, tepat di atas ubun-ubun, Setelah sadar, aku telah berada di sebuah rumah yang rasanya tidak begitu asing, ini rumah Cut putri, teman sekelasku juga. Aku sering belajar kelompok disini,  Keluarganya sangat baik kepadaku, aku disuguhi makanan, dan Putri bersedia  meminjamkan bajunya  kepadaku, pagi itu aku sengaja diamankan dari tragedi berdarah di rumahku itu, keluargaku akan disemayamkan pada hari itu juga, aku yang mengetahui jenazah keluargaku sedang dimandikan di meunasah 8 dari orang tua Putri, langsung menjerit dan berlari ke  arah meunasah yang tidak jauh dari rumah Putri, kesedihan itu telah mencapai batasnya, lagi-lagi, aku sesak, isak tangis yang keluar dari bibirku sekan telah lelah dan meminta istirahat, aku melihat dalam kekaburan mataku karena dipenuhi dengan butiran bening itu, ibu Putri sedang mengejarku dari belakang, ia khawatir hal buruk akan terjadi padaku, benar saja, sebuah mobil sedan plat merah tiba-tiba menghantam tubuhku, ambruk dan terhempas sejauh 3  meter, aku merasa, Tuhan mendengarkan doaku, aku akan segera berkumpul bersama dengan keluargaku,” ayah, mak, abang, tunggu adek.” Mereka tersenyum dan aku berlarian ke  arah mereka, aku mencoba menggapai tangan ibuku, namun seakan terpisah oleh dinding tipis yang sulit untuk ditembus, aku menangis lagi, “aku tidak ingin pisah lagi dari ayah ! ayah, tolong bawa adek !” teriakku. namun, sia-sia.
Hinggga sekarang, aku tidak ingat berapa lama aku membuka mata kembali, yang terlihat pada waktu itu adalah tiang infus, tempat tidur yang aneh dan sangat berbeda dengan tempat tidur punyaku yang ayah belikan beberapa bulan yang lalu, dan bau yang sangat menyengat ini, oh, bau obat dan hawa rumah sakit, aku benci. Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya yang dari tadi berdiri di sampingku, mengagetkanku, “alhmdulillah, nak Muna udah sadar,” senyumnya yang tulus sedikit mengurangi kecemasanku, namun, ada yang aneh dengan tubuhku, aku merasa ada yang tidak bergerak saat aku bergerak, aku mengintip ke dalam selimutku, Astagfrullah, cobaan apa lagi ini ya Tuhan ? kemana kau bawa kaki ku ya Allah, kenapa kau hanya mengizinkan kakiku yang menyusul keluargaku, kenapa Kau tidak mengambil seluruh bagian tubuhku saja Ya Tuhan ? sekarang, apa yang bisa ku lakukan dengan tubuh yang tinggal separo ini ? dadaku kembali sesak, rasanya aku tidak mempunyai daya lagi untuk mengeluarkan air mata. Belum cukupkah Engkau memberikan aku ujian ya tuhan ? lalu kapan saatnya aku lulus dari ujian ini ? dan kapan saatnya derajatku engkau tinggikan Ya Allah. Ayah, anakmu ini kini semakin pendek, karena sebagian tubuhku meghilang, Ibu, tidakkah kau malu mempunyai anak yang cacat seperti ku ? Abang, masihkah kau mau mengajakku untuk jalan-jalan sore seperti biasanya ? apa aku akan menjadi seperti para peminta yang sangat mengeluk-elukan hati ketika melihatnya ? apa aku akan menjadi objek kasihan yang siap menerima sumbangan dari orang lain?
Pedih, hingga kepedihan itu berlalu perlahan demi perlahan, aku tidak peduli mereka masih ada atau tidak di kampungku, aku telah mengutuk mereka di hatiku . dan bersumpah tidak akan pernah menjadi benalu kehidupan seperti apa yang telah mereka lakukan terhadap keluargaku, mengedepankan amarah dan nafsu belaka dan membelakangkan hati nurani.
Aku bangkit dari pemakaman keluargaku, aku berjalan dengan kakiku yang luar biasa, kembali bekerja di sebuah toko buku di kotaku, di temani teman-teman yang selalu menebarkan suasana hangat di hatiku, Ayah, Mak, Abang, semoga Allah menempatkan kalian di tempat terkasih-Nya.

1 “Mak, nanti malam aku pergi ke acara ceramah ya ?”
2 “ Iya, hati-hati ya sayang ? nanti pergi sama Abang aja, kalau udah sampek, langsung jumpai ayah ya ?”
3 “Mulai malam ini, Mak, Abang, Adek, jangan ada yang keluar rumah ya ?”
4 Sungai
5  Sejenis golok, senjata tajam
6 Sekolah
7 Es krim batangan
8 Surau, mesjid


Prognase Hidup Sang Pemimpi


PROGNASE HIDUP SANG PEMIMPI
Oleh : Ida Maulina
Kebahagian itu hak  semua orang, itu pasti, aku yakin dengan jimat ampuh yang sering kali ku dengar dari lingkungan pendidikanku itu , man jadda wa jada, dan dengan tidak mengetahui artinya pun, aku masih tetap yakin, sesuatu yang telah diucapkan berulang-ulang saat kegundahan dan rasa pesimisme itu datang pasti menimbulkan keberuntungan, pikirku waktu itu yang masih berusia 10 tahun, dan juga, keyakinan akan datangnya kebahagian yang timbul dari  rasa bangga akan  ideologi yang ditanamkan oleh sosok idolaku yaitu orang yang paling the best se-dunia yang bernama Muhammad, yaitu ideologi Islam, tidak ada perbedaan antar satu ‘kepala’ dengan ‘kepala’ lainnya, selain terletak pada tingkat ketaqwaan pada Zat yang Menciptakan saja, itu menjadi point plus yang mendukung tingkat keyakinan ku tadi. Dan yang paling penting lagi, kebahagian tidak terletak pada suatu objektivitas saja, tidak karena uang kita bahagia, tidak karena popularitas dan kedudukan kita bahagia, dan juga tidak karena kecerdasan semata yang membuat kita mampu menguasai dunia, namun sejauh mana kita bisa ‘dimanfaatkan’ oleh orang lain dengan segala skill yang kita punya, itulah tolak ukur kebahagian sejati kita sebagai khalifah sosial di muka bumi.
Butiran bening yang jatuh dari langit kembali menyapaku, seperti biasa, ia senang kali menggelitiku saat tidur, atap rumbia yang telah berumur lebih tua dari umurku menjadi satu-atunya alasan agar hujan dapat bertemu denganku, entah berapa produk kiramas lagi yang harus ku jejerkan di tempat tidurku, aku hanya ingin menyelamatkan kasur kesayanganku,  tidak hanya itu, kehadirannya yang hampir memenuhi ruangan di rumahku membuat kami tidak membutuhkan lagi alat canggih yang disebut AC, betapa tidak, angin sepoi-sepoi disertai gerimis sudah cukup membuat kami meringkuk dalam kedinginan, sejak pahlawan kami pergi menghadap Zat yang telah lama dirindukannya, aku hidup dengan ibuku, aku masih belum bisa mengingat kejadian itu hingga sekarang karena ia pergi saat aku masih dalam kategori Batita, jadi aku hanya mengandalkan kisah-kisah dari ibuku dan berusaha membayangkan bagaimana rupa sosok pejuang sejati di rumahku itu, Nadia, itulah warisan yang paling berharga yang dititipkannya kepada ibuku, Nadia adalah namaku, ayahku menyematkannya 18 tahun yang lalu.
Menjadi buruh bangunan memang sangat membuat hati was-was, selain fisik yang harus kuat, mental adalah syarat kedua terpenting untuk dapat menyandang status buruh tersebut. Ketidakhati-hatian dan kelalaian adalah sifat alami manusia, namun, yang paling menyakitkan adalah jika kelalaian yang kita perbuat merugikan orang lain, terparah hingga mengakibatkan kerugian hidupnya, 27 ramadhan 1996, beliau mengalami kecelakaan di tempatnya bekerja karena kelalaian rekan kerjanya, keinginan untuk membelikan ibu dan aku baju baru untuk  perdana kalinya membuat ia nekad bekerja pada shift yang bukan jatahnya, waktu itu, uang yang dimiliki dengan harga baju lebaran  saat itu masih belum seimbang, ayahku harus bekerja tambahan untuk memenuhi kasih sayangnya kepada keluarganya, ayah, sungguh, ku relakan semua point keburukan yang pernah engkau lakukan untuk dibagi denganku, dan memberikan poin-poin kebaikakanku untukmu, agar engkau dibebaskan dari pertanyaan kubur yang menyulitkan, sungguh, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membalas semua yang telah engkau berikan kepada kami
“Nad, tolong ambilkan  seuke1 di bawah pohon kelapa belakang rumah ya ? tadi Ibu jemur disitu, hujannya makin deras, nanti keburu basah !” teriakan Ibu membuyarkan lamunanku bersama produk kiramas-kiramas itu, “iya Bu !” jawabku, wanita penyabar dan wonder women satu-satunya milikku itu adalah pengrajin tikar, tangannya sangat lihai dalam merajut tikar-tikar tersebut, bahkan sering dilakukannya sendiri karena aku ke sekolah, ia menjajakannya ke rumah-rumah setiap seminggu sekali, dari situlah kami menopang hidup kami, dari situlah aku bisa mengenyam kembali indahnya ilmu pengetahuan yang sempat terputus karena sang pahlawanku telah pergi, tikar-tikar itulah sumber perantaraan rejeki yang dititipkan Zat yang Maha Pemberi Rezeki kepada kami, sungguh, Allah Maha Berbuat Baik
Aku bahagia meski keluargaku tidak selengkap keluarga teman-temanku, mereka memilki orang tua, saudara-saudara yang siap untuk menuai canda setiap waktu, dan mereka yang memiliki waktu senggang yang digunakan untuk merehatkan dirinya, karena dengan begitu aku mengerti bagaimana arti mempertahankan hidup yang sebenarnya, dan karena dengan begitu aku mendapatkan ladang amal untuk berbakti kepada ibuku sepenuhnya, dan mendapatkan kasih sayang full tanpa harus dibagi-bagi dengan saudara-saudara yang lainnya seperti yang dialami teman-temanku, hidup berdua dengan Ibu adalah takdir yang telah Tuhan gariskan kepada keluarga ku, Allah tahu, betapa kuatnya Ibuku, sehingga ia akan mampu membesarkanku seorang diri dengan semua upaya yang ia miliki. Aku sadar dan cukup paham kelelahan Ibu dalam mengasuhku, aku tidak ingin mengecewakannya walau sedikiit pun, itu aku buktikan dengan kegemaranku dalam belajar, dan Alhamdulillah, aku bisa menuai bukti tersebut dengan mempertahankan prestasi yang aku dapatkan sejak kelas 1 SD, aku benar-benar bahagia.
“Nad, jajan yuk ?” ajak Yusra, dia teman sekelasku, “gak Ra,” jelas saja aku menolak ajakannya, uang di sakuku hanya cukup untuk biaya angkutanku pulang nanti, Ibu lagi gak dapat rezeki, tikar-tikarnya kali ini kurang diminati, katanya kurang warna, iya, tabungan Ibu habis dan tidak mencukupi membeli tinta warna-warni yang biasanya digunakan untuk mempercantik tikar-tikarnya itu, “aku traktirin kamu ya ?” Yusra memang anak yang ringan tangan, tidak hanya kaya dan pintar, dia juga cantik, secantik hatinya.
Lambung yang telah terbiasa untuk tidak diajak makan pada jam istirahat membuatku tidak pernah risau ketika uang jajanku runyam, dan jika kejadiannya seperti sekarang ini, aku tidak bisa menolaknya, namanya aja rejeki.hehe..
Hidup boleh sederhana, namun cita-cita harus melangit setinggi-tingginya, bermimpilah seindah-indahnya, karena hanya Allah lah yang berhak mengabulkan mimpi menjadi nyata, keinginan menjadi tenaga medis yang membaktikan hidupnya uuntuk orang lain adalah mimpiku sejak kecil, dokter, begitu orang-orang menyebutnya, mungkin sebagian orang akan menertawakanku dan mengatakan ‘ngaca dong !’ aku bertambah senang, karena apa yang mereka katakan memang benar, aku sudah berkaca berkali-kali, dan aku memang pantas memiliki cita-cita seperti itu.
Jarak sejauh 3 km itu membuatku harus mengguanakan angkutan umum untuk mengenyam bangku pendidikan, namun, tidak ada yang sulit bagiku, toh Tuhan masih memberiku alat berjalan yang lengkap dan tubuh serta pikiran yang sehat, kenapa tidak aku manfaatkan ?? tiba-tiba alat bermesin beroda enam ini berhenti, ku dengar kegaduhan di luar sana, “kenapa pak ?!” tanyaku karena penasaran yang membuncak, “ada orang kecelakaan dek nong,2” tewas di tempat,!” jelas pak sopir, sempat miris saat mendengarnya, namun, untuk mengusir kekhawatiran, dan tanpa berpikir panjang, aku hanya berharap semua baik-baik saja, baru saja aku ingin kembali ke tempat dudukku sebelum terlihat oleh pandanganku, Tikar. Tidak, itu tidak mungkin ibu, ibu masih sehat-sehat aja, teh manis buatannya tadi pagi masih tersisa di gerahamku, lututku lemas, jemariku bergetar hebat, aku menjerit sekuat-kuatnya saat melihat tangan berbalut si kental merah darah, pedih sekali rasanya, sosok tak berdaya itu adalah wanita wonder women milikku, “ibuuuu !!! kenapa bu ?? kenapa ibu setega itu ? kenapa ibu tinggalin aku ? bagaimana hidupku jika tanpa ibu ! bu, bangun bu ! bangun!! Tolongg..!!! tolonggg..!!!” teriakan itu hanya menyisakan gaung tak berarti, Ibu tidak mungkih hidup kembali, sesungguhnya, setiap makhluk yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya, ibu, bagaimana mungkin aku menjalani hidupku sendirian tanpamu, bukankah ibu berjanji untuk menghadiri pembagian raportku minggu depan ? bukankah ibu berjanji akan membelikanku sepatu baru jika rangking 1 masih tetap di tangan ku ? apa yang harus ku lakukan dengan tubuh kurus tak bergizi ini bu ? apa yang dapat aku lakukan untuk memenuhi panggilan cacing-cacing di perutku ? lalu, bagaimana dengan biaya sekolahku bu ? bukannya ibu berjanji akan menyekolahkanku hingga menjadi seperti apa yang aku inginkan ? sekarang bagaimana bu ? pupus. musnah. tak berbekas.
Aku yang menyedihkan, ditinggal mati kedua orang tuaku, sebatang kara melewati alur-alur kehidupan yang kejam, menyambung nafas dengan tali-tali dermawan yang baik hatinya, uluran-uluran tangan bertanggung jawab menjadi titik terang dalam kegelapan, pendidikanku selesai enam tahun, dan kini saatnya bermetamorfosis, aku telah dewasa sebelum waktunya, aku memutuskan untuk mencari ‘makan’ dengan tanganku sendiri, sebagai manusia yang memilki harga diri dan rasa malu untuk terus mengharap dari orang lain, aku akan menghidupi diriku sendiri, aku malu dengan tuhanku, organ lengkap tanpa cacat satu-satunya harta yang paling berharga yang aku miliki, dengan bermodalkan tekad yang hanya sebiji sawi, aku memutuskan untuk menjadi buruh cuci keliling, rumah-rumah di desa seberang pun ku jajahi, tubuh yang memang tanpa gizi ini menjadi semakin ‘sehat’ dan ‘kuat’, berulang kali aku harus merecharge nya hingga beberapa hari karena ‘lowbat’, namun semangat juang untuk makan dan menyambung pendidikan berhasil mengalahkan keputusasaan, peluh peluh asin yang disulap menjadi uang kertas dengan gambar alat musik pecahan 5 ribuan yang  terkumpul akhirnya telah meluluskan aku di bangku tingkat pertama dan membawa pencerahan hingga ke tingkat selanjutnya.
Hidup masih harus berlangsung, aku harus tetap hidup, aku harus tetap punya mimpi, aku masih ingat dulu aku memiliki mimpi menjadi ‘tukang ngobatin’, dan itu tidak pernah pudar dalam ingatan, aku mengikuti program beasiswa di sekolahku dan itu memudahkan jalan fikiranku, aku tidak perlu lagi repot-repot memikirkan uang untuk sekolah, sekarang yang harus dicari adalah makan, karena makan untuk hidup, dengan tidak hidup maka mimpi itu tidak mungkin tersampaikan, bagaimana mungkin mimpi itu nyata sedangkan si pemilik mimpi telah ghaib dari kehidupan, dan dengan hasil dari cucian-cucian tadi, aku ‘jualan’ pulsa, sampai-sampai aku digelari N-KIOS, N yang berarti Nadya,hehe.. semua hasil keuntungan itu ditabung agar bisa terus menyambung hidup yang malang ini.
Aku pernah mendengar, entah pepatah atau semacamnya, katanya “ bermimpilah, maka Tuhan akan mengabulkan mimpimu ! “ itu juga jimat ampuh yang aku yakini bisa merubah jalan hidupku, itulah menggaapa aku merasa sangat pantas untuk memiliki mimpi seperti itu, kerikil-kerikil tajam dan berbahaya memang seringkali melintas di jalanan hidupku, namun, selalu saja ada jalanan yang mulus yang sedang disiapkan untukku di depan sana untuk menyemangatiku dan tidak mudah putus asa dalam hidup, aku tidak mungkin dapat bertahan hingga menjadi sekokoh ini jika bukan karena keajaiban-keajaiban yang selalu saja telah dihidangkan Tuhan untukku. Hari itu, sekolahku mendapat kesempatan mengirimkan15 orang terbaik di sekolah untuk mendapatkan program undangan untuk melanjutkan ke universitas, benar seperti kataku tadi, ada seseuatu di balik semua penderitaan ini, 3 minggu berlalu dan tibalah hari yang menegangkan itu,  “Nad, kamu kemarin pilih jurusan apa ? aku dengar kamu mau jadi dokter ya ? kamu optimis banget ya ? harusnya, kamu itu cermat dong ! yang kira-kira lulus aja kamu ambil ! jurusan itu kan tempatnya orang-orang ‘berada’,harusnya kamu…..” “iya Put, optimis itu memang perlu, semoga sukses ya Put, sampai ketemu !!” aku memilih menarik diri dari hadapan orang-orang yang terus menebarkan aura negative di telingaku, aku tidak ingin mengecewakan kedua orang tuaku, aku tidak ingin hidup terus-terusan seperti ini, aku tidak ingin apa yang aku alami, akan dirasakan pula oleh anak cucuku kelak.
“Alhamdulillah, aku diterima ! aku lulus ya Allah, Ayah, Ibu, anakmu lulus,” ini bukan lagi mimpi, ini nyata, berulang kali aku meyainkan diriku kalau ini semua tidak hanya khayalan, tapi ini benar-benar terjadi, aku memberitahukan kabar gembira ini ke semua kerabatku, tetangga-tetangggaku, aku benar-benar bahagia, inna ma’al usri yusra, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan, dan aku rasa, inilah saatnya mengganti semua peluh-peluh yang telah aku produksi dulu menjadi peluh-peluh baru yang akan lebih besar hasilnya, kebahagian itu belum cukup hingga aku mendapat kabar bahwa universitas mengadakan program beasiswa yang sangat menggirangkan jiwa, aku mencoba kesempatan itu dan lagi-lagi syukur tak henti hanya kepada Zat Maha Pemberi Rezeki.
Bagiku, tidak ada yang tidak mungkin, semua orang berhak menjadi pemenang, semua orang berhak atas kebahagian mereka, dan Tuhan tidak pernah memberikan apa yang kita inginkan, namun selalu mencurahkan apa yang kita butuhkan, karena semua yang dicurahkan-Nya, akan indah pada waktunya.
1 daun pandan, bahan dasar pembuat tikar pandan
2 panggilan untuk gadis kecil

Minggu, 13 Mei 2012

Hasan dan perjuangannya


Berbicara mengenai kisah sepatu dan masa-masa sekolah dulu, mungkin campur aduk , aku gak bisa bilang ini cerita mengharukan,atau melo melo gimana gitu,  dan gak terlihat lucu juga, hehe..entahlah, nikmatin aja
Tersebutlah pada zaman 1970 an, sebut saja namanya Hasan, dia adalah pamanku dari pihak ibu, kedekatan hubungan kami membuat proses wawanccara yang aku lakukan dengannya berjalan muu tanpa hambatan,  pribadinya yang unik dan ngangenin membuatku merasa bangga memilki paman  seperti beliau, dari dulu hingga sekarang, membuat sensasi yang membuat dirinya unik daripada orang lain adalah hobinya, pamanku adalah anak sulung dari enam berrsaudara, kakek dan nenekku adalah petani. Saat itu, semua nya terasa lebih dari cukup, dikarenakan harga barang yang masih sesuai dengan penghasilan setiap orang pada saat itu.
Pamanku bersekolah di SMPN yang tidak jauh dari rumahnya, dan mungkin cukup dengan berjalan kaki, bukan cukup, tapi memang gak ada kendaraan lain yang bisa digunakan. Semak belukar yang menutupi jalanan pintas saat itu membuat Paman harus membawa parang1  yang digunakannya untuk membersihkan jalan dan kemudian menitipnya di kebun belantara itu.
Sebenarnya tidak ada masalah dengan sepatunya, Pamanku mempunyai sepatu yang cukup tahan lama, bukan karena bahannya yang kuat atau tahan banting, bukan. Untuk mencapai sekolah yang berjarak lumayan dekat, hehe..ayah harus melewati lueng2  kami menyebutnya seperti itu,  yang membatasi jarak antar keduannya, lueng itu memang tidak dalam, namun, ia tidak mempunyai jembatan atau semacamnya yang bisa diseberangi, permukaan airnya hanya sebatas betis orang dewasa, Pamanku yang tentunya masih belum dewasa menyebrangi lueng dengan permukaan air selututnya, sebelum ia mencapai lueng, ia membuka sepatunya dan menyelamkan kakinya dengan gaya bebas, gak, maksudku gaya batu ke dalam air yang lumayan keruh itu, lalu, setibanya di seberang, masih dengan kaki ayam, beliau mencari rumah penduduk yang berdekatan dengan lueng,  for what ? ya cuci kaki lah, untuk apa lagi ? hehe.. karena rumah-rumah dulu di kampung halaman Pamanku, kamar mandinya itu di luar rumah, jadi, seperti kamar mandi umum yang hanya ditutupi dengan anyaman daun kelapa, dan juga tidak ada larangan untuk memanfaatkan sumber mata airnya, itulah kenapa sumber mata air dulu itu berkah, jarang kemarau, karena pemiliknya gak pelit seperti sekarang ini, hehe..sebenarnya gak ada kaitannya sih, hehe..begitulah peristiwa setiap hari  *mode on Raihan ( peristiwa di subuh hari ) sepanjang hari. Itulah mengapa sepatunya tidak pernah rusak, ia melindunginya dari hantaman apapun,termasuk gangguan lueng tadi.
Sebenarnya aku bohong tentang jarak sekolahnya yang dekat, hehe..jangan serius kali bacanya, karena ini fakta, kemudian,  setelah berjuang di lueng dan pembersihan sepatunya, ia berangkat menuju jalan raya, ia menunggu angkutan umum yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari kaki, maka, aku tidak pernah heran kenapa beliau selalu telat ke sekolahnya, angkutan datang dan Paman harus rela berdiri bahkan menggantung di pintu angkutan,bukan karena tidak ada tempat untuk duduk, bukan. Tapi untuk mengeringkan peluhnya yang menetes deras hingga membasahi bajunya karena kepanasan menunggu angkutan. Oh, alangkah indahnya perjuangan hidup.
Namun, semua hal itu tidak mematahkan semangat Pamanku untuk terus mengukir prestasi di bidang apapun, ia memang terkenal pejuang ke-telatan karena sering tiba di sekolah tidak tepat waktu, tapi ia cerdik, ia mengajak kawannnya belajar bersama dengan diiming-imingi traktiran, dan temannya yang mungkin tidak tahu keadaan ekonomi Pamanku langsung saja percaya akan bayarannya, sehingga ia tidak pernah ketinggalan pelajaran, ayahku memang tidak membayarnya makan bersama di kantin seperti yang anak muda lakukan sekarang, tapi dengan hasil pertanian kakek nenekku. Begitulah setiap hari.
Tiga tahun masa sekolah menengah pertama berlalu, keadaan semakin membaik, tapi tidak dengan kehidupan sekolah Pamanku, hingga tahun itu, belum ada sekolah lanjutan tingkat atas yang dibangun di daerah kampung halaman Paman, masih saja dengan ritual penyebrangan dan pembersihan kakinya, dan juga yang belum berubah, bergelantungan di pintu angkutan, hehe..
Masa SMA tiba dan hampir berakhir, namun semuanya masih sama, dan kedewasaan itu tiba menghampirinya yang saat itu mendekati 18 tahun, ia memutuskan mandiri, bukan mandi sendiri, hal itu tentu aja sudah diajrkan nenekku dari zaman kapan, tapi beliau dengan tekad bulat bak bakpau memutuskan untuk mencari penghasilan tambahan, biasa, laki-laki sejati itu memang harus seperti itu, pekerjaan pertama yang ia lakukan adalah seperti kebiasaan yang ia lakukan dahulu dan sekarang, yaitu menghirup udara segar di pintu angkutan umum itu, tapi bukan untuk mengeringkan keringat lagi, namun untuk menghasilkan keringat yang bisa disulap menjadi logam-logam ajaib yang sekarang mungkin tidak berguna lagi, bayangkan saja, uang jajannya saja hanya Rp.50, sekarang uang segitu bisa  dapat apa say ? hehe..
Walaupun tinggal di udik, namun, cita-cita harus tinggi, Pamanku memang pejuang hebat, ia tidak pernah merasa kalah dengan keadaan, ia ingin selalu dapat mengungguli awan, matahari yang hendak tenggelam dan bulan yang akan muncul hehe..lebay banget, gak gitu-gitu kali lah.
Indahnya perjuangan hidup yang dilewatinya dalam menegakkan sedikitnya orang yang berpendidikan di kampung halamannya membuat ia semakin yakin dengan pilihan yang diambil, ia bertekad akan kuliah.
Masa-masa Arafiq
Arafiq ? gak kenal ya ? dia itu artis bollywood zaman kapan ya ? hehe..aku juga gak ingat, yang jelas Arafiq adalah kiblatnya trend orang-orang zaman itu. Mode pakaian yang sering dipakai Arafiq saat bermain film pada saat itu mungkin mirip dengan penampilan artis Tipe-x zaman sekarang . ( tipe-x, maaf ya ). Celana panjang yang memiliki lubang udara bak corong minyak di bagian bawah seakan-akan adalah hal yang paling keren saat itu. Trend itu terbukti diikuti oleh anak-anak muda yang ingin terlihat keren, tentu saja, Arafiq gitu loh. Dan tidak ketinggalan yang pastinya Pamanku yang satu itu.dengan bermodal uang yang didapatkannya dari sulapan keringat itu, ia memilih membeli sepatu baru, yang agak gaoel katanya, trend sepatu selutut waktu itu adalah high fashion, hampir semua anak muda waktu itu ke kampus dengan menggunakan sepatu banjir itu, ada cerita unik berdasarkan hasil anamnesa yang mendalam dengan beliau, sebenarnya belum banyak yang tahu tentang ini, kan tadi aku juga sudah bilang kalau beliau itu suka banget cari sensasi, agar ia dikenal oleh dosennya dan untuk mencari perhatian lingkungan sekitar, ia menggunakan paku payung yang berukuran kecil tentunya, di bawah  sepatunya, jadi kebayang kan kalau beliau  jalan, tuk..tuk..tuk…semua mata tertuju padanya, bukan, maksudku pada sepatunya yang mengeluarkan suara aneh seperti itu, hehe..
 Begitulah kulasan singkat kisah hidup pamanku yang juga sekarang menjabat sebagai salah satu staf diBank terkemuka di Aceh.
1 Sejenis golok, senjata tajam
2 Sungai kecil



Namaku Ida Maulina, Tempat/tgl lhir  : Lhokseumawe, 19 September 1993, Mahasiswa semester 2 Program Studi Ilmu Keperawatan (2011), Fakultas Kedokteran, UNSYIAH , Email : ida_moena@yahoo.com FB : Ida Moena Maulina ,Twitter : @Ida Moena Maulina, Blog www.idamoenamaulinablogspot.com