Ada
banyak hal yang terjadi di dunia ini sebenarnya tanpa kita sadari, dedaunan
yang berguguran, pergerakan awan, dan tumbuhya benih-benih kehidupan. Namun, kita
adalah nyata, semua ciptaan-Nya yang terlihat itu nyata. Apa yang telah di takdirkan, itulah yang
dituliskan untuk kita di monitor raksasa yang disebut Lawh Mahfuz, dan apa yang
terjadi sekarang kepada ku juga telah di tetapkan sejak zaman Azali, negeriku,
Indonesia, negeriku, tanah kelahiranku. Indonesia adalah negeri yang subur
dengan SDA yang melimpah, tak terkecuali negeri Serambi Mekkah, negeri warisan
Ulama. Berbagai nikmat tanpa henti
datang dari Zat yang Maha memberikan nikmat bagi siapa saja yang mensyukurinya.
Dan dalam keadaan apapun, tetaplah menambah syukur, tongkat kayu yang telah 13
tahun menemaniku juga tidak pernah berhenti bersyukur karena telah berguna
menopang hidupku.
Aceh , 2 Mei 1999
”Mak, anteuk malam long jak bak
dakwah beuh ?”1 aku merengek meminta izin kepada wanita paling
tulus dan teduh hatinya itu, ”Jeut, beu get-get
neuk, I jak ngen abang beuh ! anteuk ie sitot sajan ayah beuh !”2 jawabnya dengan gurat sedikit khawatir kepadaku.
Senang hati tak terkira diizinkan keluar untuk pertama kalinya, iya, sejak
manusia berpakaian loreng-loreng hijau itu berkeliaran di tanah pusakaku, Aceh, Ibu memang tidak pernah mengizinkanku keluar
rumah.
Masyarakat
di daerahku yang masih kental dan fanatic terhadap agama, menganggap dakwah adalah kegiatan yang
menyenangkan, dengan penceramah yang kocak membuat mereka sanggup bergadang dan
berdesak-desakan untuk dapat mengahadiri acara tersebut, seperti persyaratan
yang telah diajukan ibuku tadi, aku ditemanai kakak laki-lakiku, aih, malam itu
semua ketakutan dan kegundahan yang biasanya di sepanjang hari menyerang kami,
seakan hilang tak berbekas, gurat wajah bahagia karena kekocakan sang
penceramah manghiasi seluruh wajah warga yang hadir pada acara tersebut. aih,
bahagianya.
Bagaikan
urutan anak tasbih yang terlepas dari ikatannya, berjatuhan begitu cepat, guratan
bahagia itu telah berubah menjadi siaga dan ketakutan, mereka datang kembali, mengawasi jalannya
kegiatan kami, aku bergegas memeluk kakakku dan menangis karena ketakutan.
Kemudian, aku melihat seseorang yang sangat dekat dengan fikiranku, sosok itu
begitu kukenali walaupun dalam keadaan remang – remang , Ayah. Apa yang sedang
ayah lakukan ? kenapa ayah menghampiri mereka ? kemudian, aku melihat ayah mengerak-gerakkan tangannya seakan memberikan
penjelasan, dan kemudian sepasang tangan kekar dari lawan bicaranya berhamburan
ke tubuh sang penyelamat jiwaku itu, “Ayah !!!” teriakku. Ayah terhempas karena pukulannya,
Biadab ! segera aku berlari ke arah ayahku, tiba-tiba tangan ku di kepal kuat
oleh tangan kekar itu, ternyata kakakku, nanti kalau mereka udah pergi, kita langsung
gendong ayah ke rumah. Seperti di komando, aku mengikuti perintah kakakku,
kemudian aku melihat punggung-pungung yang membelakangiku, mereka pergi. Tanpa
menunggu komando selanjutnya, aku langsung berlari menghampiri ayah, “ayah!!!!”
Teriakku lagi. Bulir bening di ujung kelopak mata ku menetes dengan derasnya,
berbagai cacian, umpatan, dan kebencian yang memuncak memenuhi dadaku sehingga
ia penuh dan membuatku sesak. kami kembali ke rumah. Malam 1 Muharram itu
mengawali kejadian tragis hari-hari selanjutnya.
“Mulai malam nyo, mak, adek, abang, han jeut
tubit saho, na deungo ?”3 ayahku dengan merintih sakit di bagian dekat
bibirnya yang membengkak karena pukulan dari tangan ganas itu menasehati kami. Air
mata ibuku sudah kering, ia sudah lelah menangis, selama beberapa tahun
terakhir ini negeriku ditimpa ujian oleh Allah berupa ketakutan yang mencekam,
disana-sini terdengar suara-suara yang menggelega “sip bos !”, jawabku manja .
Setidaknya, malam ini aku hanya mendengar
dua kali suara suara yang biasanya mengalun
indah sepenjang malam. Aku bersyukur, dalam keadaan mencekam seperti ini,
aku masih di temani keluargaku, lengkap. Aku membayangkan apa yang akan terjadi
jika aku mengalami nasib seperti Meutia, teman sekelasku. Mereka menghabisi
keluarganya malam itu juga, tanpa menunggu mentari yang hangat yang akan menyinari
keluarga itu untuk terakhir kalinya, oh tidak, aku tidak pernah membayangkan harus
hidup sendiri saat saat seperti itu.
Pagi
itu, irama nyanyian burung masih sama seperti hari-hari kemarin, siang hari
adalah waktunya melihat wajah-ajah yang lebih meneduhkan daripada malam hari,
sudah lama aku merindukan sekolahku, namun, teringat janji yang aku ucapkan pada
ayah semalam, akhirnya aku membantu ibuku menjahit beberapa pasang pakaian untuk
menopang hidup keluargaku semenjak ayah pensiunan. Semua terasa normal kembali
jika matahari itu telah mengintip dari ufuk timur. Pagi hingga sore hari mereka
jarang mengunjungi rumah-rumah seperti yang dilakukan pada malam hari. Namun,
tidak untuk pagi itu.
“Tok..tok..tok..buka
pintunya !!” woi, Shalahuddin ! buka pintunya !” kaget setengah mati, aku
membuka pintu karena aku takut gedoran yang kuat itu akan membuat pintu rumah
kami yang sudah lapuk itu hancur, dari jendela aku meghitung jumlah mereka, 3
orang, kulitnya yang gelap membuat aku bergidik ngeri. “cari siapa ?” tanyaku ketus. “Dek, ayahmu mana ?” tanya salah satu dari
mereka yang memiliki wajah lebih beringas dari apapun, tanpa mendengar jawabanku, mereka menerobos
masuk, ”kurang ajar “,fikirku, “memangnya
mereka gak diajarkan pelajaran akidah akhlak apa di sekolah ?” “Shalahuddin,
keluar !” aku bingung, kemana ayah ? kenapa ayah harus lari ? kemudian aku
melihat wajah ayah di balik ruang shalat, ternyata ayah baru saja selesai
shalat Dhuha, ibuku yang sedang menyelesaikan jahitannya langsung mendatangi
kami yang bengong mengenai kedatangan mereka
“Hei
pak, kamu mantan kepala desa, kamu pasti kenal dengan yang namanya Burhan ? “bentaknya
di depan wajah ayahku, geram dengan tingkah mereka, aku meludahi mereka tepat
di sepatunya, melihat aksiku yang tidak sopan, ayah segera memelukku, dan
meminta maaf karena kalekuanku, “pak tentara, saya memang kenal dengan yang
namanya Burhan, dia juga warga desa ini, dia dulu tingggal di dekat krueng4 di sebelah jalan raya
itu, tapi sejak beberapa hari yang lalu, saya sudah tidak pernah melihat dia
lagi, biasanya dia sering nampak di mesjid pak “! merasa tidak puas dengan
jawaban sang pendekarku, benda berbentuk
runcing di bagian ujungnya itu tiba-tiba mengenai dada pahlawanku,
cairan segar muncrat di seluruh tubuhku, jelas saja saat itu aku berada di pelukannya,
ibuku yang schok dan jantungan
dengan keadaan tiba tiba jatuh tersungkur, “tidak !!!” teriak ku,” apa yang
kalian lakukan pada ayahku biadab ?” ayah,
bangun !! mak, bangun mak !! mendengar suara tembakan dari dalam rumah, kakakku
yang sedang berada di ladang dekat rumah, dalam sekejap telah tiba di pintu
rumah, melihat noda merah bersimbah dimana-mana, parang5 yang memang sedang ia pegang, menghantam ke
salah satu dari mereka, tidak terima dengan temannya yang terluka, timah panas
itu kembali dilayangkan ke kepala satu-satunya saudara yang ku milki
itu,sungguh murah harga peluru saat itu, dengan mudahnya mereka melayangkannya
kepada siapa saja yang dijumpainya, dan dalam keadaan tidak berdosa, mereka
meninggalkan mayat-mayat hasil keganasan mereka dan aku yang menjadi setengah
mayat, aku bingung, kenapa mereka membiarkan aku hidup ? kenapa aku tidak bisa
ikut dengan keluargaku kembali kepada Tuhanku bersama-sama ? ayah ! mak ! abang
! jangan tinggalin adek, adek takut sendiri mak, ayah, bangun, ku dekap dan ku
cium semua wajah yang telah menyatu dengan cairan yang ada dalam tubuh mereka,
air mataku seolah telah habis, suaraku hilang karena jeritan, sekarang apa ?
ayah ! bangun yah, siapa lagi yang nganterin adek ke sikula6 kalau bukan ayah ! siapa yang akan lindungin
adek kalau gelap datang, mak, jangan tinggalin adek mak ! mak gak sayang sama
adek ya ? siapa yang sisirin rambut adek lagi mak ? siapa yang akan menyiapkan
adek makan kalau bukan mak, bukannya mak udah janji mau dampingin adek waktu wisuda
sekolah nanti ? abang, siapa yang akan kawanin adek beli es gogo7 siapa
yang bakal ajarin adek pelajaran IPS bang !
tanpa menunggu lama, rumah ku berubah menjadi laut merah dalam sekejap, orang-orang
kampung berdatangan, jerit tangis mereka terdengar jelas di telingaku ? yang
paling menyedihkan adalah “kasihan anak ini, siapa yang akan membiayai hidupnya
sekarang ini ?” itulah kata-kata yang membuat aku masih sering menumpahkan
butiran bening itu jika teringat kembali kejadian Mei 1999 itu, dalam hitungan
menit, aku menjadi yatim piatu, aku menjadi papa, aku menjadi sebatang kara.
Matahari
semakin memerah, semakin menyengat keadaan siang itu, tepat di atas ubun-ubun, Setelah
sadar, aku telah berada di sebuah rumah yang rasanya tidak begitu asing, ini
rumah Cut putri, teman sekelasku juga. Aku sering belajar kelompok disini, Keluarganya sangat baik kepadaku, aku
disuguhi makanan, dan Putri bersedia
meminjamkan bajunya kepadaku, pagi
itu aku sengaja diamankan dari tragedi berdarah di rumahku itu, keluargaku akan
disemayamkan pada hari itu juga, aku yang mengetahui jenazah keluargaku sedang
dimandikan di meunasah 8 dari
orang tua Putri, langsung menjerit dan berlari ke arah meunasah yang tidak jauh dari rumah Putri,
kesedihan itu telah mencapai batasnya, lagi-lagi, aku sesak, isak tangis yang
keluar dari bibirku sekan telah lelah dan meminta istirahat, aku melihat dalam
kekaburan mataku karena dipenuhi dengan butiran bening itu, ibu Putri sedang
mengejarku dari belakang, ia khawatir hal buruk akan terjadi padaku, benar
saja, sebuah mobil sedan plat merah tiba-tiba menghantam tubuhku, ambruk dan terhempas
sejauh 3 meter, aku merasa, Tuhan
mendengarkan doaku, aku akan segera berkumpul bersama dengan keluargaku,” ayah,
mak, abang, tunggu adek.” Mereka tersenyum dan aku berlarian ke arah mereka, aku mencoba menggapai tangan
ibuku, namun seakan terpisah oleh dinding tipis yang sulit untuk ditembus, aku
menangis lagi, “aku tidak ingin pisah lagi dari ayah ! ayah, tolong bawa adek !”
teriakku. namun, sia-sia.
Hinggga
sekarang, aku tidak ingat berapa lama aku membuka mata kembali, yang terlihat
pada waktu itu adalah tiang infus, tempat tidur yang aneh dan sangat berbeda
dengan tempat tidur punyaku yang ayah belikan beberapa bulan yang lalu, dan bau
yang sangat menyengat ini, oh, bau obat dan hawa rumah sakit, aku benci.
Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya yang dari tadi berdiri di sampingku,
mengagetkanku, “alhmdulillah, nak Muna udah sadar,” senyumnya yang tulus sedikit
mengurangi kecemasanku, namun, ada yang aneh dengan tubuhku, aku merasa ada
yang tidak bergerak saat aku bergerak, aku mengintip ke dalam selimutku, Astagfrullah,
cobaan apa lagi ini ya Tuhan ? kemana kau bawa kaki ku ya Allah, kenapa kau
hanya mengizinkan kakiku yang menyusul keluargaku, kenapa Kau tidak mengambil
seluruh bagian tubuhku saja Ya Tuhan ? sekarang, apa yang bisa ku lakukan
dengan tubuh yang tinggal separo ini
? dadaku kembali sesak, rasanya aku tidak mempunyai daya lagi untuk
mengeluarkan air mata. Belum cukupkah Engkau memberikan aku ujian ya tuhan ?
lalu kapan saatnya aku lulus dari ujian ini ? dan kapan saatnya derajatku engkau
tinggikan Ya Allah. Ayah, anakmu ini kini semakin pendek, karena sebagian
tubuhku meghilang, Ibu, tidakkah kau malu mempunyai anak yang cacat seperti ku
? Abang, masihkah kau mau mengajakku untuk jalan-jalan sore seperti biasanya ? apa
aku akan menjadi seperti para peminta yang sangat mengeluk-elukan hati ketika
melihatnya ? apa aku akan menjadi objek kasihan yang siap menerima sumbangan
dari orang lain?
Pedih,
hingga kepedihan itu berlalu perlahan demi perlahan, aku tidak peduli mereka
masih ada atau tidak di kampungku, aku telah mengutuk mereka di hatiku . dan
bersumpah tidak akan pernah menjadi benalu kehidupan seperti apa yang telah
mereka lakukan terhadap keluargaku, mengedepankan amarah dan nafsu belaka dan
membelakangkan hati nurani.
Aku
bangkit dari pemakaman keluargaku, aku berjalan dengan kakiku yang luar biasa,
kembali bekerja di sebuah toko buku di kotaku, di temani teman-teman yang
selalu menebarkan suasana hangat di hatiku, Ayah, Mak, Abang, semoga Allah
menempatkan kalian di tempat terkasih-Nya.
1
“Mak,
nanti malam aku pergi ke acara ceramah ya ?”
2
“ Iya,
hati-hati ya sayang ? nanti pergi sama Abang aja, kalau udah sampek, langsung jumpai ayah ya ?”
3
“Mulai malam ini, Mak, Abang, Adek, jangan ada yang keluar rumah ya ?”
4
Sungai
5 Sejenis golok, senjata
tajam
6
Sekolah
7
Es krim batangan
8
Surau, mesjid
