Powered By Blogger

Rabu, 30 Mei 2012

Mei Berdarah


Ada banyak hal yang terjadi di dunia ini sebenarnya tanpa kita sadari, dedaunan yang berguguran, pergerakan awan, dan tumbuhya benih-benih kehidupan. Namun, kita adalah nyata, semua ciptaan-Nya yang terlihat itu nyata.  Apa yang telah di takdirkan, itulah yang dituliskan untuk kita di monitor raksasa yang disebut Lawh Mahfuz, dan apa yang terjadi sekarang kepada ku juga telah di tetapkan sejak zaman Azali, negeriku, Indonesia, negeriku, tanah kelahiranku. Indonesia adalah negeri yang subur dengan SDA yang melimpah, tak terkecuali negeri Serambi Mekkah, negeri warisan Ulama.  Berbagai nikmat tanpa henti datang dari Zat yang Maha memberikan nikmat bagi siapa saja yang mensyukurinya. Dan dalam keadaan apapun, tetaplah menambah syukur, tongkat kayu yang telah 13 tahun menemaniku juga tidak pernah berhenti bersyukur karena telah berguna menopang hidupku.
 Aceh , 2 Mei 1999
”Mak, anteuk malam long jak bak dakwah beuh ?1  aku merengek meminta izin kepada wanita paling tulus dan teduh hatinya itu, ”Jeut, beu get-get neuk, I jak ngen abang beuh ! anteuk ie sitot sajan ayah beuh !”2  jawabnya dengan gurat sedikit khawatir kepadaku. Senang hati tak terkira diizinkan keluar untuk pertama kalinya, iya, sejak manusia berpakaian loreng-loreng hijau itu berkeliaran di tanah pusakaku,  Aceh, Ibu memang tidak pernah mengizinkanku keluar rumah.   
Masyarakat di daerahku yang masih kental dan fanatic terhadap agama, menganggap dakwah adalah kegiatan yang menyenangkan, dengan penceramah yang kocak membuat mereka sanggup bergadang dan berdesak-desakan untuk dapat mengahadiri acara tersebut, seperti persyaratan yang telah diajukan ibuku tadi, aku ditemanai kakak laki-lakiku, aih, malam itu semua ketakutan dan kegundahan yang biasanya di sepanjang hari menyerang kami, seakan hilang tak berbekas, gurat wajah bahagia karena kekocakan sang penceramah manghiasi seluruh wajah warga yang hadir pada acara tersebut. aih, bahagianya.
Bagaikan urutan anak tasbih yang terlepas dari ikatannya, berjatuhan begitu cepat, guratan bahagia itu telah berubah menjadi siaga dan ketakutan,  mereka datang kembali, mengawasi jalannya kegiatan kami, aku bergegas memeluk kakakku dan menangis karena ketakutan. Kemudian, aku melihat seseorang yang sangat dekat dengan fikiranku, sosok itu begitu kukenali walaupun dalam keadaan remang – remang , Ayah. Apa yang sedang ayah lakukan ? kenapa ayah menghampiri mereka ? kemudian, aku melihat  ayah mengerak-gerakkan tangannya seakan memberikan penjelasan, dan kemudian sepasang tangan kekar dari lawan bicaranya berhamburan ke tubuh sang penyelamat jiwaku itu, “Ayah !!!”  teriakku. Ayah terhempas karena pukulannya, Biadab ! segera aku berlari ke arah ayahku, tiba-tiba tangan ku di kepal kuat oleh tangan kekar itu, ternyata kakakku, nanti kalau mereka udah pergi, kita langsung gendong ayah ke rumah. Seperti di komando, aku mengikuti perintah kakakku, kemudian aku melihat punggung-pungung yang membelakangiku, mereka pergi. Tanpa menunggu komando selanjutnya, aku langsung berlari menghampiri ayah, “ayah!!!!” Teriakku lagi. Bulir bening di ujung kelopak mata ku menetes dengan derasnya, berbagai cacian, umpatan, dan kebencian yang memuncak memenuhi dadaku sehingga ia penuh dan membuatku sesak. kami kembali ke rumah. Malam 1 Muharram itu mengawali kejadian tragis hari-hari selanjutnya.
Mulai malam nyo, mak, adek, abang, han jeut tubit saho, na deungo ?3  ayahku dengan merintih sakit di bagian dekat bibirnya yang membengkak karena pukulan dari tangan ganas itu menasehati kami. Air mata ibuku sudah kering, ia sudah lelah menangis, selama beberapa tahun terakhir ini negeriku ditimpa ujian oleh Allah berupa ketakutan yang mencekam, disana-sini terdengar suara-suara yang menggelega “sip bos !”, jawabku manja . Setidaknya, malam ini aku hanya mendengar  dua kali suara suara yang biasanya mengalun indah sepenjang malam. Aku bersyukur, dalam keadaan mencekam seperti ini, aku masih di temani keluargaku, lengkap. Aku membayangkan apa yang akan terjadi jika aku mengalami nasib seperti Meutia, teman sekelasku. Mereka menghabisi keluarganya malam itu juga, tanpa menunggu mentari yang hangat yang akan menyinari keluarga itu untuk terakhir kalinya, oh tidak, aku tidak pernah membayangkan harus hidup sendiri saat saat seperti itu.
Pagi itu, irama nyanyian burung masih sama seperti hari-hari kemarin, siang hari adalah waktunya melihat wajah-ajah yang lebih meneduhkan daripada malam hari, sudah lama aku merindukan sekolahku,  namun, teringat janji yang aku ucapkan pada ayah semalam, akhirnya aku membantu ibuku menjahit beberapa pasang pakaian untuk menopang hidup keluargaku semenjak ayah pensiunan. Semua terasa normal kembali jika matahari itu telah mengintip dari ufuk timur. Pagi hingga sore hari mereka jarang mengunjungi rumah-rumah seperti yang dilakukan pada malam hari. Namun, tidak untuk pagi itu.
“Tok..tok..tok..buka pintunya !!” woi, Shalahuddin ! buka pintunya !” kaget setengah mati, aku membuka pintu karena aku takut gedoran yang kuat itu akan membuat pintu rumah kami yang sudah lapuk itu hancur, dari jendela aku meghitung jumlah mereka, 3 orang, kulitnya yang gelap membuat aku bergidik ngeri.  “cari siapa ?” tanyaku ketus.  “Dek, ayahmu mana ?” tanya salah satu dari mereka yang memiliki wajah lebih beringas dari apapun,  tanpa mendengar jawabanku, mereka menerobos masuk, ”kurang ajar “,fikirku,  “memangnya mereka gak diajarkan pelajaran akidah akhlak apa di sekolah ?” “Shalahuddin, keluar !” aku bingung, kemana ayah ? kenapa ayah harus lari ? kemudian aku melihat wajah ayah di balik ruang shalat, ternyata ayah baru saja selesai shalat Dhuha, ibuku yang sedang menyelesaikan jahitannya langsung mendatangi kami yang bengong mengenai kedatangan mereka
“Hei pak, kamu mantan kepala desa, kamu pasti kenal dengan yang namanya Burhan ? “bentaknya di depan wajah ayahku, geram dengan tingkah mereka, aku meludahi mereka tepat di sepatunya, melihat aksiku yang tidak sopan, ayah segera memelukku, dan meminta maaf karena kalekuanku, “pak tentara, saya memang kenal dengan yang namanya Burhan, dia juga warga desa ini, dia dulu tingggal di dekat krueng4 di sebelah jalan raya itu, tapi sejak beberapa hari yang lalu, saya sudah tidak pernah melihat dia lagi, biasanya dia sering nampak di mesjid pak “! merasa tidak puas dengan jawaban sang pendekarku, benda berbentuk  runcing di bagian ujungnya itu tiba-tiba mengenai dada pahlawanku, cairan segar muncrat di seluruh tubuhku, jelas saja saat itu aku berada di pelukannya, ibuku yang schok  dan jantungan dengan keadaan tiba tiba jatuh tersungkur, “tidak !!!” teriak ku,” apa yang kalian lakukan pada ayahku  biadab ?” ayah, bangun !! mak, bangun mak !! mendengar suara tembakan dari dalam rumah, kakakku yang sedang berada di ladang dekat rumah, dalam sekejap telah tiba di pintu rumah, melihat noda merah bersimbah dimana-mana, parang5 yang memang sedang ia pegang, menghantam ke salah satu dari mereka, tidak terima dengan temannya yang terluka, timah panas itu kembali dilayangkan ke kepala satu-satunya saudara yang ku milki itu,sungguh murah harga peluru saat itu, dengan mudahnya mereka melayangkannya kepada siapa saja yang dijumpainya, dan dalam keadaan tidak berdosa, mereka meninggalkan mayat-mayat hasil keganasan mereka dan aku yang menjadi setengah mayat, aku bingung, kenapa mereka membiarkan aku hidup ? kenapa aku tidak bisa ikut dengan keluargaku kembali kepada Tuhanku bersama-sama ? ayah ! mak ! abang ! jangan tinggalin adek, adek takut sendiri mak, ayah, bangun, ku dekap dan ku cium semua wajah yang telah menyatu dengan cairan yang ada dalam tubuh mereka, air mataku seolah telah habis, suaraku hilang karena jeritan, sekarang apa ? ayah ! bangun yah, siapa lagi yang nganterin adek ke sikula6 kalau bukan ayah ! siapa yang akan lindungin adek kalau gelap datang, mak, jangan tinggalin adek mak ! mak gak sayang sama adek ya ? siapa yang sisirin rambut adek lagi mak ? siapa yang akan menyiapkan adek makan kalau bukan mak, bukannya mak udah janji mau dampingin adek waktu wisuda sekolah nanti ? abang, siapa yang akan  kawanin adek beli es gogo7  siapa yang bakal ajarin adek pelajaran IPS bang !  tanpa menunggu lama, rumah ku berubah menjadi laut merah dalam sekejap, orang-orang kampung berdatangan, jerit tangis mereka terdengar jelas di telingaku ? yang paling menyedihkan adalah “kasihan anak ini, siapa yang akan membiayai hidupnya sekarang ini ?” itulah kata-kata yang membuat aku masih sering menumpahkan butiran bening itu jika teringat kembali kejadian Mei 1999 itu, dalam hitungan menit, aku menjadi yatim piatu, aku menjadi papa, aku menjadi sebatang  kara.
Matahari semakin memerah, semakin menyengat keadaan siang itu, tepat di atas ubun-ubun, Setelah sadar, aku telah berada di sebuah rumah yang rasanya tidak begitu asing, ini rumah Cut putri, teman sekelasku juga. Aku sering belajar kelompok disini,  Keluarganya sangat baik kepadaku, aku disuguhi makanan, dan Putri bersedia  meminjamkan bajunya  kepadaku, pagi itu aku sengaja diamankan dari tragedi berdarah di rumahku itu, keluargaku akan disemayamkan pada hari itu juga, aku yang mengetahui jenazah keluargaku sedang dimandikan di meunasah 8 dari orang tua Putri, langsung menjerit dan berlari ke  arah meunasah yang tidak jauh dari rumah Putri, kesedihan itu telah mencapai batasnya, lagi-lagi, aku sesak, isak tangis yang keluar dari bibirku sekan telah lelah dan meminta istirahat, aku melihat dalam kekaburan mataku karena dipenuhi dengan butiran bening itu, ibu Putri sedang mengejarku dari belakang, ia khawatir hal buruk akan terjadi padaku, benar saja, sebuah mobil sedan plat merah tiba-tiba menghantam tubuhku, ambruk dan terhempas sejauh 3  meter, aku merasa, Tuhan mendengarkan doaku, aku akan segera berkumpul bersama dengan keluargaku,” ayah, mak, abang, tunggu adek.” Mereka tersenyum dan aku berlarian ke  arah mereka, aku mencoba menggapai tangan ibuku, namun seakan terpisah oleh dinding tipis yang sulit untuk ditembus, aku menangis lagi, “aku tidak ingin pisah lagi dari ayah ! ayah, tolong bawa adek !” teriakku. namun, sia-sia.
Hinggga sekarang, aku tidak ingat berapa lama aku membuka mata kembali, yang terlihat pada waktu itu adalah tiang infus, tempat tidur yang aneh dan sangat berbeda dengan tempat tidur punyaku yang ayah belikan beberapa bulan yang lalu, dan bau yang sangat menyengat ini, oh, bau obat dan hawa rumah sakit, aku benci. Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya yang dari tadi berdiri di sampingku, mengagetkanku, “alhmdulillah, nak Muna udah sadar,” senyumnya yang tulus sedikit mengurangi kecemasanku, namun, ada yang aneh dengan tubuhku, aku merasa ada yang tidak bergerak saat aku bergerak, aku mengintip ke dalam selimutku, Astagfrullah, cobaan apa lagi ini ya Tuhan ? kemana kau bawa kaki ku ya Allah, kenapa kau hanya mengizinkan kakiku yang menyusul keluargaku, kenapa Kau tidak mengambil seluruh bagian tubuhku saja Ya Tuhan ? sekarang, apa yang bisa ku lakukan dengan tubuh yang tinggal separo ini ? dadaku kembali sesak, rasanya aku tidak mempunyai daya lagi untuk mengeluarkan air mata. Belum cukupkah Engkau memberikan aku ujian ya tuhan ? lalu kapan saatnya aku lulus dari ujian ini ? dan kapan saatnya derajatku engkau tinggikan Ya Allah. Ayah, anakmu ini kini semakin pendek, karena sebagian tubuhku meghilang, Ibu, tidakkah kau malu mempunyai anak yang cacat seperti ku ? Abang, masihkah kau mau mengajakku untuk jalan-jalan sore seperti biasanya ? apa aku akan menjadi seperti para peminta yang sangat mengeluk-elukan hati ketika melihatnya ? apa aku akan menjadi objek kasihan yang siap menerima sumbangan dari orang lain?
Pedih, hingga kepedihan itu berlalu perlahan demi perlahan, aku tidak peduli mereka masih ada atau tidak di kampungku, aku telah mengutuk mereka di hatiku . dan bersumpah tidak akan pernah menjadi benalu kehidupan seperti apa yang telah mereka lakukan terhadap keluargaku, mengedepankan amarah dan nafsu belaka dan membelakangkan hati nurani.
Aku bangkit dari pemakaman keluargaku, aku berjalan dengan kakiku yang luar biasa, kembali bekerja di sebuah toko buku di kotaku, di temani teman-teman yang selalu menebarkan suasana hangat di hatiku, Ayah, Mak, Abang, semoga Allah menempatkan kalian di tempat terkasih-Nya.

1 “Mak, nanti malam aku pergi ke acara ceramah ya ?”
2 “ Iya, hati-hati ya sayang ? nanti pergi sama Abang aja, kalau udah sampek, langsung jumpai ayah ya ?”
3 “Mulai malam ini, Mak, Abang, Adek, jangan ada yang keluar rumah ya ?”
4 Sungai
5  Sejenis golok, senjata tajam
6 Sekolah
7 Es krim batangan
8 Surau, mesjid


Tidak ada komentar:

Posting Komentar