PROGNASE HIDUP SANG PEMIMPI
Oleh : Ida Maulina
Kebahagian
itu hak semua orang, itu pasti, aku
yakin dengan jimat ampuh yang sering kali ku dengar dari lingkungan
pendidikanku itu , man jadda wa jada,
dan dengan tidak mengetahui artinya pun, aku masih tetap yakin, sesuatu yang
telah diucapkan berulang-ulang saat kegundahan dan rasa pesimisme itu datang
pasti menimbulkan keberuntungan, pikirku waktu itu yang masih berusia 10 tahun,
dan juga, keyakinan akan datangnya kebahagian yang timbul dari rasa bangga akan ideologi yang ditanamkan oleh sosok idolaku
yaitu orang yang paling the best se-dunia yang bernama Muhammad, yaitu ideologi
Islam, tidak ada perbedaan antar satu ‘kepala’ dengan ‘kepala’ lainnya, selain
terletak pada tingkat ketaqwaan pada Zat yang Menciptakan saja, itu menjadi point plus yang mendukung tingkat
keyakinan ku tadi. Dan yang paling penting lagi, kebahagian tidak terletak pada
suatu objektivitas saja, tidak karena uang kita bahagia, tidak karena
popularitas dan kedudukan kita bahagia, dan juga tidak karena kecerdasan semata
yang membuat kita mampu menguasai dunia, namun sejauh mana kita bisa
‘dimanfaatkan’ oleh orang lain dengan segala skill yang kita punya, itulah
tolak ukur kebahagian sejati kita sebagai khalifah sosial di muka bumi.
Butiran
bening yang jatuh dari langit kembali menyapaku, seperti biasa, ia senang kali menggelitiku saat tidur, atap rumbia
yang telah berumur lebih tua dari umurku menjadi satu-atunya alasan agar hujan
dapat bertemu denganku, entah berapa produk kiramas
lagi yang harus ku jejerkan di tempat tidurku, aku hanya ingin menyelamatkan
kasur kesayanganku, tidak hanya itu,
kehadirannya yang hampir memenuhi ruangan di rumahku membuat kami tidak
membutuhkan lagi alat canggih yang disebut AC, betapa tidak, angin sepoi-sepoi
disertai gerimis sudah cukup membuat kami meringkuk dalam kedinginan, sejak
pahlawan kami pergi menghadap Zat yang telah lama dirindukannya, aku hidup
dengan ibuku, aku masih belum bisa mengingat kejadian itu hingga sekarang
karena ia pergi saat aku masih dalam kategori Batita, jadi aku hanya
mengandalkan kisah-kisah dari ibuku dan berusaha membayangkan bagaimana rupa
sosok pejuang sejati di rumahku itu, Nadia, itulah warisan yang paling berharga
yang dititipkannya kepada ibuku, Nadia adalah namaku, ayahku menyematkannya 18
tahun yang lalu.
Menjadi
buruh bangunan memang sangat membuat hati was-was, selain fisik yang harus
kuat, mental adalah syarat kedua terpenting untuk dapat menyandang status buruh
tersebut. Ketidakhati-hatian dan kelalaian adalah sifat alami manusia, namun,
yang paling menyakitkan adalah jika kelalaian yang kita perbuat merugikan orang
lain, terparah hingga mengakibatkan kerugian hidupnya, 27 ramadhan 1996, beliau
mengalami kecelakaan di tempatnya bekerja karena kelalaian rekan kerjanya, keinginan
untuk membelikan ibu dan aku baju baru untuk perdana kalinya membuat ia nekad bekerja pada shift yang bukan jatahnya, waktu itu,
uang yang dimiliki dengan harga baju lebaran saat itu masih belum seimbang, ayahku harus bekerja
tambahan untuk memenuhi kasih sayangnya kepada keluarganya, ayah, sungguh, ku
relakan semua point keburukan yang pernah engkau lakukan untuk dibagi denganku,
dan memberikan poin-poin kebaikakanku untukmu, agar engkau dibebaskan dari
pertanyaan kubur yang menyulitkan, sungguh, hanya itu yang bisa aku lakukan
untuk membalas semua yang telah engkau berikan kepada kami
“Nad,
tolong ambilkan seuke1 di bawah pohon kelapa belakang rumah ya ? tadi
Ibu jemur disitu, hujannya makin deras, nanti keburu basah !” teriakan Ibu
membuyarkan lamunanku bersama produk kiramas-kiramas itu, “iya Bu !” jawabku,
wanita penyabar dan wonder women satu-satunya
milikku itu adalah pengrajin tikar, tangannya sangat lihai dalam merajut
tikar-tikar tersebut, bahkan sering dilakukannya sendiri karena aku ke sekolah,
ia menjajakannya ke rumah-rumah setiap seminggu sekali, dari situlah kami
menopang hidup kami, dari situlah aku bisa mengenyam kembali indahnya ilmu
pengetahuan yang sempat terputus karena sang pahlawanku telah pergi, tikar-tikar
itulah sumber perantaraan rejeki yang dititipkan Zat yang Maha Pemberi Rezeki
kepada kami, sungguh, Allah Maha Berbuat Baik
Aku
bahagia meski keluargaku tidak selengkap keluarga teman-temanku, mereka memilki
orang tua, saudara-saudara yang siap untuk menuai canda setiap waktu, dan
mereka yang memiliki waktu senggang yang digunakan untuk merehatkan dirinya, karena
dengan begitu aku mengerti bagaimana arti mempertahankan hidup yang sebenarnya,
dan karena dengan begitu aku mendapatkan ladang amal untuk berbakti kepada
ibuku sepenuhnya, dan mendapatkan kasih sayang full tanpa harus dibagi-bagi dengan saudara-saudara yang lainnya
seperti yang dialami teman-temanku, hidup berdua dengan Ibu adalah takdir yang
telah Tuhan gariskan kepada keluarga ku, Allah tahu, betapa kuatnya Ibuku,
sehingga ia akan mampu membesarkanku seorang diri dengan semua upaya yang ia
miliki. Aku sadar dan cukup paham kelelahan Ibu dalam mengasuhku, aku tidak
ingin mengecewakannya walau sedikiit pun, itu aku buktikan dengan kegemaranku
dalam belajar, dan Alhamdulillah, aku bisa menuai bukti tersebut dengan
mempertahankan prestasi yang aku dapatkan sejak kelas 1 SD, aku benar-benar
bahagia.
“Nad,
jajan yuk ?” ajak Yusra, dia teman sekelasku, “gak Ra,” jelas saja aku menolak
ajakannya, uang di sakuku hanya cukup untuk biaya angkutanku pulang nanti, Ibu lagi
gak dapat rezeki, tikar-tikarnya kali ini kurang diminati, katanya kurang
warna, iya, tabungan Ibu habis dan tidak mencukupi membeli tinta warna-warni
yang biasanya digunakan untuk mempercantik tikar-tikarnya itu, “aku traktirin
kamu ya ?” Yusra memang anak yang ringan tangan, tidak hanya kaya dan pintar,
dia juga cantik, secantik hatinya.
Lambung
yang telah terbiasa untuk tidak diajak makan pada jam istirahat membuatku tidak
pernah risau ketika uang jajanku runyam, dan jika kejadiannya seperti sekarang
ini, aku tidak bisa menolaknya, namanya aja rejeki.hehe..
Hidup
boleh sederhana, namun cita-cita harus melangit setinggi-tingginya, bermimpilah
seindah-indahnya, karena hanya Allah lah yang berhak mengabulkan mimpi menjadi
nyata, keinginan menjadi tenaga medis yang membaktikan hidupnya uuntuk orang
lain adalah mimpiku sejak kecil, dokter, begitu orang-orang menyebutnya,
mungkin sebagian orang akan menertawakanku dan mengatakan ‘ngaca dong !’ aku
bertambah senang, karena apa yang mereka katakan memang benar, aku sudah
berkaca berkali-kali, dan aku memang pantas memiliki cita-cita seperti itu.
Jarak
sejauh 3 km itu membuatku harus mengguanakan angkutan umum untuk mengenyam
bangku pendidikan, namun, tidak ada yang sulit bagiku, toh Tuhan masih memberiku
alat berjalan yang lengkap dan tubuh serta pikiran yang sehat, kenapa tidak aku
manfaatkan ?? tiba-tiba alat bermesin beroda enam ini berhenti, ku dengar
kegaduhan di luar sana, “kenapa pak ?!” tanyaku karena penasaran yang
membuncak, “ada orang kecelakaan dek
nong,2” tewas di tempat,!” jelas pak sopir, sempat miris saat
mendengarnya, namun, untuk mengusir kekhawatiran, dan tanpa berpikir panjang,
aku hanya berharap semua baik-baik saja, baru saja aku ingin kembali ke tempat
dudukku sebelum terlihat oleh pandanganku, Tikar. Tidak, itu tidak mungkin ibu,
ibu masih sehat-sehat aja, teh manis buatannya tadi pagi masih tersisa di
gerahamku, lututku lemas, jemariku bergetar hebat, aku menjerit sekuat-kuatnya
saat melihat tangan berbalut si kental merah darah, pedih sekali rasanya, sosok
tak berdaya itu adalah wanita wonder women milikku, “ibuuuu !!! kenapa bu ??
kenapa ibu setega itu ? kenapa ibu tinggalin aku ? bagaimana hidupku jika tanpa
ibu ! bu, bangun bu ! bangun!! Tolongg..!!! tolonggg..!!!” teriakan itu hanya
menyisakan gaung tak berarti, Ibu tidak mungkih hidup kembali, sesungguhnya,
setiap makhluk yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya, ibu, bagaimana mungkin
aku menjalani hidupku sendirian tanpamu, bukankah ibu berjanji untuk menghadiri
pembagian raportku minggu depan ? bukankah ibu berjanji akan membelikanku
sepatu baru jika rangking 1 masih tetap di tangan ku ? apa yang harus ku
lakukan dengan tubuh kurus tak bergizi ini bu ? apa yang dapat aku lakukan
untuk memenuhi panggilan cacing-cacing di perutku ? lalu, bagaimana dengan
biaya sekolahku bu ? bukannya ibu berjanji akan menyekolahkanku hingga menjadi
seperti apa yang aku inginkan ? sekarang bagaimana bu ? pupus. musnah. tak
berbekas.
Aku
yang menyedihkan, ditinggal mati kedua orang tuaku, sebatang kara melewati
alur-alur kehidupan yang kejam, menyambung nafas dengan tali-tali dermawan yang
baik hatinya, uluran-uluran tangan bertanggung jawab menjadi titik terang dalam
kegelapan, pendidikanku selesai enam tahun, dan kini saatnya bermetamorfosis,
aku telah dewasa sebelum waktunya, aku memutuskan untuk mencari ‘makan’ dengan
tanganku sendiri, sebagai manusia yang memilki harga diri dan rasa malu untuk
terus mengharap dari orang lain, aku akan menghidupi diriku sendiri, aku malu
dengan tuhanku, organ lengkap tanpa cacat satu-satunya harta yang paling
berharga yang aku miliki, dengan bermodalkan tekad yang hanya sebiji sawi, aku
memutuskan untuk menjadi buruh cuci keliling, rumah-rumah di desa seberang pun
ku jajahi, tubuh yang memang tanpa gizi ini menjadi semakin ‘sehat’ dan ‘kuat’,
berulang kali aku harus merecharge
nya hingga beberapa hari karena ‘lowbat’, namun semangat juang untuk makan dan
menyambung pendidikan berhasil mengalahkan keputusasaan, peluh peluh asin yang
disulap menjadi uang kertas dengan gambar alat musik pecahan 5 ribuan yang terkumpul akhirnya telah meluluskan aku di
bangku tingkat pertama dan membawa pencerahan hingga ke tingkat selanjutnya.
Hidup
masih harus berlangsung, aku harus tetap hidup, aku harus tetap punya mimpi,
aku masih ingat dulu aku memiliki mimpi menjadi ‘tukang ngobatin’, dan itu
tidak pernah pudar dalam ingatan, aku mengikuti program beasiswa di sekolahku
dan itu memudahkan jalan fikiranku, aku tidak perlu lagi repot-repot memikirkan
uang untuk sekolah, sekarang yang harus dicari adalah makan, karena makan untuk
hidup, dengan tidak hidup maka mimpi itu tidak mungkin tersampaikan, bagaimana
mungkin mimpi itu nyata sedangkan si pemilik mimpi telah ghaib dari kehidupan, dan
dengan hasil dari cucian-cucian tadi, aku ‘jualan’ pulsa, sampai-sampai aku
digelari N-KIOS, N yang berarti Nadya,hehe.. semua hasil keuntungan itu
ditabung agar bisa terus menyambung hidup yang malang ini.
Aku
pernah mendengar, entah pepatah atau semacamnya, katanya “ bermimpilah, maka Tuhan
akan mengabulkan mimpimu ! “ itu juga jimat ampuh yang aku yakini bisa merubah
jalan hidupku, itulah menggaapa aku merasa sangat pantas untuk memiliki mimpi
seperti itu, kerikil-kerikil tajam dan berbahaya memang seringkali melintas di
jalanan hidupku, namun, selalu saja ada jalanan yang mulus yang sedang
disiapkan untukku di depan sana untuk menyemangatiku dan tidak mudah putus asa
dalam hidup, aku tidak mungkin dapat bertahan hingga menjadi sekokoh ini jika
bukan karena keajaiban-keajaiban yang selalu saja telah dihidangkan Tuhan
untukku. Hari itu, sekolahku mendapat kesempatan mengirimkan15 orang terbaik di
sekolah untuk mendapatkan program undangan untuk melanjutkan ke universitas, benar
seperti kataku tadi, ada seseuatu di balik semua penderitaan ini, 3 minggu
berlalu dan tibalah hari yang menegangkan itu,
“Nad, kamu kemarin pilih jurusan apa ? aku dengar kamu mau jadi dokter
ya ? kamu optimis banget ya ? harusnya, kamu itu cermat dong ! yang kira-kira
lulus aja kamu ambil ! jurusan itu kan tempatnya orang-orang ‘berada’,harusnya
kamu…..” “iya Put, optimis itu memang perlu, semoga sukses ya Put, sampai
ketemu !!” aku memilih menarik diri dari hadapan orang-orang yang terus
menebarkan aura negative di telingaku, aku tidak ingin mengecewakan kedua orang
tuaku, aku tidak ingin hidup terus-terusan seperti ini, aku tidak ingin apa
yang aku alami, akan dirasakan pula oleh anak cucuku kelak.
“Alhamdulillah,
aku diterima ! aku lulus ya Allah, Ayah, Ibu, anakmu lulus,” ini bukan lagi
mimpi, ini nyata, berulang kali aku meyainkan diriku kalau ini semua tidak
hanya khayalan, tapi ini benar-benar terjadi, aku memberitahukan kabar gembira
ini ke semua kerabatku, tetangga-tetangggaku, aku benar-benar bahagia, inna ma’al usri yusra, sesungguhnya
beserta kesulitan itu ada kemudahan, dan aku rasa, inilah saatnya mengganti
semua peluh-peluh yang telah aku produksi dulu menjadi peluh-peluh baru yang
akan lebih besar hasilnya, kebahagian itu belum cukup hingga aku mendapat kabar
bahwa universitas mengadakan program beasiswa yang sangat menggirangkan jiwa,
aku mencoba kesempatan itu dan lagi-lagi syukur tak henti hanya kepada Zat Maha
Pemberi Rezeki.
Bagiku,
tidak ada yang tidak mungkin, semua orang berhak menjadi pemenang, semua orang
berhak atas kebahagian mereka, dan Tuhan tidak pernah memberikan apa yang kita
inginkan, namun selalu mencurahkan apa yang kita butuhkan, karena semua yang
dicurahkan-Nya, akan indah pada waktunya.
1
daun
pandan, bahan dasar pembuat tikar pandan
2
panggilan
untuk gadis kecil

Tidak ada komentar:
Posting Komentar