Powered By Blogger

Rabu, 30 Mei 2012

Prognase Hidup Sang Pemimpi


PROGNASE HIDUP SANG PEMIMPI
Oleh : Ida Maulina
Kebahagian itu hak  semua orang, itu pasti, aku yakin dengan jimat ampuh yang sering kali ku dengar dari lingkungan pendidikanku itu , man jadda wa jada, dan dengan tidak mengetahui artinya pun, aku masih tetap yakin, sesuatu yang telah diucapkan berulang-ulang saat kegundahan dan rasa pesimisme itu datang pasti menimbulkan keberuntungan, pikirku waktu itu yang masih berusia 10 tahun, dan juga, keyakinan akan datangnya kebahagian yang timbul dari  rasa bangga akan  ideologi yang ditanamkan oleh sosok idolaku yaitu orang yang paling the best se-dunia yang bernama Muhammad, yaitu ideologi Islam, tidak ada perbedaan antar satu ‘kepala’ dengan ‘kepala’ lainnya, selain terletak pada tingkat ketaqwaan pada Zat yang Menciptakan saja, itu menjadi point plus yang mendukung tingkat keyakinan ku tadi. Dan yang paling penting lagi, kebahagian tidak terletak pada suatu objektivitas saja, tidak karena uang kita bahagia, tidak karena popularitas dan kedudukan kita bahagia, dan juga tidak karena kecerdasan semata yang membuat kita mampu menguasai dunia, namun sejauh mana kita bisa ‘dimanfaatkan’ oleh orang lain dengan segala skill yang kita punya, itulah tolak ukur kebahagian sejati kita sebagai khalifah sosial di muka bumi.
Butiran bening yang jatuh dari langit kembali menyapaku, seperti biasa, ia senang kali menggelitiku saat tidur, atap rumbia yang telah berumur lebih tua dari umurku menjadi satu-atunya alasan agar hujan dapat bertemu denganku, entah berapa produk kiramas lagi yang harus ku jejerkan di tempat tidurku, aku hanya ingin menyelamatkan kasur kesayanganku,  tidak hanya itu, kehadirannya yang hampir memenuhi ruangan di rumahku membuat kami tidak membutuhkan lagi alat canggih yang disebut AC, betapa tidak, angin sepoi-sepoi disertai gerimis sudah cukup membuat kami meringkuk dalam kedinginan, sejak pahlawan kami pergi menghadap Zat yang telah lama dirindukannya, aku hidup dengan ibuku, aku masih belum bisa mengingat kejadian itu hingga sekarang karena ia pergi saat aku masih dalam kategori Batita, jadi aku hanya mengandalkan kisah-kisah dari ibuku dan berusaha membayangkan bagaimana rupa sosok pejuang sejati di rumahku itu, Nadia, itulah warisan yang paling berharga yang dititipkannya kepada ibuku, Nadia adalah namaku, ayahku menyematkannya 18 tahun yang lalu.
Menjadi buruh bangunan memang sangat membuat hati was-was, selain fisik yang harus kuat, mental adalah syarat kedua terpenting untuk dapat menyandang status buruh tersebut. Ketidakhati-hatian dan kelalaian adalah sifat alami manusia, namun, yang paling menyakitkan adalah jika kelalaian yang kita perbuat merugikan orang lain, terparah hingga mengakibatkan kerugian hidupnya, 27 ramadhan 1996, beliau mengalami kecelakaan di tempatnya bekerja karena kelalaian rekan kerjanya, keinginan untuk membelikan ibu dan aku baju baru untuk  perdana kalinya membuat ia nekad bekerja pada shift yang bukan jatahnya, waktu itu, uang yang dimiliki dengan harga baju lebaran  saat itu masih belum seimbang, ayahku harus bekerja tambahan untuk memenuhi kasih sayangnya kepada keluarganya, ayah, sungguh, ku relakan semua point keburukan yang pernah engkau lakukan untuk dibagi denganku, dan memberikan poin-poin kebaikakanku untukmu, agar engkau dibebaskan dari pertanyaan kubur yang menyulitkan, sungguh, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membalas semua yang telah engkau berikan kepada kami
“Nad, tolong ambilkan  seuke1 di bawah pohon kelapa belakang rumah ya ? tadi Ibu jemur disitu, hujannya makin deras, nanti keburu basah !” teriakan Ibu membuyarkan lamunanku bersama produk kiramas-kiramas itu, “iya Bu !” jawabku, wanita penyabar dan wonder women satu-satunya milikku itu adalah pengrajin tikar, tangannya sangat lihai dalam merajut tikar-tikar tersebut, bahkan sering dilakukannya sendiri karena aku ke sekolah, ia menjajakannya ke rumah-rumah setiap seminggu sekali, dari situlah kami menopang hidup kami, dari situlah aku bisa mengenyam kembali indahnya ilmu pengetahuan yang sempat terputus karena sang pahlawanku telah pergi, tikar-tikar itulah sumber perantaraan rejeki yang dititipkan Zat yang Maha Pemberi Rezeki kepada kami, sungguh, Allah Maha Berbuat Baik
Aku bahagia meski keluargaku tidak selengkap keluarga teman-temanku, mereka memilki orang tua, saudara-saudara yang siap untuk menuai canda setiap waktu, dan mereka yang memiliki waktu senggang yang digunakan untuk merehatkan dirinya, karena dengan begitu aku mengerti bagaimana arti mempertahankan hidup yang sebenarnya, dan karena dengan begitu aku mendapatkan ladang amal untuk berbakti kepada ibuku sepenuhnya, dan mendapatkan kasih sayang full tanpa harus dibagi-bagi dengan saudara-saudara yang lainnya seperti yang dialami teman-temanku, hidup berdua dengan Ibu adalah takdir yang telah Tuhan gariskan kepada keluarga ku, Allah tahu, betapa kuatnya Ibuku, sehingga ia akan mampu membesarkanku seorang diri dengan semua upaya yang ia miliki. Aku sadar dan cukup paham kelelahan Ibu dalam mengasuhku, aku tidak ingin mengecewakannya walau sedikiit pun, itu aku buktikan dengan kegemaranku dalam belajar, dan Alhamdulillah, aku bisa menuai bukti tersebut dengan mempertahankan prestasi yang aku dapatkan sejak kelas 1 SD, aku benar-benar bahagia.
“Nad, jajan yuk ?” ajak Yusra, dia teman sekelasku, “gak Ra,” jelas saja aku menolak ajakannya, uang di sakuku hanya cukup untuk biaya angkutanku pulang nanti, Ibu lagi gak dapat rezeki, tikar-tikarnya kali ini kurang diminati, katanya kurang warna, iya, tabungan Ibu habis dan tidak mencukupi membeli tinta warna-warni yang biasanya digunakan untuk mempercantik tikar-tikarnya itu, “aku traktirin kamu ya ?” Yusra memang anak yang ringan tangan, tidak hanya kaya dan pintar, dia juga cantik, secantik hatinya.
Lambung yang telah terbiasa untuk tidak diajak makan pada jam istirahat membuatku tidak pernah risau ketika uang jajanku runyam, dan jika kejadiannya seperti sekarang ini, aku tidak bisa menolaknya, namanya aja rejeki.hehe..
Hidup boleh sederhana, namun cita-cita harus melangit setinggi-tingginya, bermimpilah seindah-indahnya, karena hanya Allah lah yang berhak mengabulkan mimpi menjadi nyata, keinginan menjadi tenaga medis yang membaktikan hidupnya uuntuk orang lain adalah mimpiku sejak kecil, dokter, begitu orang-orang menyebutnya, mungkin sebagian orang akan menertawakanku dan mengatakan ‘ngaca dong !’ aku bertambah senang, karena apa yang mereka katakan memang benar, aku sudah berkaca berkali-kali, dan aku memang pantas memiliki cita-cita seperti itu.
Jarak sejauh 3 km itu membuatku harus mengguanakan angkutan umum untuk mengenyam bangku pendidikan, namun, tidak ada yang sulit bagiku, toh Tuhan masih memberiku alat berjalan yang lengkap dan tubuh serta pikiran yang sehat, kenapa tidak aku manfaatkan ?? tiba-tiba alat bermesin beroda enam ini berhenti, ku dengar kegaduhan di luar sana, “kenapa pak ?!” tanyaku karena penasaran yang membuncak, “ada orang kecelakaan dek nong,2” tewas di tempat,!” jelas pak sopir, sempat miris saat mendengarnya, namun, untuk mengusir kekhawatiran, dan tanpa berpikir panjang, aku hanya berharap semua baik-baik saja, baru saja aku ingin kembali ke tempat dudukku sebelum terlihat oleh pandanganku, Tikar. Tidak, itu tidak mungkin ibu, ibu masih sehat-sehat aja, teh manis buatannya tadi pagi masih tersisa di gerahamku, lututku lemas, jemariku bergetar hebat, aku menjerit sekuat-kuatnya saat melihat tangan berbalut si kental merah darah, pedih sekali rasanya, sosok tak berdaya itu adalah wanita wonder women milikku, “ibuuuu !!! kenapa bu ?? kenapa ibu setega itu ? kenapa ibu tinggalin aku ? bagaimana hidupku jika tanpa ibu ! bu, bangun bu ! bangun!! Tolongg..!!! tolonggg..!!!” teriakan itu hanya menyisakan gaung tak berarti, Ibu tidak mungkih hidup kembali, sesungguhnya, setiap makhluk yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya, ibu, bagaimana mungkin aku menjalani hidupku sendirian tanpamu, bukankah ibu berjanji untuk menghadiri pembagian raportku minggu depan ? bukankah ibu berjanji akan membelikanku sepatu baru jika rangking 1 masih tetap di tangan ku ? apa yang harus ku lakukan dengan tubuh kurus tak bergizi ini bu ? apa yang dapat aku lakukan untuk memenuhi panggilan cacing-cacing di perutku ? lalu, bagaimana dengan biaya sekolahku bu ? bukannya ibu berjanji akan menyekolahkanku hingga menjadi seperti apa yang aku inginkan ? sekarang bagaimana bu ? pupus. musnah. tak berbekas.
Aku yang menyedihkan, ditinggal mati kedua orang tuaku, sebatang kara melewati alur-alur kehidupan yang kejam, menyambung nafas dengan tali-tali dermawan yang baik hatinya, uluran-uluran tangan bertanggung jawab menjadi titik terang dalam kegelapan, pendidikanku selesai enam tahun, dan kini saatnya bermetamorfosis, aku telah dewasa sebelum waktunya, aku memutuskan untuk mencari ‘makan’ dengan tanganku sendiri, sebagai manusia yang memilki harga diri dan rasa malu untuk terus mengharap dari orang lain, aku akan menghidupi diriku sendiri, aku malu dengan tuhanku, organ lengkap tanpa cacat satu-satunya harta yang paling berharga yang aku miliki, dengan bermodalkan tekad yang hanya sebiji sawi, aku memutuskan untuk menjadi buruh cuci keliling, rumah-rumah di desa seberang pun ku jajahi, tubuh yang memang tanpa gizi ini menjadi semakin ‘sehat’ dan ‘kuat’, berulang kali aku harus merecharge nya hingga beberapa hari karena ‘lowbat’, namun semangat juang untuk makan dan menyambung pendidikan berhasil mengalahkan keputusasaan, peluh peluh asin yang disulap menjadi uang kertas dengan gambar alat musik pecahan 5 ribuan yang  terkumpul akhirnya telah meluluskan aku di bangku tingkat pertama dan membawa pencerahan hingga ke tingkat selanjutnya.
Hidup masih harus berlangsung, aku harus tetap hidup, aku harus tetap punya mimpi, aku masih ingat dulu aku memiliki mimpi menjadi ‘tukang ngobatin’, dan itu tidak pernah pudar dalam ingatan, aku mengikuti program beasiswa di sekolahku dan itu memudahkan jalan fikiranku, aku tidak perlu lagi repot-repot memikirkan uang untuk sekolah, sekarang yang harus dicari adalah makan, karena makan untuk hidup, dengan tidak hidup maka mimpi itu tidak mungkin tersampaikan, bagaimana mungkin mimpi itu nyata sedangkan si pemilik mimpi telah ghaib dari kehidupan, dan dengan hasil dari cucian-cucian tadi, aku ‘jualan’ pulsa, sampai-sampai aku digelari N-KIOS, N yang berarti Nadya,hehe.. semua hasil keuntungan itu ditabung agar bisa terus menyambung hidup yang malang ini.
Aku pernah mendengar, entah pepatah atau semacamnya, katanya “ bermimpilah, maka Tuhan akan mengabulkan mimpimu ! “ itu juga jimat ampuh yang aku yakini bisa merubah jalan hidupku, itulah menggaapa aku merasa sangat pantas untuk memiliki mimpi seperti itu, kerikil-kerikil tajam dan berbahaya memang seringkali melintas di jalanan hidupku, namun, selalu saja ada jalanan yang mulus yang sedang disiapkan untukku di depan sana untuk menyemangatiku dan tidak mudah putus asa dalam hidup, aku tidak mungkin dapat bertahan hingga menjadi sekokoh ini jika bukan karena keajaiban-keajaiban yang selalu saja telah dihidangkan Tuhan untukku. Hari itu, sekolahku mendapat kesempatan mengirimkan15 orang terbaik di sekolah untuk mendapatkan program undangan untuk melanjutkan ke universitas, benar seperti kataku tadi, ada seseuatu di balik semua penderitaan ini, 3 minggu berlalu dan tibalah hari yang menegangkan itu,  “Nad, kamu kemarin pilih jurusan apa ? aku dengar kamu mau jadi dokter ya ? kamu optimis banget ya ? harusnya, kamu itu cermat dong ! yang kira-kira lulus aja kamu ambil ! jurusan itu kan tempatnya orang-orang ‘berada’,harusnya kamu…..” “iya Put, optimis itu memang perlu, semoga sukses ya Put, sampai ketemu !!” aku memilih menarik diri dari hadapan orang-orang yang terus menebarkan aura negative di telingaku, aku tidak ingin mengecewakan kedua orang tuaku, aku tidak ingin hidup terus-terusan seperti ini, aku tidak ingin apa yang aku alami, akan dirasakan pula oleh anak cucuku kelak.
“Alhamdulillah, aku diterima ! aku lulus ya Allah, Ayah, Ibu, anakmu lulus,” ini bukan lagi mimpi, ini nyata, berulang kali aku meyainkan diriku kalau ini semua tidak hanya khayalan, tapi ini benar-benar terjadi, aku memberitahukan kabar gembira ini ke semua kerabatku, tetangga-tetangggaku, aku benar-benar bahagia, inna ma’al usri yusra, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan, dan aku rasa, inilah saatnya mengganti semua peluh-peluh yang telah aku produksi dulu menjadi peluh-peluh baru yang akan lebih besar hasilnya, kebahagian itu belum cukup hingga aku mendapat kabar bahwa universitas mengadakan program beasiswa yang sangat menggirangkan jiwa, aku mencoba kesempatan itu dan lagi-lagi syukur tak henti hanya kepada Zat Maha Pemberi Rezeki.
Bagiku, tidak ada yang tidak mungkin, semua orang berhak menjadi pemenang, semua orang berhak atas kebahagian mereka, dan Tuhan tidak pernah memberikan apa yang kita inginkan, namun selalu mencurahkan apa yang kita butuhkan, karena semua yang dicurahkan-Nya, akan indah pada waktunya.
1 daun pandan, bahan dasar pembuat tikar pandan
2 panggilan untuk gadis kecil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar