Powered By Blogger

Rabu, 31 Oktober 2012

istana surga


Ma’hadku, Istana Surgaku
Oleh : Ida Maulina
“Excuse me, how long time left we will landing to Indonesia?” tanyaku kepada salah satu pramugari bertubuh langsing nan semampai itu, “it’s about 2 hours,” jelasnya kepadaku, “ok, thanks,” sebenarnya, sudah sekian lama aku menanti-nanti kesempatan ini, kesempatan untuk kembali melihat Zamrud Khatulistiwaku, kesempatan untuk mencium tanah airku, kesempatan untuk bertemu kembali dengan seluruh keluargaku, dan juga, kesempatan untuk menapaki kembali penjara suci atau lebih dikenal dengan pesantren yang telah membuat aku terbang dan melangkah sejauh ini, iya, sudah 6 tahun sejak aku meninggalkan Ma’had tercinta itu.
Bustanul Ulum, itu nama yang disematkan oleh Abu[1] yang pertama sekali mendirikannya pada era 70-an silam, letaknya kurang lebih 5 jam perjalanan dari rumahku, aku masih ingat saat-saat asyik dan berkenang itu. Semuanya.
“Pokoknya aku gak mau ma, titik! Mama tega banget sih sama aku, apa Mama gak sedih bakalan pisah sama aku, Mama jahat!” Itu aku, kira-kira 12 tahun yang lalu, saat aku baru saja menamatkan pendidikan sekolah dasar, dan kedua orang tuaku, memutuskan untuk membuangku ke sekolah Islam berasrama yang disebut pesantren, oh tidak, apa yang sebenarnya mereka rencanakan?
Aku terbilang nakal bin usil juga, namun, juga tidak bisa dibilang bodoh, dari junior, maksudku dari aku cilik, prestasi juara kelas itu selalu tersabet olehku, bukan bermaksud sombong atau yang lainnya, ini jelas akan mendukung alur ceritaku ke depannya nanti, nah, karena aku juga lumayan pintar, aku bertingkah seolah-olah aku bisa melakukan apapun, dan itu menyebabkan aku congkak terhadap kedua orang tuaku, aku sudah berani berkata-kata yang kurang enak sedikit didengar, hanya sedikit,dan juga membuat aku merasa bangga bisa sekolah di sekolah favorit manapun yang aku inginkan, nah, berlatar belakang itulah, aku jelas sekali menolak kehidupan berasrama, dan lagi, pesantren, kagak ada modern-moderennya, fikirku kolot waktu itu, dan lagi, juga karena kelakuanku yang sudah mulai aneh dan sepertinya memerlukan perbaikan, makanya orang tuaku merencanakan ini semua.
Semua yang terencanakan, maksudku mereka berdua, sepertinya sudah mendekati lampu hijau, kasian juga liat Mama godain aku tiap hari, kan gak ada salahnya cari pengalaman baru, “Kali ini Mama mau bicara serius sama kamu,Nai! Nailaa, ayo nak, turun dulu sayang!” ia memulai mukaddimah dan akhirnya sampai ke intinya, “semua itu untuk kebaikan kamu juga nak, Mama gak mau punya anak yang jagonya matematika doang, tapi gak pernah doain Mamanya, Mama juga gak mau punya anak yang dikenal oleh semua orang kerena sainsnya, tapi ia bahkan gak kenal sama Tuhannya sendiri, bahkan di pesantren nanti, kalau kamu tekun, kamu bahkan bisa jadi ilmuwan yang dikenal oleh semua manusia bumi dan manusia langit,sayang!”ceramahnya. Manusia langit? emang ada? Mama ada-ada aja deh, aku tersenyum dalam hati.
Well, akhirnya, aku, Naila Nailufa, resmi mendaftar dan mengikuti testing di sebuah pesantren modern, istilahnya aja gitu, modern, padahal jelas kuper banget, Bustanul Ulum yang terletak lumayan bikin lelah, 5 jam perjalanan dengan menggunakan mini bus dari rumahku. Hingga hari pengumuman itu pun tiba, dan namaku jelas terpampang disana, di sudut harian Serambi Indonesia. ah,aku udah duga, aku pasti lulus, namun, ada sematan yang lain disana, LULUS CADANGAN, what? Apa gak memalukan banget nih? Masak di pesantren kayak gitu aja aku lulus cadangan, padahal kemampuan yang aku punya pun bisa nembus SMP favorit di tempatku, ternyata, kerena aku kurang fasih mengaji, makanya aku diluluskan bersyarat seperti itu, huft, mereka hanya belum kenal siapa Naila.
Kakiku menapaki tanah ini untuk kedua kalinya, yang pertama untuk register dan test, and now, untuk nyantri disini, aku mencubit tanganku yang semakin membesar  ini , maksudku aku berbadan sehat, lihat saja tinggi badanku, Aw, ternyata sakit, its real man! Aku akan segera tinggal di asrama dengan sejuta peraturan gak masuk akal yang harus dipatuhi, pamong-pamong asrama yang menyeramkan, dan rumor yang menyatakan asrama itu kebanyakan berhantu. aku mundur, orangtuaku jelas saja tidak meyadari kakiku yang tidak bergerak sedari tadi, dan pastinya aku tertinggal di belakang, aih, mereka terlalu senang sih, “loh, Naila mana Ma?” Papaku kebingungan mencariku, “Loh Pa, tadi kan dia gandengan sama Papa, Papa gimana sih? cepetan cari Naila,Pa!”
Aku memang tidak lari, tapi aku memang hilang dari pandangan kedua orang tuaku, aku tersenyum geli melihat tingkah mereka, panjang cerita petak umpetnya, dan sekarang aku sudah berada dalam ruangan segi empat berukuran kurang lebih 4x6 meter dan berkomposisi penuh dengan lemari, tempat tidur bertingkat, dan pastinya sangat sempit bin sumpek,ugh.
Baiklah, singkat cerita, setelah beres-beres dan lainnya, aku yang menyedihkan akhirnya harus ditinggal pamit orang tuaku dan menjalani kehidupan sendiri, atau orang-orang sering menyebutnya menjadi mandiri, jujur. Mandiri apanya? Aku juga baru tamat pendidikan dasar, aku bisa apa ?
Baiklah, akan sedikit aku jelaskan tentang dunia Ma’had[2]ku ini, sebelumnya, karena ini pesantren modern, jadi pendidikan yang diterapkan adalah pendidikan seimbang,, yaitu dunia dan akhirat, berbeda dengan beberapa pesantren salafi[3]  di daerahku, yang hanya menerapkan sistem pendidikan dayah (akhirat) semata, karena seimbang, pastinya kegiatan yang ada di dunia pesantrenku ini juga hampir sama dengan kegiatan sekolah-sekolah lainnya yang bukan pesantern, hanya saja diperlengkap degan belajar agama dan kegiatan keislaman lainnya, dan juga, kerena ini adalah pesantren, santriwan dan santriwati[4] di tempat kami dipisahkan, aku bahkan tidak pernah melihat kepala mereka sekalipun, jelas saja, kami terpisah jarak beberapa kilo meter jauhnya.
Hari pertama di Ma’had, benar-benar merana, siapa juga yang biasanya bangun jam 4.30 Subuh, ngapain bo ? tapi itulah yang kami lakukan, kami harus mandi pagi-pagi sekali dan menuju mushalla kami yang terletak tidak jauh dari asrama tempat tinggalku, jelas saja aku menggerutu, kedinginan + ngantuk berat, itu yang aku rasakan di subuh pertama, bayangkan, kami harus membaca Al-ma’tsurat[5]  dan beberapa surat pilihan sebelum menunaikan shalat subuh,kelamaan kan ? kalian juga pasti akan mengatakan hal yang sama seperti orang tuaku, “ Itu kan untuk melatih kedisiplinan kamu juga sayang? Masak gitu aja kamu nyerah sih? kapan lagi kamu bisa nabung amalan kayak gitu kalau bukan di pesantren?” Huft, pilss deh !
Selesai dari amalan –amalan yang aku ceritakan tadi, ternyata banyak sekali hal-hal yang harus aku kerjakan, kakak-kakak mudabbirah[6] dari pengurus Lughah[7] mengumpulkan kami di lapangan basket, mulanya, aku mengira, kita bakalan disuruh main basket, wah, asik juga, pagi-pagi olahraga, ternyata eh ternyata, aku kaget setelah dibagikan notes kecil dan pulpen, buat apa ? ternyata setiap pagi, selama 15 menit kami harus melakukan muhadasah[8], belajar foreign language yaitu Arab dan Inggris dan menyetorkan kembali hafalan vocab yang telah dihafal, dan kebetulan, aku hobi banget sama English, dan tidak aneh juga kalau aku sering mendapatkan pujian dari kakak-kakak language[9], dan  ini menjadi titik awal perjalananku ke depan.
Jangan kira dengan hal yang aku ceritakan barusan, itu membuat kalian berpikir aku sudah betah dan menerima semua peraturan-peraturan di Ma’had ini, Oh ya, aku lupa cerita, aku menerima buku tebal bersampul biru yang diberikan kepada semua santri baru yang berisikan perundang-undangan kehidupan di penjara suci itu. Tidak boleh berpakaian mini di dalam kamar, bayangin aja, kamar pengap tanpa udara dan aku dengan piyama panjang, gerahnya terasa. Tidak boleh pacaran, aku yang lagi di masa puber, jelas saja berontak.  Tidak boleh menggunakan alat elektronik pribadi, hp, mp3, radio, waaa..serasa di tempat yang paling primif sedunia.
Sudah hampir seminggu aku berada disini, orang tuaku menjengukku hanya sempat seminggu sekali karena mereka bekerja, dan ini belum jatahnya untuk kunjungan, aku benar-benar merindukan mereka, setiap malam menjelang tidur, aku suka cengeng karena teringat mereka.
 Hari libur kami adalah hari Jumat, tidak seperti sekolah lainnya yang memiliki momen malam mingguan, pada hari Minggu, kami tetap sekolah seperti biasa, pelajaran di sekolahku menyenangkan, aku suka sekolahku, ternyata, mereka tidak seperti yang aku bayangkan, karena ini pesantren favorit, jadi banyak guru-guru berprestasi yang dikirimkan dari pulau Jawa dan sekitarnya untuk mengajar di sekolahku, mereka semua pintar-pintar dan berbakat, bahkan kebanyakan dari mereka adalah alumni dari PonPes juga yang telah diakui keberadaannya.
Sepanjang cerita tadi, aku belum menceritakan teman-temanku, di awal mula hari-hariku, aku memang tidak memiliki teman, karena aku anak yang pemberani, jadi kemana-kemana aku selalu sendiri, dan aku merasa nyaman dengan semua itu, hingga hari itu, kejadian yang paling sering menimpa anak pesantren, yaitu hilang sandal, terjadi menimpaku, seperti yang aku ceritakan sebelumnya, karena aku suka sendiri, jadi pulang pergi mushalla pun aku selalu sendiri, suatu hari, sandal kesayanganku hilang, padahal itu baru saja dibeli beberapa hari yang lalu, aku kebingungan mencari sandal di teras mushalla kami yang sangat luas itu, hingga akirnya, Ismaida, teman sekelasku, juga ikut mencari sandal jepit itu, aneh, kenapa dia mau menemaniku berlama-lama disini, bukannya ini sudah jadwalnya makan siang, apa dia gak lapar ? memangnya apa untungnya membantuku, toh, aku juga tidak pernah berfikir untuk menolongnya, gak kenal juga, aneh, fikirku kolot waktu itu. Ternyata itu menjadi awal persahabatan kami yang masih terjalin erat hingga sekarang, dia ternyata anak yang baik dan pintar, ia banyak membantuku dan menjadi pencerahan saat semuanya tiba-tiba menjadi gelap tak terarah.
Beberapa bulan lewat, tidak terasa, aku mulai betah dan merasa nyaman tinggal di ma’had tercintaku ini, bagiku, ada hal lain yang tidak aku temukan di sekolah lain tapi aku dapatkan disini, aku kembali membuka buku bersampul biru yang pernah ku hujat dulu, sejenak, aku berpikir, semuanya masuk akal, aku tidak diperkenankan mengenakan pakaian mini di dalam kamar, jelas saja, karena aku ini perempuan, semua bagian tubuhku ini aurat, dan itu akan membiasakanku untuk tidak mengenakan pakaian mini di luar kamar, kalau di dalam kamar saja aku bisa sopan, bagaimana lagi jika aku keluar kamar, Insya Allah, akan lebih terjaga. Tidak boleh pacaran, setelah beberapa minggu menuntut ilmu agama, aku baru tahu, tidak ada istilah pacaran dalam Islam, jelas saja, ini dilarang, toh, tidak sesuai syar’i, dan juga itu akan membuat aku lebih terjaga dari hal-hal keji yang biasanya terjadi pada anak seumuranku diluar sana. Tidak boleh menggunakan hp, Mp3, ipod,dll, ini akan membuat aku terjaga dari kelalaian, benda-benda itu akan mengalihkanku dari meja belajar dan membuat aku lalai,  sehingga aku tidak akan bisa belajar dengan focus dan mengukir sekian banyak prestasi seperti sekarang ini. Hp pun tidak aku perlukan, karena di Ma’had kami tersedia wartel yang bisa digunakan secara gratis oleh semua santri.
Seperti sekolah-sekolah lainnya, Ma’had kami juga memilki organisasi santri  seperti OSIM yang difungsikan untuk menampung segala kritik dan saran juga berbagai aspirasi dari seluruh kalangan santri, berbeda dengan sekolah lainnya, kerena di Ma’hadku ini terdiri dari santri kelas menengah pertama sepertiku dan menengah atas, maka yang menduduki jabatan kepengurusan ini tentu saja dari kakak-kakak menengah atas, banyak divisi yang mengatur perbidangan tertentu, seperti divisi Ibadah, divisi Bahasa, Keamanan, Kebersihan, dsb. Masing-masing divisi memiliki aturan-aturan sendiri yang mendukung satu sama lainnya, dan aturan-aturan itu tentu saja untuk mengikat dan membentuk kami menjadi lebih disiplin dan teratur.
Kehidupan asrama memang  kejam, namun, tidak akan membentuk pribadinya menjadi keras bak baja, apalagi dilengkapi dengan paket ibadah dan amalan setiap harinya, yang semakin membuat hati semakin lembut dan sesuai dengan contoh-contoh yang sering diteladankan Rasulullah, aku tidak pernah membayangkan , apa yang terjadi jika saat itu aku menolak tawaran orang tuaku untuk mencari pengalaman baru di pesantren, aku pasti akan menjadi anak termanja yang hanya bisa bergantung pada orang tuaku, bayangkan saja, di usiaku yang masih di bawah umur, aku harus mengatur keuanganku sendiri agar tercukupi semua kebutuhanku, dan juga di usiaku yang masih memerlukan bermanja-bermanja di pangkuan ibuku, aku harus rela untuk melakukan hal-hal yang lain yang lebih bermanfaat.
Singkat cerita, aku yang tadinya alergi dengan kehidupan Ma’had, ternyata sanggup bertahan hinnga menyelesaikan pendidikan tingkat menengah atas di Ma’had kami, seperti yang pernah aku banggakan sebelumnya, aku tidak terlalu bodoh untuk beradaptasi dengan lingkungan, aku mencoba mengikuti segala kompetisi yang diadakan di sekolahku, dan tidak sedikit hasil yang memuaskan yang aku raih, di bangku sekolah pun, aku berulangkali gonta-ganti peringkat pertama dengan Ismaida, sahabatku, dan juga, karena aku hobi English dari kecil, dan Alhamdulillah, berkemampuan di bidang Language, aku terpilih bersama Ismaida untuk menjadi pengurus bahasa di oganisasi Ma’had kami.
“Attention! to the all of Passenger, we will been in Indonesia in 2 minutes left,” notice itu terdengar dari awak pesawat,”Nai, bangun Nai, kita udah sampai nih !” Aku terbangun dibangunkannya, o ya, aku lupa cerita, selepas dari ma’had, dan melanjutkan pendidikan tinggi ke Fakultas Kedokteran, aku bertemu seseorang yang juga berasal dari Ma’had yang sama denganku dan sama-sama baru selesai ko-ass kedokteran , kami memutuskan untuk menikah dan melanjutkan pendidikan kami bersama-sama di Amsterdam beberapa tahun silam, dan sekarang, Ma’had mengadakan reuni terakbar yang mengundang seluruh alumni yang berada di seluruh penjuru dunia, untuk kembali melepas haru kerinduan yang hangat dan menyesakkan dada dari tempat mengenangkan itu, Ma’hadku, aku datang, istana surgaku.




[1] Pemimpin Pesantren ( Panggilan )
[2] Pondok Pesantren
[3] Pesantren yang system pendidikannya hanya mempelajari ilmu agama saja, tidak ada pendidikan   sekolah formal
[4] Santriwan = Santri laki-laki
Santriwati = Santri perempuan
[5] Doa-doa yang sering diamalkan Rasulullah
[6] Pengurus
[7] Bahasa
[8] Arti kata : berbicang-bincang, atau mempraktikkan bahasa asing yang telah dipelajarii
[9] Pengurus bahasa

aku dan tongkat kayu


Aku dan Tongkat Kayu
Mengenang Tragedi Simpang KKA
Oleh : Ida Maulina
Ada banyak hal yang terjadi di dunia ini sebenarnya tanpa kita sadari, dedaunan yang berguguran, pergerakan awan, dan tumbuhya benih-benih kehidupan. Namun, kita adalah nyata, semua ciptaan-Nya yang terlihat itu nyata.  Apa yang telah di takdirkan, itulah yang dituliskan untuk kita di monitor raksasa yang disebut Lawh Mahfuz, dan apa yang terjadi sekarang kepada ku juga telah di tetapkan sejak zaman Azali, negeriku, Indonesia, negeriku, tanah kelahiranku. Indonesia adalah negeri yang subur dengan SDA yang melimpah, tak terkecuali negeri Serambi Mekkah, negeri warisan Ulama.  Berbagai nikmat tanpa henti datang dari Zat yang Maha memberikan nikmat bagi siapa saja yang mensyukurinya. Dan dalam keadaan apapun, tetaplah menambah syukur, tongkat kayu yang telah 13 tahun menemaniku juga tidak pernah berhenti bersyukur karena telah berguna menopang hidupku.
 Aceh , 2 Mei 1999
”Mak, anteuk malam long jak bak dakwah beuh ?1  aku merengek meminta izin kepada wanita paling tulus dan teduh hatinya itu, ”Jeut, beu get-get neuk, I jak ngen abang beuh ! anteuk ie sitot sajan ayah beuh !”2  jawabnya dengan gurat sedikit khawatir kepadaku. Senang hati tak terkira diizinkan keluar untuk pertama kalinya, iya, sejak manusia berpakaian loreng-loreng hijau itu berkeliaran di tanah pusakaku,  Aceh, Ibu memang tidak pernah mengizinkanku keluar rumah.   
Masyarakat di daerahku yang masih kental dan fanatic terhadap agama, menganggap dakwah adalah kegiatan yang menyenangkan, dengan penceramah yang kocak membuat mereka sanggup bergadang dan berdesak-desakan untuk dapat mengahadiri acara tersebut, seperti persyaratan yang telah diajukan ibuku tadi, aku ditemanai kakak laki-lakiku, aih, malam itu semua ketakutan dan kegundahan yang biasanya di sepanjang hari menyerang kami, seakan hilang tak berbekas, gurat wajah bahagia karena kekocakan sang penceramah manghiasi seluruh wajah warga yang hadir pada acara tersebut. aih, bahagianya.
1 “Mak, nanti malam aku pergi ke acara ceramah ya ?”
2 “ Iya, hati-hati ya Sayang ? nanti pergi sama Abang aja, kalau udah sampek, langsung jumpai ayah ya ? “



















Bagaikan urutan anak tasbih yang terlepas dari ikatannya, berjatuhan begitu cepat, guratan bahagia itu telah berubah menjadi siaga dan ketakutan,  mereka datang kembali, mengawasi jalannya kegiatan kami, aku bergegas memeluk kakakku dan menangis karena ketakutan. Kemudian, aku melihat seseorang yang sangat dekat dengan fikiranku, sosok itu begitu kukenali walaupun dalam keadaan remang – remang , Ayah. Apa yang sedang ayah lakukan ? kenapa ayah menghampiri mereka ? kemudian, aku melihat  ayah mengerak-gerakkan tangannya seakan memberikan penjelasan, dan kemudian sepasang tangan kekar dari lawan bicaranya berhamburan ke tubuh sang penyelamat jiwaku itu, “Ayah !!!”  teriakku. Ayah terhempas karena pukulannya, Biadab ! segera aku berlari ke arah ayahku, tiba-tiba tangan ku di kepal kuat oleh tangan kekar itu, ternyata kakakku, nanti kalau mereka udah pergi, kita langsung gendong ayah ke rumah. Seperti di komando, aku mengikuti perintah kakakku, kemudian aku melihat punggung-pungung yang membelakangiku, mereka pergi. Tanpa menunggu komando selanjutnya, aku langsung berlari menghampiri ayah, “ayah!!!!” Teriakku lagi. Bulir bening di ujung kelopak mata ku menetes dengan derasnya, berbagai cacian, umpatan, dan kebencian yang memuncak memenuhi dadaku sehingga ia penuh dan membuatku sesak. kami kembali ke rumah. Malam 1 Muharram itu mengawali kejadian tragis hari-hari selanjutnya.
Mulai malam nyo, mak, adek, abang, han jeut tubit saho, na deungo ?3  ayahku dengan merintih sakit di bagian dekat bibirnya yang membengkak karena pukulan dari tangan ganas itu menasehati kami. Air mata ibuku sudah kering, ia sudah lelah menangis, selama beberapa tahun terakhir ini negeriku ditimpa ujian oleh Allah berupa ketakutan yang mencekam, disana-sini terdengar suara-suara yang menggelega “sip bos !”, jawabku manja . Setidaknya, malam ini aku hanya mendengar  dua kali suara suara yang biasanya mengalun indah sepenjang malam. Aku bersyukur, dalam keadaan mencekam seperti ini, aku masih di temani keluargaku, lengkap. Aku membayangkan apa yang akan terjadi jika aku mengalami nasib seperti Meutia, teman sekelasku. Mereka menghabisi keluarganya malam itu juga, tanpa menunggu mentari yang hangat yang akan menyinari keluarga itu untuk terakhir kalinya, oh tidak, aku tidak pernah membayangkan harus hidup sendiri saat saat seperti itu.
3 “Mulai malam ini, Mak, Abang, Adek, jangan ada yang keluar rumah ya ?”
Pagi itu, irama nyanyian burung masih sama seperti hari-hari kemarin, siang hari adalah waktunya melihat wajah-ajah yang lebih meneduhkan daripada malam hari, sudah lama aku merindukan sekolahku,  namun, teringat janji yang aku ucapkan pada ayah semalam, akhirnya aku membantu ibuku menjahit beberapa pasang pakaian untuk menopang hidup keluargaku semenjak ayah pensiunan. Semua terasa normal kembali jika matahari itu telah mengintip dari ufuk timur. Pagi hingga sore hari mereka jarang mengunjungi rumah-rumah seperti yang dilakukan pada malam hari. Namun, tidak untuk pagi itu.
“Tok..tok..tok..buka pintunya !!” woi, Shalahuddin ! buka pintunya !” kaget setengah mati, aku membuka pintu karena aku takut gedoran yang kuat itu akan membuat pintu rumah kami yang sudah lapuk itu hancur, dari jendela aku meghitung jumlah mereka, 3 orang, kulitnya yang gelap membuat aku bergidik ngeri.  “cari siapa ?” tanyaku ketus.  “Dek, ayahmu mana ?” tanya salah satu dari mereka yang memiliki wajah lebih beringas dari apapun,  tanpa mendengar jawabanku, mereka menerobos masuk, ”kurang ajar “,fikirku,  “memangnya mereka gak diajarkan pelajaran akidah akhlak apa di sekolah ?” “Shalahuddin, keluar !” aku bingung, kemana ayah ? kenapa ayah harus lari ? kemudian aku melihat wajah ayah di balik ruang shalat, ternyata ayah baru saja selesai shalat Dhuha, ibuku yang sedang menyelesaikan jahitannya langsung mendatangi kami yang bengong mengenai kedatangan mereka
“Hei pak, kamu mantan kepala desa, kamu pasti kenal dengan yang namanya Burhan ? “bentaknya di depan wajah ayahku, geram dengan tingkah mereka, aku meludahi mereka tepat di sepatunya, melihat aksiku yang tidak sopan, ayah segera memelukku, dan meminta maaf karena kalekuanku, “pak tentara, saya memang kenal dengan yang namanya Burhan, dia juga warga desa ini, dia dulu tingggal di dekat krueng4 di sebelah jalan raya itu, tapi sejak beberapa hari yang lalu, saya sudah tidak pernah melihat dia lagi, biasanya dia sering nampak di mesjid pak “! merasa tidak puas dengan jawaban sang pendekarku, benda berbentuk  runcing di bagian ujungnya itu tiba-tiba mengenai dada pahlawanku, cairan segar muncrat di seluruh tubuhku, jelas saja saat itu aku berada di pelukannya, ibuku yang schok  dan jantungan dengan keadaan tiba tiba jatuh tersungkur, “tidak !!!” teriak ku,” apa yang kalian lakukan pada ayahku  biadab ?” ayah, bangun !! mak, bangun mak !! mendengar suara tembakan dari dalam
4 Sungai
rumah, kakakku yang sedang berada di ladang dekat rumah, dalam sekejap telah tiba di pintu rumah, melihat noda merah bersimbah dimana-mana, parang5 yang memang sedang ia pegang, menghantam ke salah satu dari mereka, tidak terima dengan temannya yang terluka, timah panas itu kembali dilayangkan ke kepala satu-satunya saudara yang ku milki itu,sungguh murah harga peluru saat itu, dengan mudahnya mereka melayangkannya kepada siapa saja yang dijumpainya, dan dalam keadaan tidak berdosa, mereka meninggalkan mayat-mayat hasil keganasan mereka dan aku yang menjadi setengah mayat, aku bingung, kenapa mereka membiarkan aku hidup ? kenapa aku tidak bisa ikut dengan keluargaku kembali kepada Tuhanku bersama-sama ? ayah ! mak ! abang ! jangan tinggalin adek, adek takut sendiri mak, ayah, bangun, ku dekap dan ku cium semua wajah yang telah menyatu dengan cairan yang ada dalam tubuh mereka, air mataku seolah telah habis, suaraku hilang karena jeritan, sekarang apa ? ayah ! bangun yah, siapa lagi yang nganterin adek ke sikula6 kalau bukan ayah ! siapa yang akan lindungin adek kalau gelap datang, mak, jangan tinggalin adek mak ! mak gak sayang sama adek ya ? siapa yang sisirin rambut adek lagi mak ? siapa yang akan menyiapkan adek makan kalau bukan mak, bukannya mak udah janji mau dampingin adek waktu wisuda sekolah nanti ? abang, siapa yang akan  kawanin adek beli es gogo7  siapa yang bakal ajarin adek pelajaran IPS bang !  tanpa menunggu lama, rumah ku berubah menjadi laut merah dalam sekejap, orang-orang kampung berdatangan, jerit tangis mereka terdengar jelas di telingaku ? yang paling menyedihkan adalah “kasihan anak ini, siapa yang akan membiayai hidupnya sekarang ini ?” itulah kata-kata yang membuat aku masih sering menumpahkan butiran bening itu jika teringat kembali kejadian Mei 1999 itu, dalam hitungan menit, aku menjadi yatim piatu, aku menjadi papa, aku menjadi sebatang  kara.
5  Sejenis golok, senjata tajam
6 Sekolah
7 Es krim batangan

Matahari semakin memerah, semakin menyengat keadaan siang itu, tepat di atas ubun-ubun, Setelah sadar, aku telah berada di sebuah rumah yang rasanya tidak begitu asing, ini rumah Cut putri, teman sekelasku juga. Aku sering belajar kelompok disini,  Keluarganya sangat baik kepadaku, aku disuguhi makanan, dan Putri bersedia  meminjamkan bajunya  kepadaku, pagi itu aku sengaja diamankan dari tragedi berdarah di rumahku itu, keluargaku akan disemayamkan pada hari itu juga, aku yang mengetahui jenazah keluargaku sedang dimandikan di meunasah 8 dari orang tua Putri, langsung menjerit dan berlari ke  arah meunasah yang tidak jauh dari rumah Putri, kesedihan itu telah mencapai batasnya, lagi-lagi, aku sesak, isak tangis yang keluar dari bibirku sekan telah lelah dan meminta istirahat, aku melihat dalam kekaburan mataku karena dipenuhi dengan butiran bening itu, ibu Putri sedang mengejarku dari belakang, ia khawatir hal buruk akan terjadi padaku, benar saja, sebuah mobil sedan plat merah tiba-tiba menghantam tubuhku, ambruk dan terhempas sejauh 3  meter, aku merasa, Tuhan mendengarkan doaku, aku akan segera berkumpul bersama dengan keluargaku,” ayah, mak, abang, tunggu adek.” Mereka tersenyum dan aku berlarian ke  arah mereka, aku mencoba menggapai tangan ibuku, namun seakan terpisah oleh dinding tipis yang sulit untuk ditembus, aku menangis lagi, “aku tidak ingin pisah lagi dari ayah ! ayah, tolong bawa adek !” teriakku. namun, sia-sia.
Hinggga sekarang, aku tidak ingat berapa lama aku membuka mata kembali, yang terlihat pada waktu itu adalah tiang infus, tempat tidur yang aneh dan sangat berbeda dengan tempat tidur punyaku yang ayah belikan beberapa bulan yang lalu, dan bau yang sangat menyengat ini, oh, bau obat dan hawa rumah sakit, aku benci. Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya yang dari tadi berdiri di sampingku, mengagetkanku, “alhmdulillah, nak Muna udah sadar,” senyumnya yang tulus sedikit mengurangi kecemasanku, namun, ada yang aneh dengan tubuhku, aku merasa ada yang tidak bergerak saat aku bergerak, aku mengintip ke dalam selimutku, Astagfrullah, cobaan apa lagi ini ya Tuhan ? kemana kau bawa kaki ku ya Allah, kenapa kau hanya mengizinkan kakiku yang menyusul keluargaku, kenapa Kau tidak mengambil seluruh bagian tubuhku saja Ya Tuhan ? sekarang, apa yang bisa ku lakukan dengan tubuh yang tinggal separo ini ? dadaku kembali sesak, rasanya aku tidak mempunyai daya lagi untuk mengeluarkan air mata. Belum cukupkah Engkau memberikan aku ujian ya tuhan ? lalu kapan saatnya aku lulus dari ujian ini ? dan kapan saatnya derajatku engkau tinggikan Ya Allah. Ayah, anakmu ini kini semakin pendek, karena sebagian tubuhku meghilang, Ibu, tidakkah kau malu mempunyai anak yang cacat seperti ku ? Abang, masihkah kau mau mengajakku untuk jalan-jalan sore seperti biasanya ? apa aku akan menjadi seperti para peminta yang sangat mengeluk-elukan hati ketika melihatnya ? apa aku akan menjadi objek kasihan yang siap menerima sumbangan dari orang lain?
Pedih, hingga kepedihan itu berlalu perlahan demi perlahan, aku tidak peduli mereka masih ada atau tidak di kampungku, aku telah mengutuk mereka di hatiku . dan bersumpah tidak akan pernah menjadi benalu kehidupan seperti apa yang telah mereka lakukan terhadap keluargaku, mengedepankan amarah dan nafsu belaka dan membelakangkan hati nurani.
Aku bangkit dari pemakaman keluargaku, aku berjalan dengan kakiku yang luar biasa, kembali bekerja di sebuah toko buku di kotaku, di temani teman-teman yang selalu menebarkan suasana hangat di hatiku, Ayah, Mak, Abang, semoga Allah menempatkan kalian di tempat terkasih-Nya.

8 Surau, mesjid

Nama : Ida Maulina, Tempat/tgl lhir  : Lhokseumawe, 19 September 1993, Mahasiswa semester 2 Program Studi Ilmu Keperawatan (2011), Fakultas Kedokteran, UNSYIAH , Email : ida_moena@yahoo.com FB : Ida Moena Maulina ,Twitter : @Ida Moena Maulina, Blog www.idamoenamaulinablogspot.com