Ma’hadku, Istana Surgaku
Oleh : Ida Maulina
“Excuse me, how long time left we
will landing to Indonesia?” tanyaku kepada salah satu
pramugari bertubuh langsing nan semampai itu, “it’s about 2 hours,” jelasnya kepadaku, “ok, thanks,” sebenarnya, sudah sekian lama aku menanti-nanti
kesempatan ini, kesempatan untuk kembali melihat Zamrud Khatulistiwaku,
kesempatan untuk mencium tanah airku, kesempatan untuk bertemu kembali dengan
seluruh keluargaku, dan juga, kesempatan untuk menapaki kembali penjara suci
atau lebih dikenal dengan pesantren yang telah membuat aku terbang dan
melangkah sejauh ini, iya, sudah 6 tahun sejak aku meninggalkan Ma’had tercinta
itu.
Bustanul
Ulum, itu nama yang disematkan oleh Abu[1]
yang pertama sekali mendirikannya pada era 70-an silam, letaknya kurang lebih 5
jam perjalanan dari rumahku, aku masih ingat saat-saat asyik dan berkenang itu.
Semuanya.
“Pokoknya
aku gak mau ma, titik! Mama tega banget sih sama aku, apa Mama gak sedih bakalan
pisah sama aku, Mama jahat!” Itu aku, kira-kira 12 tahun yang lalu, saat aku
baru saja menamatkan pendidikan sekolah dasar, dan kedua orang tuaku,
memutuskan untuk membuangku ke
sekolah Islam berasrama yang disebut pesantren, oh tidak, apa yang sebenarnya
mereka rencanakan?
Aku
terbilang nakal bin usil juga, namun, juga tidak bisa dibilang bodoh, dari
junior, maksudku dari aku cilik, prestasi juara kelas itu selalu tersabet
olehku, bukan bermaksud sombong atau yang lainnya, ini jelas akan mendukung alur
ceritaku ke depannya nanti, nah, karena aku juga lumayan pintar, aku bertingkah
seolah-olah aku bisa melakukan apapun, dan itu menyebabkan aku congkak terhadap
kedua orang tuaku, aku sudah berani berkata-kata yang kurang enak sedikit didengar, hanya sedikit,dan
juga membuat aku merasa bangga bisa sekolah di sekolah favorit manapun yang aku
inginkan, nah, berlatar belakang itulah, aku jelas sekali menolak kehidupan
berasrama, dan lagi, pesantren, kagak ada modern-moderennya, fikirku kolot
waktu itu, dan lagi, juga karena kelakuanku yang sudah mulai aneh dan
sepertinya memerlukan perbaikan, makanya orang tuaku merencanakan ini semua.
Semua
yang terencanakan, maksudku mereka berdua, sepertinya sudah mendekati lampu
hijau, kasian juga liat Mama godain
aku tiap hari, kan gak ada salahnya cari pengalaman baru, “Kali ini Mama mau
bicara serius sama kamu,Nai! Nailaa, ayo nak, turun dulu sayang!” ia memulai
mukaddimah dan akhirnya sampai ke intinya, “semua itu untuk kebaikan kamu juga
nak, Mama gak mau punya anak yang jagonya matematika doang, tapi gak pernah
doain Mamanya, Mama juga gak mau punya anak yang dikenal oleh semua orang
kerena sainsnya, tapi ia bahkan gak kenal sama Tuhannya sendiri, bahkan di
pesantren nanti, kalau kamu tekun, kamu bahkan bisa jadi ilmuwan yang dikenal
oleh semua manusia bumi dan manusia langit,sayang!”ceramahnya. Manusia langit?
emang ada? Mama ada-ada aja deh, aku tersenyum dalam hati.
Well,
akhirnya, aku, Naila Nailufa, resmi mendaftar dan mengikuti testing di sebuah
pesantren modern, istilahnya aja gitu, modern, padahal jelas kuper banget, Bustanul
Ulum yang terletak lumayan bikin lelah, 5 jam perjalanan dengan menggunakan
mini bus dari rumahku. Hingga hari pengumuman itu pun tiba, dan namaku jelas
terpampang disana, di sudut harian Serambi Indonesia. ah,aku udah duga, aku
pasti lulus, namun, ada sematan yang lain disana, LULUS CADANGAN, what? Apa gak
memalukan banget nih? Masak di pesantren kayak gitu aja aku lulus cadangan,
padahal kemampuan yang aku punya pun bisa nembus SMP favorit di tempatku, ternyata,
kerena aku kurang fasih mengaji, makanya aku diluluskan bersyarat seperti itu,
huft, mereka hanya belum kenal siapa Naila.
Kakiku
menapaki tanah ini untuk kedua kalinya, yang pertama untuk register dan test,
and now, untuk nyantri disini, aku
mencubit tanganku yang semakin membesar
ini , maksudku aku berbadan sehat, lihat saja tinggi badanku, Aw,
ternyata sakit, its real man! Aku
akan segera tinggal di asrama dengan sejuta peraturan gak masuk akal yang harus
dipatuhi, pamong-pamong asrama yang menyeramkan, dan rumor yang menyatakan
asrama itu kebanyakan berhantu. aku mundur, orangtuaku jelas saja tidak
meyadari kakiku yang tidak bergerak sedari tadi, dan pastinya aku tertinggal di
belakang, aih, mereka terlalu senang sih, “loh, Naila mana Ma?” Papaku
kebingungan mencariku, “Loh Pa, tadi kan dia gandengan sama Papa, Papa gimana
sih? cepetan cari Naila,Pa!”
Aku
memang tidak lari, tapi aku memang hilang dari pandangan kedua orang tuaku, aku
tersenyum geli melihat tingkah mereka, panjang cerita petak umpetnya, dan
sekarang aku sudah berada dalam ruangan segi empat berukuran kurang lebih 4x6
meter dan berkomposisi penuh dengan lemari, tempat tidur bertingkat, dan
pastinya sangat sempit bin sumpek,ugh.
Baiklah,
singkat cerita, setelah beres-beres dan lainnya, aku yang menyedihkan akhirnya
harus ditinggal pamit orang tuaku dan menjalani kehidupan sendiri, atau
orang-orang sering menyebutnya menjadi mandiri, jujur. Mandiri apanya? Aku juga
baru tamat pendidikan dasar, aku bisa apa ?
Baiklah,
akan sedikit aku jelaskan tentang dunia Ma’had[2]ku
ini, sebelumnya, karena ini pesantren modern, jadi pendidikan yang diterapkan
adalah pendidikan seimbang,, yaitu dunia dan akhirat, berbeda dengan beberapa
pesantren salafi[3]
di daerahku, yang hanya menerapkan sistem
pendidikan dayah (akhirat) semata, karena seimbang, pastinya kegiatan yang ada
di dunia pesantrenku ini juga hampir sama dengan kegiatan sekolah-sekolah
lainnya yang bukan pesantern, hanya saja diperlengkap degan belajar agama dan
kegiatan keislaman lainnya, dan juga, kerena ini adalah pesantren, santriwan
dan santriwati[4]
di tempat kami dipisahkan, aku bahkan tidak pernah melihat kepala mereka
sekalipun, jelas saja, kami terpisah jarak beberapa kilo meter jauhnya.
Hari
pertama di Ma’had, benar-benar merana, siapa juga yang biasanya bangun jam 4.30
Subuh, ngapain bo ? tapi itulah yang kami lakukan, kami harus mandi pagi-pagi
sekali dan menuju mushalla kami yang terletak tidak jauh dari asrama tempat
tinggalku, jelas saja aku menggerutu, kedinginan + ngantuk berat, itu yang aku
rasakan di subuh pertama, bayangkan, kami harus membaca Al-ma’tsurat[5]
dan beberapa surat pilihan sebelum
menunaikan shalat subuh,kelamaan kan ? kalian juga pasti akan mengatakan hal
yang sama seperti orang tuaku, “ Itu kan untuk melatih kedisiplinan kamu juga
sayang? Masak gitu aja kamu nyerah sih? kapan lagi kamu bisa nabung amalan
kayak gitu kalau bukan di pesantren?” Huft, pilss deh !
Selesai
dari amalan –amalan yang aku ceritakan tadi, ternyata banyak sekali hal-hal
yang harus aku kerjakan, kakak-kakak mudabbirah[6]
dari pengurus Lughah[7]
mengumpulkan kami di lapangan basket, mulanya, aku mengira, kita bakalan
disuruh main basket, wah, asik juga, pagi-pagi olahraga, ternyata eh ternyata,
aku kaget setelah dibagikan notes kecil dan pulpen, buat apa ? ternyata setiap
pagi, selama 15 menit kami harus melakukan muhadasah[8],
belajar foreign language yaitu Arab
dan Inggris dan menyetorkan kembali hafalan vocab yang telah dihafal, dan
kebetulan, aku hobi banget sama English, dan tidak aneh juga kalau aku sering
mendapatkan pujian dari kakak-kakak language[9],
dan ini menjadi titik awal perjalananku
ke depan.
Jangan
kira dengan hal yang aku ceritakan barusan, itu membuat kalian berpikir aku
sudah betah dan menerima semua peraturan-peraturan di Ma’had ini, Oh ya, aku
lupa cerita, aku menerima buku tebal bersampul biru yang diberikan kepada semua
santri baru yang berisikan perundang-undangan kehidupan di penjara suci itu.
Tidak boleh berpakaian mini di dalam kamar, bayangin aja, kamar pengap tanpa
udara dan aku dengan piyama panjang, gerahnya terasa. Tidak boleh pacaran, aku
yang lagi di masa puber, jelas saja berontak.
Tidak boleh menggunakan alat elektronik pribadi, hp, mp3, radio,
waaa..serasa di tempat yang paling primif sedunia.
Sudah
hampir seminggu aku berada disini, orang tuaku menjengukku hanya sempat seminggu
sekali karena mereka bekerja, dan ini belum jatahnya untuk kunjungan, aku
benar-benar merindukan mereka, setiap malam menjelang tidur, aku suka cengeng
karena teringat mereka.
Hari libur kami adalah hari Jumat, tidak
seperti sekolah lainnya yang memiliki momen malam mingguan, pada hari Minggu, kami
tetap sekolah seperti biasa, pelajaran di sekolahku menyenangkan, aku suka
sekolahku, ternyata, mereka tidak seperti yang aku bayangkan, karena ini
pesantren favorit, jadi banyak guru-guru berprestasi yang dikirimkan dari pulau
Jawa dan sekitarnya untuk mengajar di sekolahku, mereka semua pintar-pintar dan
berbakat, bahkan kebanyakan dari mereka adalah alumni dari PonPes juga yang
telah diakui keberadaannya.
Sepanjang
cerita tadi, aku belum menceritakan teman-temanku, di awal mula hari-hariku,
aku memang tidak memiliki teman, karena aku anak yang pemberani, jadi
kemana-kemana aku selalu sendiri, dan aku merasa nyaman dengan semua itu, hingga
hari itu, kejadian yang paling sering menimpa anak pesantren, yaitu hilang
sandal, terjadi menimpaku, seperti yang aku ceritakan sebelumnya, karena aku
suka sendiri, jadi pulang pergi mushalla pun aku selalu sendiri, suatu hari,
sandal kesayanganku hilang, padahal itu baru saja dibeli beberapa hari yang lalu,
aku kebingungan mencari sandal di teras mushalla kami yang sangat luas itu,
hingga akirnya, Ismaida, teman sekelasku, juga ikut mencari sandal jepit itu,
aneh, kenapa dia mau menemaniku berlama-lama disini, bukannya ini sudah
jadwalnya makan siang, apa dia gak lapar ? memangnya apa untungnya membantuku,
toh, aku juga tidak pernah berfikir untuk menolongnya, gak kenal juga, aneh, fikirku
kolot waktu itu. Ternyata itu menjadi awal persahabatan kami yang masih
terjalin erat hingga sekarang, dia ternyata anak yang baik dan pintar, ia
banyak membantuku dan menjadi pencerahan saat semuanya tiba-tiba menjadi gelap
tak terarah.
Beberapa
bulan lewat, tidak terasa, aku mulai betah dan merasa nyaman tinggal di ma’had
tercintaku ini, bagiku, ada hal lain yang tidak aku temukan di sekolah lain
tapi aku dapatkan disini, aku kembali membuka buku bersampul biru yang pernah
ku hujat dulu, sejenak, aku berpikir, semuanya masuk akal, aku tidak
diperkenankan mengenakan pakaian mini di dalam kamar, jelas saja, karena aku ini
perempuan, semua bagian tubuhku ini aurat, dan itu akan membiasakanku untuk
tidak mengenakan pakaian mini di luar kamar, kalau di dalam kamar saja aku bisa
sopan, bagaimana lagi jika aku keluar kamar, Insya Allah, akan lebih terjaga. Tidak
boleh pacaran, setelah beberapa minggu menuntut ilmu agama, aku baru tahu,
tidak ada istilah pacaran dalam Islam, jelas saja, ini dilarang, toh, tidak
sesuai syar’i, dan juga itu akan membuat aku lebih terjaga dari hal-hal keji
yang biasanya terjadi pada anak seumuranku diluar sana. Tidak boleh menggunakan
hp, Mp3, ipod,dll, ini akan membuat aku terjaga dari kelalaian, benda-benda itu
akan mengalihkanku dari meja belajar dan membuat aku lalai, sehingga aku tidak akan bisa belajar dengan
focus dan mengukir sekian banyak prestasi seperti sekarang ini. Hp pun tidak
aku perlukan, karena di Ma’had kami tersedia wartel yang bisa digunakan secara
gratis oleh semua santri.
Seperti
sekolah-sekolah lainnya, Ma’had kami juga memilki organisasi santri seperti OSIM yang difungsikan untuk menampung
segala kritik dan saran juga berbagai aspirasi dari seluruh kalangan santri,
berbeda dengan sekolah lainnya, kerena di Ma’hadku ini terdiri dari santri
kelas menengah pertama sepertiku dan menengah atas, maka yang menduduki jabatan
kepengurusan ini tentu saja dari kakak-kakak menengah atas, banyak divisi yang
mengatur perbidangan tertentu, seperti divisi Ibadah, divisi Bahasa, Keamanan,
Kebersihan, dsb. Masing-masing divisi memiliki aturan-aturan sendiri yang
mendukung satu sama lainnya, dan aturan-aturan itu tentu saja untuk mengikat dan
membentuk kami menjadi lebih disiplin dan teratur.
Kehidupan
asrama memang kejam, namun, tidak akan
membentuk pribadinya menjadi keras bak baja, apalagi dilengkapi dengan paket
ibadah dan amalan setiap harinya, yang semakin membuat hati semakin lembut dan
sesuai dengan contoh-contoh yang sering diteladankan Rasulullah, aku tidak
pernah membayangkan , apa yang terjadi jika saat itu aku menolak tawaran orang
tuaku untuk mencari pengalaman baru di pesantren, aku pasti akan menjadi anak
termanja yang hanya bisa bergantung pada orang tuaku, bayangkan saja, di usiaku
yang masih di bawah umur, aku harus mengatur keuanganku sendiri agar tercukupi
semua kebutuhanku, dan juga di usiaku yang masih memerlukan bermanja-bermanja
di pangkuan ibuku, aku harus rela untuk melakukan hal-hal yang lain yang lebih
bermanfaat.
Singkat
cerita, aku yang tadinya alergi dengan kehidupan Ma’had, ternyata sanggup
bertahan hinnga menyelesaikan pendidikan tingkat menengah atas di Ma’had kami,
seperti yang pernah aku banggakan sebelumnya, aku tidak terlalu bodoh untuk
beradaptasi dengan lingkungan, aku mencoba mengikuti segala kompetisi yang
diadakan di sekolahku, dan tidak sedikit hasil yang memuaskan yang aku raih, di
bangku sekolah pun, aku berulangkali gonta-ganti peringkat pertama dengan
Ismaida, sahabatku, dan juga, karena aku hobi English dari kecil, dan
Alhamdulillah, berkemampuan di bidang Language,
aku terpilih bersama Ismaida untuk menjadi pengurus bahasa di oganisasi Ma’had kami.
“Attention! to the all of
Passenger, we will been in Indonesia in 2 minutes left,”
notice itu terdengar dari awak pesawat,”Nai, bangun Nai, kita udah sampai nih
!” Aku terbangun dibangunkannya, o ya, aku lupa cerita, selepas dari ma’had,
dan melanjutkan pendidikan tinggi ke Fakultas Kedokteran, aku bertemu seseorang
yang juga berasal dari Ma’had yang sama denganku dan sama-sama baru selesai
ko-ass kedokteran , kami memutuskan untuk menikah dan melanjutkan pendidikan
kami bersama-sama di Amsterdam beberapa tahun silam, dan sekarang, Ma’had
mengadakan reuni terakbar yang mengundang seluruh alumni yang berada di seluruh
penjuru dunia, untuk kembali melepas haru kerinduan yang hangat dan menyesakkan
dada dari tempat mengenangkan itu, Ma’hadku, aku datang, istana surgaku.
[1] Pemimpin Pesantren ( Panggilan )
[2] Pondok Pesantren
[3] Pesantren yang system
pendidikannya hanya mempelajari ilmu agama saja, tidak ada pendidikan sekolah formal
[4] Santriwan = Santri laki-laki
Santriwati
= Santri perempuan
[5] Doa-doa yang sering diamalkan
Rasulullah
[6] Pengurus
[7] Bahasa
[8] Arti kata : berbicang-bincang,
atau mempraktikkan bahasa asing yang telah dipelajarii
[9] Pengurus bahasa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar