Powered By Blogger

Rabu, 31 Oktober 2012

istana surga


Ma’hadku, Istana Surgaku
Oleh : Ida Maulina
“Excuse me, how long time left we will landing to Indonesia?” tanyaku kepada salah satu pramugari bertubuh langsing nan semampai itu, “it’s about 2 hours,” jelasnya kepadaku, “ok, thanks,” sebenarnya, sudah sekian lama aku menanti-nanti kesempatan ini, kesempatan untuk kembali melihat Zamrud Khatulistiwaku, kesempatan untuk mencium tanah airku, kesempatan untuk bertemu kembali dengan seluruh keluargaku, dan juga, kesempatan untuk menapaki kembali penjara suci atau lebih dikenal dengan pesantren yang telah membuat aku terbang dan melangkah sejauh ini, iya, sudah 6 tahun sejak aku meninggalkan Ma’had tercinta itu.
Bustanul Ulum, itu nama yang disematkan oleh Abu[1] yang pertama sekali mendirikannya pada era 70-an silam, letaknya kurang lebih 5 jam perjalanan dari rumahku, aku masih ingat saat-saat asyik dan berkenang itu. Semuanya.
“Pokoknya aku gak mau ma, titik! Mama tega banget sih sama aku, apa Mama gak sedih bakalan pisah sama aku, Mama jahat!” Itu aku, kira-kira 12 tahun yang lalu, saat aku baru saja menamatkan pendidikan sekolah dasar, dan kedua orang tuaku, memutuskan untuk membuangku ke sekolah Islam berasrama yang disebut pesantren, oh tidak, apa yang sebenarnya mereka rencanakan?
Aku terbilang nakal bin usil juga, namun, juga tidak bisa dibilang bodoh, dari junior, maksudku dari aku cilik, prestasi juara kelas itu selalu tersabet olehku, bukan bermaksud sombong atau yang lainnya, ini jelas akan mendukung alur ceritaku ke depannya nanti, nah, karena aku juga lumayan pintar, aku bertingkah seolah-olah aku bisa melakukan apapun, dan itu menyebabkan aku congkak terhadap kedua orang tuaku, aku sudah berani berkata-kata yang kurang enak sedikit didengar, hanya sedikit,dan juga membuat aku merasa bangga bisa sekolah di sekolah favorit manapun yang aku inginkan, nah, berlatar belakang itulah, aku jelas sekali menolak kehidupan berasrama, dan lagi, pesantren, kagak ada modern-moderennya, fikirku kolot waktu itu, dan lagi, juga karena kelakuanku yang sudah mulai aneh dan sepertinya memerlukan perbaikan, makanya orang tuaku merencanakan ini semua.
Semua yang terencanakan, maksudku mereka berdua, sepertinya sudah mendekati lampu hijau, kasian juga liat Mama godain aku tiap hari, kan gak ada salahnya cari pengalaman baru, “Kali ini Mama mau bicara serius sama kamu,Nai! Nailaa, ayo nak, turun dulu sayang!” ia memulai mukaddimah dan akhirnya sampai ke intinya, “semua itu untuk kebaikan kamu juga nak, Mama gak mau punya anak yang jagonya matematika doang, tapi gak pernah doain Mamanya, Mama juga gak mau punya anak yang dikenal oleh semua orang kerena sainsnya, tapi ia bahkan gak kenal sama Tuhannya sendiri, bahkan di pesantren nanti, kalau kamu tekun, kamu bahkan bisa jadi ilmuwan yang dikenal oleh semua manusia bumi dan manusia langit,sayang!”ceramahnya. Manusia langit? emang ada? Mama ada-ada aja deh, aku tersenyum dalam hati.
Well, akhirnya, aku, Naila Nailufa, resmi mendaftar dan mengikuti testing di sebuah pesantren modern, istilahnya aja gitu, modern, padahal jelas kuper banget, Bustanul Ulum yang terletak lumayan bikin lelah, 5 jam perjalanan dengan menggunakan mini bus dari rumahku. Hingga hari pengumuman itu pun tiba, dan namaku jelas terpampang disana, di sudut harian Serambi Indonesia. ah,aku udah duga, aku pasti lulus, namun, ada sematan yang lain disana, LULUS CADANGAN, what? Apa gak memalukan banget nih? Masak di pesantren kayak gitu aja aku lulus cadangan, padahal kemampuan yang aku punya pun bisa nembus SMP favorit di tempatku, ternyata, kerena aku kurang fasih mengaji, makanya aku diluluskan bersyarat seperti itu, huft, mereka hanya belum kenal siapa Naila.
Kakiku menapaki tanah ini untuk kedua kalinya, yang pertama untuk register dan test, and now, untuk nyantri disini, aku mencubit tanganku yang semakin membesar  ini , maksudku aku berbadan sehat, lihat saja tinggi badanku, Aw, ternyata sakit, its real man! Aku akan segera tinggal di asrama dengan sejuta peraturan gak masuk akal yang harus dipatuhi, pamong-pamong asrama yang menyeramkan, dan rumor yang menyatakan asrama itu kebanyakan berhantu. aku mundur, orangtuaku jelas saja tidak meyadari kakiku yang tidak bergerak sedari tadi, dan pastinya aku tertinggal di belakang, aih, mereka terlalu senang sih, “loh, Naila mana Ma?” Papaku kebingungan mencariku, “Loh Pa, tadi kan dia gandengan sama Papa, Papa gimana sih? cepetan cari Naila,Pa!”
Aku memang tidak lari, tapi aku memang hilang dari pandangan kedua orang tuaku, aku tersenyum geli melihat tingkah mereka, panjang cerita petak umpetnya, dan sekarang aku sudah berada dalam ruangan segi empat berukuran kurang lebih 4x6 meter dan berkomposisi penuh dengan lemari, tempat tidur bertingkat, dan pastinya sangat sempit bin sumpek,ugh.
Baiklah, singkat cerita, setelah beres-beres dan lainnya, aku yang menyedihkan akhirnya harus ditinggal pamit orang tuaku dan menjalani kehidupan sendiri, atau orang-orang sering menyebutnya menjadi mandiri, jujur. Mandiri apanya? Aku juga baru tamat pendidikan dasar, aku bisa apa ?
Baiklah, akan sedikit aku jelaskan tentang dunia Ma’had[2]ku ini, sebelumnya, karena ini pesantren modern, jadi pendidikan yang diterapkan adalah pendidikan seimbang,, yaitu dunia dan akhirat, berbeda dengan beberapa pesantren salafi[3]  di daerahku, yang hanya menerapkan sistem pendidikan dayah (akhirat) semata, karena seimbang, pastinya kegiatan yang ada di dunia pesantrenku ini juga hampir sama dengan kegiatan sekolah-sekolah lainnya yang bukan pesantern, hanya saja diperlengkap degan belajar agama dan kegiatan keislaman lainnya, dan juga, kerena ini adalah pesantren, santriwan dan santriwati[4] di tempat kami dipisahkan, aku bahkan tidak pernah melihat kepala mereka sekalipun, jelas saja, kami terpisah jarak beberapa kilo meter jauhnya.
Hari pertama di Ma’had, benar-benar merana, siapa juga yang biasanya bangun jam 4.30 Subuh, ngapain bo ? tapi itulah yang kami lakukan, kami harus mandi pagi-pagi sekali dan menuju mushalla kami yang terletak tidak jauh dari asrama tempat tinggalku, jelas saja aku menggerutu, kedinginan + ngantuk berat, itu yang aku rasakan di subuh pertama, bayangkan, kami harus membaca Al-ma’tsurat[5]  dan beberapa surat pilihan sebelum menunaikan shalat subuh,kelamaan kan ? kalian juga pasti akan mengatakan hal yang sama seperti orang tuaku, “ Itu kan untuk melatih kedisiplinan kamu juga sayang? Masak gitu aja kamu nyerah sih? kapan lagi kamu bisa nabung amalan kayak gitu kalau bukan di pesantren?” Huft, pilss deh !
Selesai dari amalan –amalan yang aku ceritakan tadi, ternyata banyak sekali hal-hal yang harus aku kerjakan, kakak-kakak mudabbirah[6] dari pengurus Lughah[7] mengumpulkan kami di lapangan basket, mulanya, aku mengira, kita bakalan disuruh main basket, wah, asik juga, pagi-pagi olahraga, ternyata eh ternyata, aku kaget setelah dibagikan notes kecil dan pulpen, buat apa ? ternyata setiap pagi, selama 15 menit kami harus melakukan muhadasah[8], belajar foreign language yaitu Arab dan Inggris dan menyetorkan kembali hafalan vocab yang telah dihafal, dan kebetulan, aku hobi banget sama English, dan tidak aneh juga kalau aku sering mendapatkan pujian dari kakak-kakak language[9], dan  ini menjadi titik awal perjalananku ke depan.
Jangan kira dengan hal yang aku ceritakan barusan, itu membuat kalian berpikir aku sudah betah dan menerima semua peraturan-peraturan di Ma’had ini, Oh ya, aku lupa cerita, aku menerima buku tebal bersampul biru yang diberikan kepada semua santri baru yang berisikan perundang-undangan kehidupan di penjara suci itu. Tidak boleh berpakaian mini di dalam kamar, bayangin aja, kamar pengap tanpa udara dan aku dengan piyama panjang, gerahnya terasa. Tidak boleh pacaran, aku yang lagi di masa puber, jelas saja berontak.  Tidak boleh menggunakan alat elektronik pribadi, hp, mp3, radio, waaa..serasa di tempat yang paling primif sedunia.
Sudah hampir seminggu aku berada disini, orang tuaku menjengukku hanya sempat seminggu sekali karena mereka bekerja, dan ini belum jatahnya untuk kunjungan, aku benar-benar merindukan mereka, setiap malam menjelang tidur, aku suka cengeng karena teringat mereka.
 Hari libur kami adalah hari Jumat, tidak seperti sekolah lainnya yang memiliki momen malam mingguan, pada hari Minggu, kami tetap sekolah seperti biasa, pelajaran di sekolahku menyenangkan, aku suka sekolahku, ternyata, mereka tidak seperti yang aku bayangkan, karena ini pesantren favorit, jadi banyak guru-guru berprestasi yang dikirimkan dari pulau Jawa dan sekitarnya untuk mengajar di sekolahku, mereka semua pintar-pintar dan berbakat, bahkan kebanyakan dari mereka adalah alumni dari PonPes juga yang telah diakui keberadaannya.
Sepanjang cerita tadi, aku belum menceritakan teman-temanku, di awal mula hari-hariku, aku memang tidak memiliki teman, karena aku anak yang pemberani, jadi kemana-kemana aku selalu sendiri, dan aku merasa nyaman dengan semua itu, hingga hari itu, kejadian yang paling sering menimpa anak pesantren, yaitu hilang sandal, terjadi menimpaku, seperti yang aku ceritakan sebelumnya, karena aku suka sendiri, jadi pulang pergi mushalla pun aku selalu sendiri, suatu hari, sandal kesayanganku hilang, padahal itu baru saja dibeli beberapa hari yang lalu, aku kebingungan mencari sandal di teras mushalla kami yang sangat luas itu, hingga akirnya, Ismaida, teman sekelasku, juga ikut mencari sandal jepit itu, aneh, kenapa dia mau menemaniku berlama-lama disini, bukannya ini sudah jadwalnya makan siang, apa dia gak lapar ? memangnya apa untungnya membantuku, toh, aku juga tidak pernah berfikir untuk menolongnya, gak kenal juga, aneh, fikirku kolot waktu itu. Ternyata itu menjadi awal persahabatan kami yang masih terjalin erat hingga sekarang, dia ternyata anak yang baik dan pintar, ia banyak membantuku dan menjadi pencerahan saat semuanya tiba-tiba menjadi gelap tak terarah.
Beberapa bulan lewat, tidak terasa, aku mulai betah dan merasa nyaman tinggal di ma’had tercintaku ini, bagiku, ada hal lain yang tidak aku temukan di sekolah lain tapi aku dapatkan disini, aku kembali membuka buku bersampul biru yang pernah ku hujat dulu, sejenak, aku berpikir, semuanya masuk akal, aku tidak diperkenankan mengenakan pakaian mini di dalam kamar, jelas saja, karena aku ini perempuan, semua bagian tubuhku ini aurat, dan itu akan membiasakanku untuk tidak mengenakan pakaian mini di luar kamar, kalau di dalam kamar saja aku bisa sopan, bagaimana lagi jika aku keluar kamar, Insya Allah, akan lebih terjaga. Tidak boleh pacaran, setelah beberapa minggu menuntut ilmu agama, aku baru tahu, tidak ada istilah pacaran dalam Islam, jelas saja, ini dilarang, toh, tidak sesuai syar’i, dan juga itu akan membuat aku lebih terjaga dari hal-hal keji yang biasanya terjadi pada anak seumuranku diluar sana. Tidak boleh menggunakan hp, Mp3, ipod,dll, ini akan membuat aku terjaga dari kelalaian, benda-benda itu akan mengalihkanku dari meja belajar dan membuat aku lalai,  sehingga aku tidak akan bisa belajar dengan focus dan mengukir sekian banyak prestasi seperti sekarang ini. Hp pun tidak aku perlukan, karena di Ma’had kami tersedia wartel yang bisa digunakan secara gratis oleh semua santri.
Seperti sekolah-sekolah lainnya, Ma’had kami juga memilki organisasi santri  seperti OSIM yang difungsikan untuk menampung segala kritik dan saran juga berbagai aspirasi dari seluruh kalangan santri, berbeda dengan sekolah lainnya, kerena di Ma’hadku ini terdiri dari santri kelas menengah pertama sepertiku dan menengah atas, maka yang menduduki jabatan kepengurusan ini tentu saja dari kakak-kakak menengah atas, banyak divisi yang mengatur perbidangan tertentu, seperti divisi Ibadah, divisi Bahasa, Keamanan, Kebersihan, dsb. Masing-masing divisi memiliki aturan-aturan sendiri yang mendukung satu sama lainnya, dan aturan-aturan itu tentu saja untuk mengikat dan membentuk kami menjadi lebih disiplin dan teratur.
Kehidupan asrama memang  kejam, namun, tidak akan membentuk pribadinya menjadi keras bak baja, apalagi dilengkapi dengan paket ibadah dan amalan setiap harinya, yang semakin membuat hati semakin lembut dan sesuai dengan contoh-contoh yang sering diteladankan Rasulullah, aku tidak pernah membayangkan , apa yang terjadi jika saat itu aku menolak tawaran orang tuaku untuk mencari pengalaman baru di pesantren, aku pasti akan menjadi anak termanja yang hanya bisa bergantung pada orang tuaku, bayangkan saja, di usiaku yang masih di bawah umur, aku harus mengatur keuanganku sendiri agar tercukupi semua kebutuhanku, dan juga di usiaku yang masih memerlukan bermanja-bermanja di pangkuan ibuku, aku harus rela untuk melakukan hal-hal yang lain yang lebih bermanfaat.
Singkat cerita, aku yang tadinya alergi dengan kehidupan Ma’had, ternyata sanggup bertahan hinnga menyelesaikan pendidikan tingkat menengah atas di Ma’had kami, seperti yang pernah aku banggakan sebelumnya, aku tidak terlalu bodoh untuk beradaptasi dengan lingkungan, aku mencoba mengikuti segala kompetisi yang diadakan di sekolahku, dan tidak sedikit hasil yang memuaskan yang aku raih, di bangku sekolah pun, aku berulangkali gonta-ganti peringkat pertama dengan Ismaida, sahabatku, dan juga, karena aku hobi English dari kecil, dan Alhamdulillah, berkemampuan di bidang Language, aku terpilih bersama Ismaida untuk menjadi pengurus bahasa di oganisasi Ma’had kami.
“Attention! to the all of Passenger, we will been in Indonesia in 2 minutes left,” notice itu terdengar dari awak pesawat,”Nai, bangun Nai, kita udah sampai nih !” Aku terbangun dibangunkannya, o ya, aku lupa cerita, selepas dari ma’had, dan melanjutkan pendidikan tinggi ke Fakultas Kedokteran, aku bertemu seseorang yang juga berasal dari Ma’had yang sama denganku dan sama-sama baru selesai ko-ass kedokteran , kami memutuskan untuk menikah dan melanjutkan pendidikan kami bersama-sama di Amsterdam beberapa tahun silam, dan sekarang, Ma’had mengadakan reuni terakbar yang mengundang seluruh alumni yang berada di seluruh penjuru dunia, untuk kembali melepas haru kerinduan yang hangat dan menyesakkan dada dari tempat mengenangkan itu, Ma’hadku, aku datang, istana surgaku.




[1] Pemimpin Pesantren ( Panggilan )
[2] Pondok Pesantren
[3] Pesantren yang system pendidikannya hanya mempelajari ilmu agama saja, tidak ada pendidikan   sekolah formal
[4] Santriwan = Santri laki-laki
Santriwati = Santri perempuan
[5] Doa-doa yang sering diamalkan Rasulullah
[6] Pengurus
[7] Bahasa
[8] Arti kata : berbicang-bincang, atau mempraktikkan bahasa asing yang telah dipelajarii
[9] Pengurus bahasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar