Berbicara mengenai kisah sepatu dan masa-masa sekolah dulu, mungkin campur aduk , aku gak bisa bilang ini cerita mengharukan,atau melo melo gimana gitu, dan gak terlihat lucu juga, hehe..entahlah, nikmatin aja
Tersebutlah pada zaman 1970 an, sebut saja namanya Hasan, dia adalah pamanku dari pihak ibu, kedekatan hubungan kami membuat proses wawanccara yang aku lakukan dengannya berjalan muu tanpa hambatan, pribadinya yang unik dan ngangenin membuatku merasa bangga memilki paman seperti beliau, dari dulu hingga sekarang, membuat sensasi yang membuat dirinya unik daripada orang lain adalah hobinya, pamanku adalah anak sulung dari enam berrsaudara, kakek dan nenekku adalah petani. Saat itu, semua nya terasa lebih dari cukup, dikarenakan harga barang yang masih sesuai dengan penghasilan setiap orang pada saat itu.
Pamanku bersekolah di SMPN yang tidak jauh dari rumahnya, dan mungkin cukup dengan berjalan kaki, bukan cukup, tapi memang gak ada kendaraan lain yang bisa digunakan. Semak belukar yang menutupi jalanan pintas saat itu membuat Paman harus membawa parang1 yang digunakannya untuk membersihkan jalan dan kemudian menitipnya di kebun belantara itu.
Sebenarnya tidak ada masalah dengan sepatunya, Pamanku mempunyai sepatu yang cukup tahan lama, bukan karena bahannya yang kuat atau tahan banting, bukan. Untuk mencapai sekolah yang berjarak lumayan dekat, hehe..ayah harus melewati lueng2 kami menyebutnya seperti itu, yang membatasi jarak antar keduannya, lueng itu memang tidak dalam, namun, ia tidak mempunyai jembatan atau semacamnya yang bisa diseberangi, permukaan airnya hanya sebatas betis orang dewasa, Pamanku yang tentunya masih belum dewasa menyebrangi lueng dengan permukaan air selututnya, sebelum ia mencapai lueng, ia membuka sepatunya dan menyelamkan kakinya dengan gaya bebas, gak, maksudku gaya batu ke dalam air yang lumayan keruh itu, lalu, setibanya di seberang, masih dengan kaki ayam, beliau mencari rumah penduduk yang berdekatan dengan lueng, for what ? ya cuci kaki lah, untuk apa lagi ? hehe.. karena rumah-rumah dulu di kampung halaman Pamanku, kamar mandinya itu di luar rumah, jadi, seperti kamar mandi umum yang hanya ditutupi dengan anyaman daun kelapa, dan juga tidak ada larangan untuk memanfaatkan sumber mata airnya, itulah kenapa sumber mata air dulu itu berkah, jarang kemarau, karena pemiliknya gak pelit seperti sekarang ini, hehe..sebenarnya gak ada kaitannya sih, hehe..begitulah peristiwa setiap hari *mode on Raihan ( peristiwa di subuh hari ) sepanjang hari. Itulah mengapa sepatunya tidak pernah rusak, ia melindunginya dari hantaman apapun,termasuk gangguan lueng tadi.
Sebenarnya aku bohong tentang jarak sekolahnya yang dekat, hehe..jangan serius kali bacanya, karena ini fakta, kemudian, setelah berjuang di lueng dan pembersihan sepatunya, ia berangkat menuju jalan raya, ia menunggu angkutan umum yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari kaki, maka, aku tidak pernah heran kenapa beliau selalu telat ke sekolahnya, angkutan datang dan Paman harus rela berdiri bahkan menggantung di pintu angkutan,bukan karena tidak ada tempat untuk duduk, bukan. Tapi untuk mengeringkan peluhnya yang menetes deras hingga membasahi bajunya karena kepanasan menunggu angkutan. Oh, alangkah indahnya perjuangan hidup.
Namun, semua hal itu tidak mematahkan semangat Pamanku untuk terus mengukir prestasi di bidang apapun, ia memang terkenal pejuang ke-telatan karena sering tiba di sekolah tidak tepat waktu, tapi ia cerdik, ia mengajak kawannnya belajar bersama dengan diiming-imingi traktiran, dan temannya yang mungkin tidak tahu keadaan ekonomi Pamanku langsung saja percaya akan bayarannya, sehingga ia tidak pernah ketinggalan pelajaran, ayahku memang tidak membayarnya makan bersama di kantin seperti yang anak muda lakukan sekarang, tapi dengan hasil pertanian kakek nenekku. Begitulah setiap hari.
Tiga tahun masa sekolah menengah pertama berlalu, keadaan semakin membaik, tapi tidak dengan kehidupan sekolah Pamanku, hingga tahun itu, belum ada sekolah lanjutan tingkat atas yang dibangun di daerah kampung halaman Paman, masih saja dengan ritual penyebrangan dan pembersihan kakinya, dan juga yang belum berubah, bergelantungan di pintu angkutan, hehe..
Masa SMA tiba dan hampir berakhir, namun semuanya masih sama, dan kedewasaan itu tiba menghampirinya yang saat itu mendekati 18 tahun, ia memutuskan mandiri, bukan mandi sendiri, hal itu tentu aja sudah diajrkan nenekku dari zaman kapan, tapi beliau dengan tekad bulat bak bakpau memutuskan untuk mencari penghasilan tambahan, biasa, laki-laki sejati itu memang harus seperti itu, pekerjaan pertama yang ia lakukan adalah seperti kebiasaan yang ia lakukan dahulu dan sekarang, yaitu menghirup udara segar di pintu angkutan umum itu, tapi bukan untuk mengeringkan keringat lagi, namun untuk menghasilkan keringat yang bisa disulap menjadi logam-logam ajaib yang sekarang mungkin tidak berguna lagi, bayangkan saja, uang jajannya saja hanya Rp.50, sekarang uang segitu bisa dapat apa say ? hehe..
Walaupun tinggal di udik, namun, cita-cita harus tinggi, Pamanku memang pejuang hebat, ia tidak pernah merasa kalah dengan keadaan, ia ingin selalu dapat mengungguli awan, matahari yang hendak tenggelam dan bulan yang akan muncul hehe..lebay banget, gak gitu-gitu kali lah.
Indahnya perjuangan hidup yang dilewatinya dalam menegakkan sedikitnya orang yang berpendidikan di kampung halamannya membuat ia semakin yakin dengan pilihan yang diambil, ia bertekad akan kuliah.
Masa-masa Arafiq
Arafiq ? gak kenal ya ? dia itu artis bollywood zaman kapan ya ? hehe..aku juga gak ingat, yang jelas Arafiq adalah kiblatnya trend orang-orang zaman itu. Mode pakaian yang sering dipakai Arafiq saat bermain film pada saat itu mungkin mirip dengan penampilan artis Tipe-x zaman sekarang . ( tipe-x, maaf ya ). Celana panjang yang memiliki lubang udara bak corong minyak di bagian bawah seakan-akan adalah hal yang paling keren saat itu. Trend itu terbukti diikuti oleh anak-anak muda yang ingin terlihat keren, tentu saja, Arafiq gitu loh. Dan tidak ketinggalan yang pastinya Pamanku yang satu itu.dengan bermodal uang yang didapatkannya dari sulapan keringat itu, ia memilih membeli sepatu baru, yang agak gaoel katanya, trend sepatu selutut waktu itu adalah high fashion, hampir semua anak muda waktu itu ke kampus dengan menggunakan sepatu banjir itu, ada cerita unik berdasarkan hasil anamnesa yang mendalam dengan beliau, sebenarnya belum banyak yang tahu tentang ini, kan tadi aku juga sudah bilang kalau beliau itu suka banget cari sensasi, agar ia dikenal oleh dosennya dan untuk mencari perhatian lingkungan sekitar, ia menggunakan paku payung yang berukuran kecil tentunya, di bawah sepatunya, jadi kebayang kan kalau beliau jalan, tuk..tuk..tuk…semua mata tertuju padanya, bukan, maksudku pada sepatunya yang mengeluarkan suara aneh seperti itu, hehe..
Begitulah kulasan singkat kisah hidup pamanku yang juga sekarang menjabat sebagai salah satu staf diBank terkemuka di Aceh.
1 Sejenis golok, senjata tajam
2 Sungai kecil
Namaku Ida Maulina, Tempat/tgl lhir : Lhokseumawe, 19 September 1993, Mahasiswa semester 2 Program Studi Ilmu Keperawatan (2011), Fakultas Kedokteran, UNSYIAH , Email : ida_moena@yahoo.com FB : Ida Moena Maulina ,Twitter : @Ida Moena Maulina, Blog www.idamoenamaulinablogspot.com

keren :)
BalasHapusterima kasih okky :D
BalasHapus